Mohon tunggu...
KOMENTAR
Love Pilihan

Tjiptadinata dan Roselina, Cinta yang Menginspirasi

11 Januari 2021   01:13 Diperbarui: 11 Januari 2021   02:13 268 46
Jujur saja saya tidak mengenal Pak Tjiptadinata Effendi dan juga Ibu Roselina secara langsung. Saya belum pernah bertemu muka, bercakap-cakap apalagi berjabat tangan dengan beliau berdua.
Saya mengenal beliau berdua hanya melalui platform blog keroyokan Kompasiana ini. Perkenalan kami terjalin melalui interaksi narasi dan literasi di Kompasiana. Tapi itulah kekuatan dari media sosial, bahwa dari interaksi literasi ini saya sepertinya telah mengenal beliau berdua secara utuh.
Sebelum saya lanjut bercerita tentang pandangan saya terhadap sosok Pak Tjipta dan Bu Roselina. Saya ingin sampaikan sedikit perjalanan saya di Kompasiana hingga mengenal Pak Tjipta dan Bu Rose.
Saya bergabung di Kompasiana sejak tahun 2013, awalnya saya semangat menulis meski hanya tiga sampai empat tulisan dalam seminggu. Namun berjalan beberapa bulan semangat menulis saya menguap, pasalnya dari banyak tulisan yang saya posting sangat jarang mendapat kunjungan, jarang yang voting apalagi mampir memberi komentar. Tulisan saya sebagian besar menjadi tulisan mubasir, yang jangankan diberi label oleh admin, bahkan dilirikpun kayaknya tidak. Saya jadinya hanya sebagai pembaca di Kompasiana saja, sangat jarang posting tulisan apalagi memberi vote dan komentar di artikel-artikel yang tayang.
Saya sudah mengetahui tentang Pak Tjipta, apalagi sejak beliau menjadi Kompasianer of the years tahun 2014. Dalam pandangan saya Pak Tjipta dan ada beberapa Kompasianer favorit di Kompasiana adalah seperti menara gading bagi saya, mereka menjulang tinggi namun tak tersentuh.
Saya mulai aktif lagi menulis di Kompasiana semenjak pandemi covid merebak, untuk mengisi waktu yang luang saat pemberlakuan social distancing di rumah saja. Dan hal yang tidak pernah saya bayangkan, bahwa Pak Tjipta dan Bu Rose begitu kerap mampir di artikel saya memberi vote dan juga sapaan akrab khas beliau berdua.
Dari situlah saya mulai merasa respek kepada beliau berdua. Beliau yang sudah senior bahkan maestro di Kompasiana masih berkenan menyapa dan mengapresiasi Kompasianer receh macam saya. Beliau saya lihat begitu rajin dan akrab menyapa semua Kompasianer tanpa membeda-bedakan. Beliau melakukan semua dengan segala kerendahan hati yang tulus, beliau melakukan semua itu tanpa tendensi, tidak atraktif dan juga tak berlebihan, semua beliau lakukan dengan wajar dan bersahaja dengan sapaan khas mereka.
Dari respek awal itu, saya jadinya mencurahkan perhatian lebih pada setiap artikel-artikel yang beliau berdua posting, dan saya mendapatkan kenyataan bahwa beliau berdua memang layak sebagai panutan. Keramahan beliau diperkuat oleh pandangan-pandangan positif beliau yang tertuang dalam artikel-artikel yang beliau berdua posting.
Saya akhirnya tahu bagaimana mereka berdua melalui perjalanan kehidupannya dengan banyak perjuangan berat namun selalu ada rasa optimis dalam menghadapinya. Bagaimana kesulitan mereka menghadapi anak yang lapar dalam keadaan kebanjiran, bagaimana mereka harus jatuh bangun membangun bisnis lalu kena tipu oleh rekan bisnis dan bahkan dari orang yang mereka percayai, bagaimana Pak Tjipta pernah merasakan pahitnya penjara karena difitnah oleh seseorang.
Saya juga begitu terkesan dengan "kemesraan" pasangan idola ini, bertamasya bersama mengelilingi Nusantara dan manca negara dalam kebersamaan yang membuat orang normal menjadi cemburu. Mereka bahu membahu membesarkan Reiki Indonesia yang mereka bentuk.
Apa yang saya tahu dari mengenal mereka melalui Kompasiana ini adalah suatu hal yang meminjam istilah dari produk permen nano-nano yakni "ramai rasanya".
Yah betul, ramai rasanya, kebersamaan yang mereka berdua tunjukkan adalah cinta yang menjadikan cemburu, rindu, malu dan inspirasi menyatu bagi saya.
Sebenarnya saya telah menulis satu puisi untuk beliau berdua, namun saya merasa kurang pede, sehingga puisi itu batal saya rilis untuk beliau berdua, puisi itu saya posting di Kompasiana dengan menghapus satu bait khusus untuk beliau berdua. Tapi malam ini saya mohon izin pada admin Kompasiana untuk mengutip kembali puisi yang telah tayang itu, untuk saya tautkan dalam artikel persembahan buat Pak Tjiptadinata Effendi dan Ibu Roselina ini.

             CINTA YANG SEPERTI APA YANG     MEMBUATMU TERINSPIRASI
(Persembahan khusus buat Pak Tjipta dan Bu Rose).

Aku bertanya pada hatiku
Cinta seperti apa yang membuatmu cemburu ?

Hatiku menjawab....
Aku cemburu pada cinta ikan kepada air
Cinta yang saling memberikan kehidupan
Ikan tak akan hidup tanpa air,
Dan air akan kehilangan kehidupan tanpa ikan

Aku bertanya pada hatiku
Cinta seperti apa yang membuatmu rindu ?

Hatiku menjawab....
Aku rindu pada cinta bintang kepada malam
Cinta yang saling berbagi keindahan
Bintang tak akan bersinar tanpa malam
Dan malam kehilangan indahnya tanpa bintang

Aku bertanya pada hatiku
Cinta seperti apa yang membuatmu malu ?

Hatiku menjawab....
Aku malu pada cinta laut kepada pantai
Cinta yang saling setia menunggu perjumpaan
Laut tak akan berhenti jika kehilangan pantai
Dan pantai kehilangan deburnya tanpa laut

Aku bertanya pada hatiku
Cinta seperti apa yang membuatmu terinspirasi

Hatiku menjawab....
Aku terinspirasi pada cinta Pak Tjipta kepada Bu Rose
Cinta yang saling menopang mengarungi kehidupan
Pak Tjipta tak akan bisa meraih bintang tanpa semangat Bu Rose bersamanya
Dan Bu Rose akan kehilangan semangat tanpa Pak Tjipta disampingnya.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun