Mohon tunggu...
KOMENTAR
Cerpen

Sayap Bidadari dari Lembaran-lembaran Buku Cinta

26 Oktober 2011   00:03 Diperbarui: 26 Juni 2015   00:30 226 2
Aku sendiri sampai sekarang tidak bisa mengerti dari mana Tuhan menitipkan kuasa berupa kekuatan kepada kami (Aku dan Kekasihku Dhea). Dalam rentang waktu masa kuliah Dhea yang hampir saja habis, atau hanya ada kesempatan dalam waktu 30 hari, Dhea diharus  menyelesaikan  Tugas Akhirnya yang  mustahil menjadi nyata. Namun sepertinya kehendak Tuhan berkata tidak sama. Tuhan telah memberikan sayap bidadariNya untuk menerbangkan kami ke langit kemustahilan, memetik bintang kenyataan bahwa tugas Akhir itu bisa terselesaikan dalam waktu yang ditentukan.

Aku dan  Dhea adalah relawan di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang intens dalam mendampingi anak-anak yang kurang beruntung. Sebuah ranah yang membuat kami berdua menemukan banyak sekali keindahan. Karena itulah, Dhea menjadi terlena untuk lama terdiam dan tidak juga beranjak dari kegiatan sosial mendampingi anak-anak, untuk mengerjakan Tugas Akhir. Mata Dhea seakan tidak dapat menjalankan fungsinya, telinganya juga tidak lagi mendengar nasehat-nasehat dari orangtua, saudara dan teman-teman yang yang terus menyuarakan agar Dhea untuk tidak menunda tugas akhirnya.

Sudah hampir 7 tahun berlalu Dhea kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta Jurusan Pendidikan Geografi tetapi terhambat menikmati rasa untuk berbagi dengan mendampingi anak-anak . Hampir semua mata kuliah hampir diselesaikan dengan lancar, dan mendapat nilai yang memuaskan dan sangat memuaskan, namun tidak untuk mengerjakan Tugas Akhir. Kakinya terus dilangkahkan dalam Lembaga Sosial SOS Children's Villages Yogyakarta sejak pasca gempa Bantul 2006 yang lalu hingga sekarang ini.

Hingga saat kami baru melepaskan penat setelah berkegiatan dalam kegiatan "Youth Super Camp" di  Taman Buah Mangunan. Dari dering Handphone Dhea terbaca sebuah pesan dari Dosen yang berisi tentang rentang waktu yang dipunyai Dhea untuk menyelesaikan Tugas akhirnya atau tidak akan mendapatkan sama sekali pengakuan dari almamaternya. Saat itu, aku yang juga  membaca sms itu secara langsung hanya terpaku. Sebagai tambatan hatinya pasti dituntut untuk dapat merasakan kebingungan yang Dhea alami, dan juga harus sekaligus harus memutar pikiran bagaimana mencari mukjizat.

Gamang tentunya. Bagaimana aku bisa membantu menyelasaikan tugas akhir Dhea, karena aku sendiri bukan dari disiplin ilmu geografi, khususnya geografi manusia. Ilmu Sosial tentu berbeda dengan Ilmu Pasti. Ilmu yang aku sendiri hampir belum pernah mendapatkan dalam masa belajarku dulu. Sungguh ini adalah pertentangan dan  peperangan dalam pikiranku yang sangat luar biasa. Aku seperti seorang prajurit yang maju ke medan perang yang besar tetapi hanya mempunyai senjata yang sederhana dan tidak cocok digunakan untuk menyelesaikan pertempuran itu. Disamping juga pertempuran itu harus dimenangkan dalam waktu yang sesingkat mungkin.

Kegemaranku akan membaca tentunya adalah senjata sederhana itu. Anggapanku bahwa betatapun sederhananya sebuah senjata tentu akan bisa bermanfaat untuk menyelesaikan pertempuran itu. Dari setumpuk buku dari Dhea yang berhubungan dengan topik tugas akhir, aku mulai membuka lembaran-lembaran asing. Sepertinya aku baru menyusun bulu-bulu untuk membuat sepasang sayap bidadari dari lembaran-lembaran Buku Cinta yang diberikan Dhea. Dan memang pertempuran itu berakhir dalam waktu yang ditentukan. Kami menang melawan diri kami sendiri.

Ironi bagi Dhea dan aku, karena dalam keseharian kami selalu berbagi untuk sesama, namun disaat kami membutuhkan pertolongan untuk diangkat dalam lubang keadaan yang tidak menguntungkan,  tidak ada tangan-tangan kuat yang mampu mengangkat kami. Kami pasrah di sisi tekad kami untuk terus berusaha dan berdo'a. Tuhan memang tidak pernah tidur. Maha Adil  yang selalu diberikanNya kepada kita. Aku bisa membuat sayap bidadari dari lembaran-lembaran buku cinta. Keindah dari membaca.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun