Mohon tunggu...
KOMENTAR
Cerpen

Melamar Janda Saimah

21 April 2012   16:15 Diperbarui: 25 Juni 2015   06:18 690 5
Dermaga Kamal telah puluhan kali menjadi saksi bisu kisah cinta Dullah dan Saimah. Seperti deburan ombak di selat Madura, hati Dullah  selalu berdebar - debar setiap berada di sisi Saimah. Seorang janda cantik pujaan hatinya, sejak  mereka bertemu pertama kali di Bangkalan. Dua hati terpaut erat di tepian dermaga. Hanya peluit panjang kapal Fery yang selalu berhasil memisahkan mereka berdua. Peluit sebagai tanda keberangkatan kapal  Fery Putri Koneng  di dermaga penyeberangan selat Madura.Di antara  riuhnya kehidupan Pelabuhan Kamal dan Tanjung Perak telah terukir kisah cinta. " Saimah, aku sudah bekerja berbulan - bulan di Surabaya hanya demi cintaku padamu" kata Dullah merayu Saimah. Saimah yang tertunduk malu- malu melirik wajah Dullah. " Bekerja apa di Surabaya Dullah?" tanya Saimah " Aku..hmmm ..usaha...mmm ... aku usaha antar jemput anak sekolah Imah" jawab Dullah pelan, ia nyaris berbohong. " Wah, aku bangga sekali padamu Dullah, sungguhkah kamu mau melamarku?" tanya Saimah berbunga- bunga. "Tentu saja Imah, cintaku sudah harga mati hanya untukmu seorang. Tak ada satupun wanita yang akan menggoyahkan niatku ini" Rayuan Dullah meluncur dengan dahsyat. " Tapi....." Saimah tidak melanjutkan ucapannya. Ia memainkan poni rambutnya dengan ujung  jemari. "Tapi apa Saimah, apa yang kamu inginkan dariku akan kuberikan sekalipun nyawa taruhannya" Sahut Dullah penasaran. " Aku ingin bersamamu tinggal di kota Dullah.Aku bosan hidup di desa. Boleh ya?" jawab Saimah manja. "Oh...tentu..tentu saja boleh Saimah sayangku, asalkan kamu terima lamaranku." jawab  Dullah panik campur bahagia. Dullah memeluk Saimah erat sambil berpikir keras bagaimana ia harus memulai bercerita yang sebenarnya. Ia cemas Saimah menolak lamarannya  jika tahu pekerjaannya  selama di kota. Hingga senja mereka berdua bercengkerama di tepian pantai. Burung burung Camar melayang semakin terbang jauh mengejar ombak yang timbul tenggelam, seperti pandangan mata Dullah yang mencoba mencari jawaban cintanya. Ah tetapi sekarang Dullah  sedang tidak mau pusing. Yang penting Saimah sudah berada dalam pelukannya. Akhirnya suatu hari Saimah ke Surabaya untuk  menjenguk tetangganya yang sakit bersama ibu - ibu PKK. Beramai- ramai mereka naik kapal Fery dari dermaga  Kamal ke pelabuhan Tanjung Perak. Kemudian mereka naik bus kota ke arah Joyoboyo. Saimah terperanjat saat bus kota berhenti tak jauh dari lampu merah. Matanya menatap wajah seseorang yang dia kenal. Itu Dullah! Tetapi mengapa dia menarik becak? Saimah nekad turun dari bus Kota. Ia berlari mengejar becak Dullah. " Dullaaaaaaaaaaaaaaahhhh..... Dullaaaaaaaaaaaaahhh..tunggu !" suara Saimah nyaris tenggelam diantara deru bising kendaraan dan klakson. Dullah menoleh. Wajahnya pucat pasi. Tiada disangka Saimah pujaan hatinya melihat dia sedang mengayuh becak. Dullah terus mempercepat laju becaknya. Malu dan rindu bercampur aduk menjadi satu. Saimah masih tetap mengejar di sepanjang trotoar. Ia tidak peduli menjadi tontonan banyak orang di jalan. Tepat saat lampu merah di perempatan berikutnya menyala, becak Dullah terjebak di tengah arus kendaraan. Saimah berlari mendekatinya. Akhirnya Dullah mengayuh becaknya ke pinggir trotoar, kakinya terasa semakin berat menggerakkan pedal becak. Keringat bercucuran sebesar biji jagung. Wajahnya seolah tanpa aliran darah. Disekanya keringat itu dengan handuk kumal di lehernya. Ia tetap menunduk dalam, tak sekejabpun berani menatap Saimah. Saimah mendekatinya. "Dullah, mengapa kamu tidak berterusterang  selama ini padaku? Mengapa kamu kupanggil menghindar?" " Saimah, aku tidak bermaksud membohongimu, aku takut kamu tidak mau menerimaku karena aku hanya seorang tukang becak" " Dullah, kamu salah menilai diriku. Bagiku tukang becak lebih terhormat daripada seorang pencuri dan perampok, mengapa kamu malu mengakuinya. Percayalah aku tetap mencintaimu" Dullah seperti diterbangkan angin sepoi - sepoi, melayang ke udara. Tanpa malu malu dipeluknya Saimah. Semua orang di sekitar lampu merah itu bersuit suit dan bertepuk tangan. Saimah wajahnya memerah. Tetapi ia tidak peduli, begitupun dengan Dullah. Dunia terasa milik berdua, hanya milik mereka yang sedang jatuh cinta : Dullah dan Saimah! Saimah duduk manis di dalam becak  tersenyum bahagia dan Dullah bersiul - siul mengayuh becaknya dengan semangat.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun