Mohon tunggu...
KOMENTAR
Humaniora Pilihan

Nasidaria Mengguncang Jerman

25 Juni 2022   20:48 Diperbarui: 26 Juni 2022   06:47 342 5



Rahasia  kejayaan Islam tatkala terbuka terhadap tradisi peradaban di luar Islam.Ini ditandai dengan penerjemahan besar2 tradisi keilmuan Persia dan Romawi. Imbas dari itu melahirkan ulama interdisipliner, tak melulu fiqh oriented apalagi hanya hafal hadist dan al Quran.

Melainkan ulama yg generalis sebut saja Imam Syafe'i yang pandai menguasai tradisi keilmuan ala hellenisme, sehingga dijadikan alat analisa dalam penentuan hukum, dengan kaidah Ushulnya.

Dengan kaidah ushul teks-teks Ilahi tak melulu dicerna secara harfiah ataupun tekstualis melainkan dilihat secara konteks.
Al_Ghazali menegaskan pada orang yg memaknai ayat suci secara tekstual atau harfiah ibarat seseorang baru sampai pinggir pantai sementara untuk mendapatkan mutiara tentu harus nenyelami dalamya lautan. Dan itu harus menggunakan kontekstual.

Timbulnya pemahaman sempit, akibat kurangnya meresapi jantung terdalam pesan luhur ayat suci. Alih-alih mengagungkan Tuhan malah sebaliknya bertolak belakang dengan fitrah ketuhanan.
Kesempitan memahami teks suci menjadikan insan laksana bom waktu, yang setiap saat bisa mengancam tatanan kehidupam global.

Padahal sejatinya Islam adalah rahmat bagi umat sejagat.
Namun akhir-akhir ini rahmat islam sejagat dibajak oleh kekerdilan pikir dengan mendirikan khilafah.

Konsepsi khilafah tidak ada dalam al_ Qur'an yang ada adalah manusia sebagai khalifah, leader untuk membangun peradaban luhur, di atas dasar kemanusiaan.

Dari itu Islam menghormati segala bentuk perbedaan, termasuk beda konsepsi tentang Tuhan, dan keimanan.
Bahkan al-Qur'an yg suci melarang umat Islam  mencaci maki sesembahan umat lain.
Sungguh al-Qur'an kitab toleransi yang luar biasa.
Jadi wajar jika muslim sejati tak alergi dengan konsesus kemanusiaan yang ditetapkan oleh PBB , tentang deklarasi hak asasi manusia.

Karena memang al- Qur'an sangat menjunjung pilihan insan sebagai khalifah di muka bumi.
Tinggal kelak kekhalifahannya dipertanggung jawabkan pada Rabb pencipta alam semesta.

Kembali kepada kejayaan Islam kokoh itu karena pola pikir merdeka seimbang antara akal dan wahyu.
Sehingga  terjadi riset yg luar biasa dalam sains.
Ditemukan ilmu anatomi tubuh, optik, astronomi, juga kedokteran. Ini dijabarkan dengan apik oleh guru saya pada pesantren filsafat, dan ulasannya ada pada buku "Mengarungi  lautan Ilmu".

Bagi muslim yang berpikir penomena alam adalah ayat tanda-tanda kebesaran rabb. Dari tanda kebesaran Rabb dengan intens menelitinya jadilah disiplin ilmu.

Dari penomena wabah virus (cacar dan campak) Abu Bakar al-Razi menulis buku yang terkenal "al- Jadari wa al-hasibah". Tidak hanya itu, Ibnu Sina dan Ibn Al-Nafis juga menulis buku pentingnya menjaga kesehatan. Di samping itu Ibn al- Nafis mempelajari jantung dan disebut-sebut sebagai penemu pembuluh darah kapiler (lihat Mulyadi Kartanegara, 2020 "Mengarungi lautan Ilmu", jilid 4, p.188).

Bagi muslim sejati apapun kejadian alam adalah ayat dari Rabb yang perlu ditafakuri, dan dari tafakur ini melahirkan disiplin keilmuan. Semangat ini sesungguhnya yang diambil oleh tokoh sains modern barat, yaitu semangat mentafakuri penomena alam. Sains dan agama sesungguhnya berkelidan saling menguatkan dalam Islam.

Pertengkaran timbul manakala sains dalam menemukan kebenaran sebatas empiris, pengamatan inderawi. Sehingga hal-hal metafisik menyangkut dimensi lain dianggap tak ada. Dan karena menapikan hal metafisik ini sains moderen mengalami krisis spiritual. Jadilah kata kelompok ini Tuhan hanya ilusi, agama hanya orientasi libido semata.

Kini saatnya muslim Indonesia hadir sebagai solutif bagi permasalahan global.
Menampilkan wajah Islam ramah sesuai dengan nilai_ humanis religious.
Islam ditunjukan  ramah pada kaum hawa sehingga bisa berekpresi diruang publik. Bukankah saidatina Aisyah ra pun seorang cendikiawan sekaligus ulama perempuan yang mentransmisikan ribuan hadits pada mahasiswanya yang laki_laki.

Bahkan dalan ulumul hadits Aisyah ra pelopor pertama sebagai cikal bakal ilmu kritik hadis.
Karena Aisyah dalam banyak kesempatan mengoreksi Abu Hurairah ra ketika salah mencerna hadits.

Kini muslimah Indonesia patut berbangga karena "Nasidaria" bisa manggung di Eropa tepatnya Jerman. Ini sebagai counter pemikiran  muslimah tidak identik di zona domestik kasur dan pupur sebagaimana terpotret di belahan negeri Arab. Sebagaimana dinarasikan dalam artikel Rudolph T Ware (2014), " The Walking Qur'an: Islamic Education, Embodied Knowledge, and History West Africa.

Islam begitu ramah terhadap perempuan dari itu ada nama surah an_ Nisa, mengabadikan wanita suci Bunda Maryam.
Dan lagi2 di alquran tentang surga tdk ada dikotomi khusus laki2. Tetapi bahasa alquran bagi semua laki_laki dan perempuan yang melakukan kebajikan.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan