Mohon tunggu...
KOMENTAR
Puisi

Untuk Dita... [yang Tengah Berpikir Tentang... Menikah!]

30 Juni 2011   10:57 Diperbarui: 26 Juni 2015   04:03 377 2

Dita…, Aku bukanlah penasehat yang baik. Itu sudah pasti. Tapi setidaknya Aku bisa berbicara berdasar pengalaman sendiri, atau pengalaman usai membaca kisah-kisah orang pintar. Tentu dengan perspektifku yang dijamin lugu dan so… simple! Karena keterbatasan ilmu dan tekhnik menyampaikan ilmu itu. Tapi setidaknya Aku punya keberanian untuk bicara dan yakin! Bahwa Kau akan berbaik hati, meluangkan waktumu yang amat berharga itu, untuk membaca tulisanku ini.

Dita…, jangan menganggap obrolan kita ini adalah semacam counseling atau nasehat pra pernikahan. Duh, jangankan berpikir tentang menikah, Dit! Pacaran aja Aku gagap. Hayoolah… Dita, jangan Kau sebut Aku munafik. Siapa juga yang ngga mau pacaran ? Mau toh ya, namun sayangnya para pejantan tangguh itu he he he… copas dikit kata-katanya Sheila On7, ngga ada yang bernafsu melihat tampang jelekku. Jadi kalau Aku lantas berlagak jadi counselor pra wedding, wedeewww… batu dan kotoran pasti akan mendarat mulus di lapakku ini.

Dita…, dulu Aku pun menikah di ambang batas bagi paradigma bangsa kita (jaman dulu loh ya), yang hampiii…rr menyebutku perawan tua. Padahal belum tigapuluh umurku saat itu. Maklum Dit, urip neng kampung, sedikit yang melewati kebiasaan, langsung deh menjadi gunjingan.

Tapi Aku selalu yakin pada hadist dan firman, Dita. Bahwa manusia itu diciptakan dengan berpasang-pasangan. Bahwa perempuan baik akan dipasangkan dengan pria baik. Bahwa menikah itu adalah salah satu wujud ibadah.

Tunggu dulu toh, Dit. Jangan langsung mencibir dan menganggapku narsis. Selamanya Aku tidak pernah menganggap diriku baik. Aku tahu betul siapa itu Indah. Meski namaku Indah tapi ‘jeroanku’ sungguh tidak indah. Dan penyakitku adalah rendah diri. Jangan keliru yaa, dengan kata rendah hati.

Jadi, Aku meyakini bahwa belum datangnya jodohku waktu itu, berarti YME sedang mencarikanku jodoh yang terbaik…. Terbaik untuk standard dan levelku yang bukan orang baik, tentunya. Jangan salah interpretasi ya Dit? Aku tidak mengatakan, orang suci jodohnya dengan orang suci, dan orang kotor jodohnya dengan orang kotor. Kesannya kok ngga adil banget, ya kan?! ‘Baik’ dalam konteks hadist dan firman, tentu tidak dapat diterjemahkan dengan konteks pemikiran manusia. Ngerti ngga ngerti… telen aja deh, kalimatku ini… he he he…

Maka dari itu, Dita… Ketika datang seorang pria dengan mata dan cintanya yang buta, ‘uncluk-uncluk’ melamarku, Aku langsung tersanjung! Namun tidak langsung berkata ‘YA’. Bukan ja-im, Dit! Juga bukan malu-malu kucing, atau berlagak malu tapi mau. Tapi karena kata ‘menikah’ adalah momok yang cukup menakutkan buatku waktu itu.

Hampir seluruh perempuan dalam lingkungan keluargaku diperlakukan sangat tidak menyenangkan oleh masing-masing pasangan hidupnya. Hampir seluruh pernikahan dalam lingkaran kekerabatanku tidak menggambarkan potret yang indah dan bercerita tentang kebahagiaan.

Tapi YME selalu punya caranya sendiri yang unik dan di luar batas kemampuan berfikir mahluknya. Maksudku Dita, kalau sudah jodoh, kemanapun pergi pasti akan dicari, eh ketemu juga.

Demikian juga denganku, Dit. Dulu itu, planning-ku sudah mateng..teng ! demi menghindari ritual yang mempersatukan dua keluarga besar. Membayangkannya saja sudah syerrem, Dit. Dan, Aku sudah hampir pindah tempat kerjaan. Demi menghindari pria yang sungguh-sungguh menyodorkan niatan mulia. Tapi ya itu tadi… YME bisa aja deh, merubah sehebat apapun planning manusia.

Memang ada cinta, tapi katakanlah 80% niatku menikah adalah ibadah! He he he… sok banget ya Dit? Kamu betul… Sok banget! Biasanya orang yang sok itu berfikir dengan udelnya saja. Aku juga. Kupikir jalan ke depan bisa kulalui dengan mudah karena niatku adalah ibadah. Baru kini kusadari… (kaya lirik lagu aja) bahwa ibadah itu sungguh tidak mudah! Dan memang tidak ada ibadah yang mudah. Bahkan ibadah pun perlu usaha, Dit ! Semua perlu usaha.

Eh, jangan salah Dit.. Aku tidak sedang menyesali keputusanku kok, Say. Tidak percaya kan, kalau Aku bilang, bahwa Aku sedang mensyukuri apa yang telah kuniati. Kalau bukan karena keputusan dulu itu, maka di ambang umurku yang sedang menjemput zona menopause kini, Aku pasti belum merasakan nikmatnya bertengkar, bercanda, berebut komputer dan remot tivi, dengan anak dan suami.

Kemana sih sebenarnya arah pembicaraan Mba Indah ini ? Kau pasti sedang misah-misuh sendiri ya ? Well… Dita, kesimpulannya adalah jangan menikah karena sebuah paradigma, atau gunjingan tentang usia, apalagi karena gelar MBA (Married by Accident, maksudku he he). Meski di era modern ini MBA itu adalah hal biasa. Malahan sekarang, ada jargon lucu: MBA dulu biar tahu bisa bercinta tidak, bisa punya anak tidak? Ya ngga Dit?!

Menikahlah dengan persiapan matang antara kedua belah pihak. Kau dan Dia. Persiapan yang bukan hanya sekedar selangkangan… ups! Sori Dit, kebablasan… Maksudnya persiapan itu tidak hanya pada kesiapan fisik seperti kebugaran tubuhmu, yang amat diperlukan bila kelak Kau melahirkan, atau manakala dirimu kawin dengan seorang karyawan biasa yang membuatmu harus berperan ganda. Sebagai istri, sebagai ibu, juga sebagai dirimu sendiri yang masih suka hang-out, sekaligus mesin pencari uang. Kalau tidak bugar?? Ngerti kan maksudku, Non?

Selain itu, persiapan yang tidak kalah krusial, adalah mental. Begini Dita… Menyatukan fisik itu… Ke-e-e-c-i-i-i-I l-l...!!! Ilmunya hanya instinct dan feeling…hi hi hi. Tapi menyamakan visi, dan misi itu yang sulit, Dit. Sekarang oke, Kau dan Dia, bisa sepakat dalam banyak hal karena gelora cinta yang masih membara… (Duile, gaya bahasanye…).

Tapi ketika kamar menjadi sidang perdebatan atau bahkan zona peperangan, maka disitulah kesiapan mentalmu dibutuhkan. Tantangan terbesarnya adalah ketika Kita bisa saling menekan ego masing-masing dan menemukan kesepatakan yang disukai kedua belah pihak. Bukan karena satu pihak saja yang mengalah dengan alasan cinta atau apalah…

Makanya Aku selalu bilang, kepada siapa pun teman-temanku, tak hanya Kau, Dita. Bahwa petualangan terbesar dalam hidup adalah menikah! Orang boleh bangga dengan prestasinya menaklukkan puncak Himalaya, tapi menurutku itu biasa saja. Orang boleh jumawa dengan senjatanya yang berhasil mengakhiri hidup seorang teroris. That’s easy! (Kok easy? Lah iya dong, easy karena main keroyokan… ha ha ha!)

Namun battle sebenarnya adalah melawan diri sendiri. Dan petualang sejati adalah mereka yang ‘berani’ mengikatkan diri dalam lembaga yang direstui Tuhan dan menjaganya sebaik mungkin hingga hayat berpisah dengan badan.

Nyinyir ya, Dit?! Tauk nih… Lidah itu ngga bertulang Dit, makanya nyinyir itulah sifatnya. Kuharap, ada yang bisa Kau petik dari mulutku yang nyinyir ini… hi hi hi…

Sekali mulutmu mengucapkan kata ”I DO”, maka berusahalah untuk menikmati dan jangan pernah berhenti bersyukur pada satu fase yang semestinya dilewati manusia itu.

Dulu, kata menikah dalam pikiranku dulu adalah kawin dengan satu individu yang kelak disebut suami…. (atau Papa, Dit? Oh, bukan ya? Abang? Kangmas? Atau Honey, barangkali? Whatever…)

Jebul ki, ora toh Dit. Ketika Kau memutuskan menikah dengan seseorang maka automatically Kau pun menikah dengan seluruh keluarganya. Seluruh? Horotoyoooh… Iya Dit, the whole family… big family! Tapi, ngga tahu juga deh ya, kalau orientasimu adalah meneer, mister, atau senor. Qi qi qi qi…

Karena, ‘deso mowo coro’. Biasanya lain budaya, lain pula tata cara atau adat istiadatnya. Jadi kalau kelak Kau menikah dengan meneer atau mister, belum tentu falsafah yang Kusebut diatas berlaku juga. Beberapa yang Kulihat sih ngga gitu.

Jadi, sekarang tinggal bagaimana Kau saja, Dita. Terserah kata hati dan logikamu tentang definisi menikah itu. Semuanya berpulang kepadamu. Mau menikah atau tidak. Mau sekarang atau nanti. Mau dengan ndoro atau tarjo. Mau dengan akang atau mister. Dan tentunya, mau pakai managemen apa nanti dalam mengelola lembaga dunia dan akhirat itu. Managemen-mu sendiri tentunya karena setiap rumah tangga itu tidak ada yang sama. Kehidupan rumah tangga itu memiliki keunikannya sendiri-sendiri, misterinya masing-masing, kesulitan dan kebahagiaan yang hanya dapat diukur para pengelola lembaga informal itu

Kupikir, pemerintah atau institusi pendidikan apalah, perlu mendirikan suatu lembaga formal yang mengajarkan segala pernik kehidupan dalam berumah tangga. Jadi, kesiapan pasangan bisa ditingkatkan, dan kemungkinan perceraian bisa ditekan. Bukan dengan cara samen-laven yang di-okay-in banyak generasi muda sekarang ini. Ah ya ya, itu pandanganku yang lahir dari generasi ja-dul, Dit!

Terakhir nih Dit… (Aku yakin, Kau sudah eneg dengan obrolan kita… he he he, mau muntah ya ?!) Maskawin opo toh kuwi MacBook dan Canon EOS 5D Mark II?? Halah… mosok janji suci di hadapan YME, nganggo property koyo ngono kuwi? Lah… nanti kalau pas berantem, MacBook-nya mbok banting, njuk piye??

Ngga papa sih… bergaya lain daripada yang lain. MacBook juga oke. Canon EOS 5D Mark II… apalagi, lebih oke. Dan semakin oke, nek bar’e ijab qabul, dua benda hi-tech itu… Aku pinjam bentar yaaaa….. Diluk ae, Diiitt….. Arep tak gade’in, nggo bayaran daftar ulang cah cilik loro kaee…

...........................................................................................................................................................

Iseng aja Dit.. Jo nesu yoo...? Capek nih habis ngepel, kok terus inget Dita yang lagi gundah dengan kata 'menikah'. Semoga bermanfaat dan maap ye... kalu ade sale-sale kate... he he he... Happy Hunting, Dear Dita! (hunting calon misua! wa ka ka ka... Kabur ah! Udah magrib tuh!)

Refrensi tulisan milik teman:

…Menikah…>

Oleh : Anin Dita

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun