Mohon tunggu...
Drs. Komar M.Hum.
Drs. Komar M.Hum. Mohon Tunggu... Guru SMA Al-Izhar Pondok Labu & Fasilitator Yayasan Cahaya Guru

Berbagi & Menginspirasi

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

"3 in 1" dalam PLASA SMA Al-Izhar

28 Februari 2020   16:53 Diperbarui: 28 Februari 2020   20:59 30 0 0 Mohon Tunggu...

"HOMESTAY" ENGGAK HARUS KE LUAR NEGERI 

KOMPAS, 10 MARET 2005 

Mendengar kata homestay, yang terlintas di pikiran kita biasanya tinggal di luar negeri dalam hitungan hari atau minggu. Tapi, sesekali coba deh homestay di desa terpencil seperti yang dilakukan anak-anak Al-Izhar dan Sanur. Seru juga, lho! 

Sebenarnya homestay di desa terpencil di tanah air pun enggak kalah menariknya dibandingkan dengan luar negeri. Selain menikmati indahnya alam pedesaan, kita pun mendapat banyak pelajaran dan pengalaman setelah beberapa hari tinggal di sana. Kita enggak hanya hanya bisa melihat dari dekat orang-orang di desa, tetapi juga ikut merasakan kesulitan maupun kebahagiaan mereka. Inilah yang dilakukan teman-teman kita di SMA Al-Izhar dan SMA Santa Ursula (Sanur), Jakarta. 

Sebanyak 112 murid kelas II SMA Al-Izhar berangkat ke desa Mayang dengan menggunakan bus. Sesampainya di sana, mereka dibagi dalam 23 kelompok dan disebar ke lima kampong, yaitu Cibalimbing, Cibogo, Cikeuyeup, Cilame, dan Cipatunjang. Selama empat hari tiga malam mereka tinggal bersama keluarga penduduk asli. Nah, di sini serunya. Menurut salah seorang peserta, setiap angkatan di SMA Al-Izhar punya program khusu masing-masing. Tapi program PLASA inilah yang paling seru di antara program lainnya. Bahkan katanya, lebih seru dari homestay di luar negeri. Seseru apa sih? 

Selama empat hari tinggal di desa, tentunya enggak cuma main-main dan melihat-lihat saja. Sejak dari Jakarta, mereka sudah diberi tugas mengadakan penelitian tentang aspek-aspek kehidupan di desa. Kelompok-kelompok yang tinggal di Kampung Cibalimbing membuat penelitian tentang perikanan air deras. Mereka yang tinggal di Cibago meneliti tentang pembuatan sapu uyun (mirip sapu ijuk). Yang di Cipatunjang meneliti PLTA yang dibuat warga dan penambangan emas tradisional. Sedangkan yang di Cikeuyeup dan Cilame meneliti kehidupan beragama penduduk setempat dan pola kehidupan remaja. Itulah kutipan artikel pada harian Kompas 15 tahun yang lalu, mengenai kegiatan di dua sekolah yang memiliki spirit selaras, yaitu dalam rangka menumbuhkan wawasan keragaman dan kebangsaan peserta didik. 

------------------------------

Artikel di koran KOMPAS tersebut sengaja saya tampilkan kembali untuk menyusuri jejak historis kegiatan yang di SMA Al-Izhar sudah berlangsung sejak 24 tahun lalu. Semoga bisa saling berbagi pengalaman dan menginspirasi berbagai pihak yang peduli dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. 

Merekonstruksi Keindonesiaan dan Kemanusiaan 

Mari kita berandai-andai. Apa yang akan dilakukan, jika Anda menjadi guru atau kepala sekolah di sebuah lembaga pendidikan yang cenderung kondisi muridnya homogen dalam  hal status sosial-ekonomi, agama, lingkungan pergaulan, dan bertempat tinggal di kota besar? Bagaimana strategi sekolah dalam menumbuhkan wawasan keragaman anak, mengingat kondisi Indonesia sangat majemuk dari segi etnis, budaya, adat istiadat, kondisi ekonomi, dan seterusnya? Apakah karakteristik masyarakat kota tempat sekolah tersebut berada cukup mewakili keragaman Indonesia? Bekal apa yang harus dipersiapkan bagi murid-murid, supaya nanti saat mereka menjadi pejabat negara/pemerintahan, pengusaha sukses, atau profesi apapun yang dijalaninya, memiliki kepedulian kepada sang "liyan", kelompok/komunitas yang berbeda dalam banyak hal dengan dirinya? 

Itulah rangkaian pertanyaan fundamental yang saya ajukan saat merancang program, bersama rekan-rekan panitia, yang kemudian melahirkan  kegiatan Penelitian Lingkungan Aspek Sosial dan Alam (PLASA) pada  tahun 1996 bagi murid-murid angkatan pertama SMA Al-Izhar Pondok Labu. Karakteristik murid-murid sekolah kami cenderung homogen dan berada di kota metropolitan Jakarta. Kondisi ini tentu saja memiliki kekuatan dan kekurangan tersendiri, di antaranya adalah keterbatasan kesempatan dan ruang perjumpaan dengan sang "liyan", karena Jakarta tidak bisa mencerminkan kemajemukan masyarakat Indonesia.  Kondisi itulah yang melatarbelakangi dirancangnya program PLASA yang pernah dikupas dalam harian Kompas hari kamis tanggal 10 Maret tahun 2005. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x