Mohon tunggu...
Kognisi.id
Kognisi.id Mohon Tunggu... Administrasi - Learning Platform by Growth Center part of Kompas Gramedia

Providing a convenient, insightful, and collaborative learning experience

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Lakukan Dopamine Detox untuk Tingkatkan Fokus

7 November 2023   14:56 Diperbarui: 7 November 2023   15:08 193
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Oleh: Najwa Khabiza Egaikmal -- Content Writer Intern Growth Center 

Pernahkah kamu merasa sulit fokus saat melakukan pekerjaan? Kamu scrolling sosial media dengan impulsif tanpa tujuan yang jelas. Seringkali, kamu juga merasa tidak punya cukup waktu. Karena saat mencoba mengerjakan tugas, otak secara otomatis menolak berpikir. Akhirnya, kamu kesulitan fokus dan menjadi frustasi karena tidak ada pekerjaan yang selesai.

Nonton video lucu di TikTok, window shopping di e-commerce kesayangan, rebahan di waktu produktif, nonton serial di Netflix, rasanya lebih membahagiakan daripada mengerjakan tugas yang sebenarnya tidak sebanyak itu.  

Menanggapi fenomena ini, rasanya kamu mempertanyakan "Kenapa ya saya melakukan ini terus?" Jika kamu relate dengan kondisi di atas, mungkin kamu butuh yang dinamakan dopamine detox.

Apa itu Dopamine Detox?

Dopamine detox adalah metode yang dilakukan untuk mengurangi aktivitas pemicu kebahagiaan yang asalnya dari dopamine untuk jangka waktu yang ditentukan sendiri. 

Dopamine sendiri adalah bahan kimia di otak yang bertanggung jawab atas rasa bahagia, motivasi, dan rasa puas. Pernahkah kamu merasa sangat puas setelah memenangkan sebuah game? Ini terjadi karena terdapat lonjakan dopamine yang di otakmu. 

Apa saja yang dapat merangsang pelepasan dopamine? Notifikasi likes dari orang lain di dunia maya, memenangkan games, menonton video pendek di Instagram, perasaan setelah dapat nilai bagus, dan bahkan ketika mendengar nada-nada di lagu kesukaan. Setelah merasakan kebahagiaan, dopamine akan menyuruh otak melakukan hal itu lagi dan lagi hingga aktivitas tertentu menjadi candu dan kebiasaan.

Seperti yang dikatakan Dr. Anna Lembke, saat manusia mengonsumsi media digital entah itu TV, postingan Instagram, tweet di Twitter, atau game online, otak melepaskan banyak dopamine yang akan melewati jalur penghargaan (reward pathway). Saat melewati jalur ini, kita mulai merasakan bahagia. 

Di zaman ini, manusia bisa lebih cepat mendapatkan apa yang mereka mau. Lewat klik di ponsel, manusia bisa mendatangkan makanan favorite mereka dengan waktu 1 jam saja. Lewat posting foto di sosial media, manusia bisa mendapatkan validasi diri mereka. Dan banyak contoh lain yang bisa menggambarkan betapa instan kebahagiaan kecil bisa diraih saat ini. 

Makanya, untuk orang yang terbiasa mengonsumsi media digital, rasanya kebahagiaan lebih mudah didapat ketika mereka berlama-lama di perangkat digitalnya dibandingkan saat mengerjakan tugas karena harus susah payah untuk mencapai perasaan bahagia itu. 

Sayangnya, overstimulasi short dopamine semacam ini akan menimbulkan candu dan bikin seseorang merasa cemas kalau tidak melakukannya. Sering, kan, kita lihat orang bergumam "Duh, ketinggalan apa ya saya di Twitter?" 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun