Kiko Kawari
Kiko Kawari

Pencinta Arabica, sedikit gula, dan kayu manis.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Bahkan Dia Lompat Dua Kali Lebih Jauh Dariku!

7 Desember 2018   18:12 Diperbarui: 7 Desember 2018   18:27 89 0 0
Bahkan Dia Lompat Dua Kali Lebih Jauh Dariku!
Gambar: Las Islas Filipinas

Tidak ada lagi frasa "tidak mampu atau tidak bisa atau tidak berhasil" yang menempel pada seorang penyandang disabilitas atau difabel. Mereka mempunyai kesempatan yang sama dan kemungkinan yang sama dengan kita. Mereka semua sahabat, kawan, dan teman kita juga yang memiliki hak untuk hidup yang sama dengan kita.

Tapi, apakah kalian tahu bahwa istilah difabel dan disabilitas mengacu pada pengertian yang tidak sama. Istilah difabel awalnya digalakkan oleh para aktivis isu disabilitas di Yogyakarta dan Jawa. Difabel mengacu pada akronim Bahasa Inggris, yakni 'different' dan 'ability' yang berarti kemampuan yang berbeda. Yang dimaksud dengan kemampuan yang berbeda ialah sesorang yang melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda. Jadi, referen kata ini mengacu pada referen atau acuan yang positif.

Sementara itu, kata disabilitas lahir dari ratifikasi konvensi PBB mengenai hak-hak penyandang disabilitas disabilitas, yaitu UN Convention on The Right of Person with Disability diserap menjadi kata ganti orang menjadi Person with Disability (PWD). Dengan semikian, setelah itu istilah penyandang disabilitas resmi mengantikan posisi kata penyandang cacat serta dalam UU No. 19 Tahun 2011.

Kata difabel mengacu pada diri seseorang sebagai subjek yang memiliki kemampuan berbeda dibandingkan orang yang laun pada umunya. Sementara itu, kata disabilitas mengacu pada lingkungan di luar orang itu sebagai subjek yang belum akomodatif sehingga menyebabkan ketidaksesuaian. Ketika suatu saat lingkungan telah akomodatif dengan orang tersebut dan dirinya dapat berkegiatan tanpa halangan dan hambatan, maka orang tersebut tidak lagi disandingkan dengan embel-embel disabilitas.

Kebanyakan orang, walau tanpa disengaja atau hanya sekadar muncul gumam dalam hati memandang sebelah mata penyandang disabilitas dan difabel. Akan tetapi, hal ini tidak terbukti di era saat ini. Teman saya yang merupakan kakak angkatan saya kuliah dulu memiliki pendengaran yang kurang sempurna serta pelafalan beberapa huruf yang kurang jelas.

Namun hal ini tidak membuatnya patah semangat, mandeg untuk berprestasi, dan belajar dengan baik. Bahkan Kakak kelas saya ini memiliki beberapa catatan prestasi. Saya tidak dapat menyebutkan nama asli dan identitas dirinya disini karena satu dan lain hal. Dengan demikian, saya menyebutnya dengan nama Han.

Han berkuliah di salah satu universitas ternama di Yogyakarta dengan mengambil ilmu humaniora. Han dikenal sebagai mahasiswa yang aktif baik di kampus, maupun di luar kampus. Han mengikuti banyak komunitas, salah satunya komunitas penyandang disabilitas dan difabel di Yogyakarta.

Tidak butuh waktu lama, seperti kawan-kawan seangkatannya yang lulus setahun atau dua tahun mundur dari waktu normal, Han lulus tepat empat tahun dengan nilai yang memuaskan.

Gambar: Nita Sirius
Gambar: Nita Sirius
Kajian dalam tugas akhirnya mengangkat isu penyandang disabilitas dan difabel dalam film Biola Tak Berdawai karya Sekar Ayu Asmara yang diproduseri oleh Nia Dinata dan Afi Shamara dan diproduksi  Kalyana Shira Film pada tahun 2003. Film ini memberikan pandangan lain akan cinta pada sesama manusia dengan berbagai macam perbedaan. Dalam film ini juga diperlihatkan kekuatan musik terhadap para penyandang disabilitas dan difabel.

Setelah lulus, Han kembali aktif mengirim tulisan ke berbagai acara yang berkenaan dengan budaya dan humaniora. Hingga suatu saat ia diundang ke Malaysia sebagai salah satu pembicara dalam acara seminar internasional yang diadakan di Malaysia.

Han mengingatkan kita pada frase yang tidak lagi relevan untuk penyandang disabilitas dan difabel, yakni "tidak bisa, tidak mampu, atau tidak berhasil." Han telah membuktikannya, aku merasa kurang memaksimalkan kemampuanku dan aku harus mengakui Han berprestasi. Bahkan dia lompat Dua Kali lebih jauh dariku! Bukan main bukan.

dok.pribadi
dok.pribadi
Jadi, sudah seharusnya kita bersahabat, merangkul dengan hangat para penyandang disabilitas dan difabel yang juga saudara kita sebagai anak cucu Adam dengan kelebihan lain yang tidak kita ketahui. Selaras dengan itu, Bambang Soepijanto, calon DPD RI Dapil DIY, menyerukan untuk ramah, bersahabat, berkawan, dan bicara dari hati ke hati dengan mereka karena kita semua sama di mata Tuhan. Mari bersama-sama berangkulan dan berjalan beriringan menuju kemajuan bersama.