Ang Tek Khun
Ang Tek Khun freelancer

Penduduk kota Yogyakarta • Sedang menyerap banyak hal, sedang belajar banyak hal.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Kopi di Seputar Perangai Manusia

19 Juli 2017   02:09 Diperbarui: 19 Juli 2017   11:10 302 5 0
Kopi di Seputar Perangai Manusia
Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Ini kisah perjumpaan dini saya dengan kopi. Di siang terik yang melelahkan, saya membawa langkah keluar dari area perkebunan. Menuruni punggung bukit dengan kaki telanjang, riak air sungai yang berjarak sepelemparan batu dari pagar batas, telah memanggil-manggil untuk dihampiri. Namun ayun langkah jelajah saya hari itu, tak pernah tiba di sana.

Saya dan Kopi

Hamparan tanah datar dan rerimbunan kehijauan di luar jalan setapak menggoda untuk saya amati. Menggalang ingatan di masa kecil itu, saya menemukan tanaman tinggi sepanggul, jenis paku-pakuan. Pucuk-pucuk yang mlungker, mengingatkan saya akan sayur paku yang sering ditumis di rumah dan menjadi lauk favorit saya.

Lalu, saya melangkah lebih jauh, hingga berserobok pandang dengan butir-butir merah yang mengumpul dalam gerombolan buah-buah hijau di ketinggian sebuah pohon. Itu bukan buah Kersen, yang kerap dipetik dan dikunyah oleh anak-anak seusia saya. Mungkin sejenis ceri.

Bersijingkat, saya mulai memetik. Satu, dua, lima, dan hampir sepuluh. Siapakah pemilik pohon ini? Saya tidak tahu, pohon-pohon sejenis ini tumbuh di area bebas tanpa sepeser petunjuk kepada siapa saya harus meminta izin petik, lagi pula buah merah itu teramat menggoda untuk dimiliki. Niscaya, saya mengelupasnya dan menemukan dua keping buah yang saling bersidekap erat. Saat pulang ke rumah dan dijemur, keping-keping itu berubah warna menjadi kecoklatan. Itulah kopi!

Kopi dan Perangai Manusia

Di kampung halaman (hometown) saya, ada satu warung kopi yang tenar dan menempati lokasi di pusat keramaian. Jika siang bolong tiba, usai bersantap tengah hari, orang-orang akan berkumpul di sana. Terutama orang-orang yang berhubungan dengan aktivitas di pelabuhan. Mereka menyeruput kopi, dan mempercakapkan banyak hal. Apabila Anda hendak mencari seseorang di sekitar jam tersebut, pergilah ke sana. Satu-dua kali saya pernah diminta mencari seseorang di warung kopi itu.

Kelak, dengan bertambahnya usia, saya mengenali bahwa kopi selalu mempertemukan seorang dengan lainnya. Atau, seorang dengan dirinya sendiri. Dalam percakapan berisik dan gayeng, pun dalam perbincangan sunyi. Tentu ada banyak kisah yang didengarkan oleh kopi, banyak suara diserap olehnya. Beberapa tawa ngakak, lainnya tentang keluhan, dan cerita hidup keseharian.

Dalam perjalanan hidup yang kian panjang, saya mengenali hal lain dan menarik benang simpul bahwa kopi teramat jarang mendengarkan isak tangis. Jika pun pernah ada, saya meyakini selalu saja akan ditimpali oleh suara lain yang membesarkan hati dan melapangkan dada, disertai kata-kata yang melempengkan hidup. Itulah sebabnya saya selalu berpikir bahwa kopi dan ngopi selalu menjadi milik orang-orang tegar.

Kopi memahami dengan baik berbagai perangai manusia. Meminjam dunia rekaan dalam film Filosofi Kopi 2, kita akan menjumpai sosok Jody (Rio Dewanto) yang rinci, nyinyir dalam perhitungan bisnis, dan berorientasi penuh pada profit untuk dicapai. Berbalik arah dengan tokoh Ben (Chicco Jerikho) yang cenderung idealis, keras kepala, dan kerap impulsif mengikuti naluri passion.

Kopi juga bersahabat dengan para perempuan. Ada figur Tarra (Luna Maya) yang berada di sisi kubu Jody perihal bisnis, namun lebih berani mengambil risiko dalam berinvestasi. Hadir pula karakter Brie (Nadine Alexandra), yang seolah belahan dari Ben yang dingin, dedikatif dipandu passion, tapi dicirikan oleh perangainya yang detail, teoritis, dan cenderung mekanistis.

Demikianlah kopi menjadi saksi dinamika interaksi perangai keempat karakter. Mereka bermain di arus utama panggung perjalanan hidup yang membenturkan impian dan realita, idealisme dan tuntutan untuk berkompromi.

Dalam Dunia Rekaan

Dinamika benturan perangai di seputar kopi ini seharusnya menjadi menarik untuk disimak dan menyuguhkan banyak pembelajaran hidup. Namun dalam dunia rekaan (baca: film Filosofi Kopi 2), saya perlu berdiam diri dan menarik napas. "Premis" persahabatan, sebagaimana disangka dan dikukuhkan melalui Ost "Sahabat Sejati" buah karya Eross Sheila On 7, sayangnya mengalami blunder dengan masuknya tema pencarian cinta dalam "ruang sempit kedai kopi".

Penutur kisah rekaan ini seolah kehilangan "akal kreatif" untuk mengakhiri cerita. Kisah cinta yang membalut bagian akhir film, bagai alien menyusup di arena konflik antarsahabat, yang selayaknya diselesaikan atas nama persahabatan pula. Aroma sinetron genre romansa, yang kerap menyederhanakan masalah dan mengejar "akhir bahagia" dengan menggeser logika, terasa datang menghampiri bagian ini. Tercium melalui betapa enteng cinta berpindah dan dipertukarkan.

Andai bisa diulang, saya bisa membayangkan dan meyakini film ini akan jauh lebih rapi dan solid, serta meniti premisnya dengan lebih baik. Selain itu, saya mengingat dengan baik untuk membuang "frame" yang bocor, saat di satu adegan kamera tanpa sengaja menangkap orang-orang yang sedang menonton syuting.

Tentu saja saya akan menggunakan kesempatan ini untuk bersikeras mengusulkan membuang, atau setidaknya mengurangi secara tajam, umpatan-umpatan "tak pantas" dalam bahasa Hokkian yang cukup bertebaran. Seolah (cerita) film ini tidak memiliki keyakinan untuk sukses bila tanpa hiasan makian itu. Percayalah, keintiman persahabatan itu tidak diukur dari hal sesepele ini.

Namun demikian, yang bisa saya tuliskan selebihnya adalah, film ini bukan saja akan mempertemukan Anda dengan kopi dan sedikit filosofi yang menyertainya, lebih dari itu bersungguh hendak menempatkannya di ruang apresiasi tertinggi dalam hati Anda. Tonton dan nikmatilah beragam lagu bagus yang menghiasinya. []