Mohon tunggu...
Ang Tek Khun
Ang Tek Khun Mohon Tunggu... Freelancer - Alumnus Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya), penerap psikologi di konseling (probono), literasi (baca-tulis-editor-penerbitan), dan strategi platform & konten media sosial. Suka berkomunitas sejak kuliah di Surabaya. Gemar disuruh nulis secara naratif, storytelling dan menggunakan gaya romantik

pengecer kisah di IG @angtekkhun1 - curhat kota di catatanjogja.id - cerita literasi di ceritakhun.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Pesan Moral dalam Cerita Rakyat Tadulako Bulili dari Sulawesi Tengah

10 Januari 2021   23:49 Diperbarui: 11 Januari 2021   00:12 1495 5 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi diolah dari Pixabay

Di negeri gemah ripah loh jinawi bernama Indonesia, melimpah dan bermekaran khazanah cerita lisan yang diwariskan secara turun-temurun. Masuk dalam kekayaan ini adalah "genre" cerita rakyat. Cerita rakyat terhimpun dalam Indonesia, ditemukan mulai dari ujung timur negeri ini hingga barat. Terentang dari utara sampai di selatan.

Khazanah cerita rakyat ini berkembang seiring dengan hidup dan berlangsungnya tradisi bertutur. Di dalamnya sarat dengan kandungan kearifan lokal dan nilai-nilai luhur sejak nenek moyang. Hal-hal mulia ini dipegang teguh oleh masyarakat dan diwariskan secara berkelanjutan melalui tradisi berkisah.

Dengan kekayaan demografi dan pulau-pulau yang mencapai ribuan, sering kali kita menjumpai cerita-cerita yang memiliki benang merah atau tampak mirip. Namun, jangan terburu-buru bersikap apriori. Sebab kandungan pesan lokal yang diusungnya menyimpan keunikan yang layak diapresiasi.

Perihal cerita rakyat, ringkasnya "genre" berasal dan berkembang di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang peduli dan guyub. Cerita dalam kategori ini sangat bernilai karena mengungkap banyak sisi pembelajaran yang bisa dielaborasi. Konten dengan pesan seperti ini bertabur mulai dari pembelajaran tentang sikap, perilaku, dan nilai-nilai. Ini mencuat sesuai dengan sikap peduli masyarakat dan berlaku sebagai panduan hidup bagi setiap warga.

Cerita rakyat yang berkembang dan kerap dikisahkan berulang ini kepada kita, melalui medium apa puh, sering kali hanya itu-itu saja. Mungkin karena faktor popularitas sebuah cerita, sehingga ia mudah diadopsi oleh sang pencerita. Maka, ia tersosialisasi dengan baik di banyak tempat dan disampaikan oleh banyak orang.

Di sini saya ingin menyajikan kisah yang mungkin kurang populer karena datang dari pulau yang jauh dari Jawa. Namun cerita rakyat ini menjadi istimewa sebab lahir dari pulau tempat saya dilahirkan. Tentang sepak terjang para skatria lokal yang dinamai Tadulako. Nama ini kemudian diabadikan sebagai nama universitas negeri yang berada di Palu, ibukota Provinsi Sulawesi Tengah.

Pesan moral yang diusung melalui cerita rakyat berjudul "Tadulako Bulili" ini, kental dengan pembelajaran tentang kepemimpinan. Kisahnya bertutur tentang bagaimana seorang pemimpin selayaknya berlaku. Sekaligus dalam cerita rakyat ini terungkap peran penting para Tadulako dengan jiwa ksatrianya dalam menegakkan keadilan dan kebenaran.

Sebagai catatan bagi para pembaca, Tadulako dalam bahasa daerah Sulawesi Tengah adalah sebutan bagi para panglima perang. Tugas para Tadulako adalah menjaga keamanan desa dari serangan musuh. Merekalah garda terdepan dalam merawat pertahanan atas desa tersebut.

Sinopsis Cerita Rakyat Tadulako Bulili

"Tadulako Bulili" bercerita tentang kelalaian seorang raja dalam mengemban etika dan tanggung jawab selayaknya berlaku bagi seorang raja. Bersisian dengan hal tersebut, dihadirkan pula kisah sepak terjang heroik para Tadulako dalam menunaikan tugas. Mereka menunjukkan tindakan gagah sebagai panglima perang yang diutus secara resmi.

Kisah ini berlangsung di sebuah desa bernama Bulili, yang terletak di Sulawesi Tengah. Tiga Tadulako yang terlibat dalam alur cerita ini adalah Bantaili, Makeku, dan Molove. Bermula dari kedatangan Raja Sigi di Desa Bulili. Di sini, sang Raja Sigi dibuat terpikat pada seorang gadis desa dan kemudian menikahinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan