Mohon tunggu...
Ang Tek Khun
Ang Tek Khun Mohon Tunggu... Freelancer

Alumni Psikologi (Ubaya), gemar pada narasi & visual storytelling, hanya menulis hal-hal yang menggerakkan hati & menggairahkan pikiran, dituturkan populer dari sudut psikologis, tentang hidup keseharian. #jogja #genpi #localguides 9 • Street View Trusted Photographer • editor • Social Media Platform & Content Strategist • Pemangku hashtag #ceritakhun #khunjungan #khunliner #writingkhun • Menulis di Instagram @angtekkhun1 • Mencuit di Twitter @angtekkhun & @ceritakhun • Nyetatus di FB angtekkhun

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Saya, Metode, dan "Telmi" Statistik

22 Maret 2019   02:22 Diperbarui: 22 Maret 2019   08:38 221 7 1 Mohon Tunggu...
Saya, Metode, dan "Telmi" Statistik
Image: Pixabay.com

Orang-orang ramai berbicara, berkenaan dengan paparan (hasil) survei. Gaungnya terkesan lebih kencang dibanding sebelumnya. Entah benar lebih membahana, atau dikencangkan oleh teknologi komunikasi (massal) dan media sosial (massif). Mungkin juga kondisinya memang demikian. Kedua berjalan seiring: Lantang dan dilantangkan.

Sejak kapan begini? Katakanlah, sejak dulu. Dalam konteks perbincangan hari ini, relatif belum lamalah. Artinya, sejak "alat" ini perkenalkan ke ranah publik luas dan berkenaan langsung dengan kepentingan tertentu, pada seseorang atau sekelompok orang.

Apa materi pokok yang diperbincangkan? Tentu saja soal hasil akhir. Bagi orang awam, ini yang penting. Bukan lainnya. Tidak perlu ditelusuri bagaimana proses menanam buah jeruk, yang penting pada yang tertungkup, didapati manis atau masam. Itu sudah cukup untuk memproduksi emosi.

Orang-orang bilang, ini zaman instan. Mungkin benar, tentu saja sebaiknya minus rujukan pada tipe atau kategori generasi tertentu berbasis tahun lahir. Orang-orang bilang, ini era di mana 24 jam sehari yang diberikan kepada kita, tak lagi memadai dengan kesibukan yang harus dihadapi. 

Dalam bahasa sederhana, mungkin benar, karena didapati pada generasi millenia matang yang membuka akun Twitter demi untuk mengikuti akun-akun yang memviralkan berita-berita media daring. Mereka membaca judul-judul berita yang lewat di linimasa Twitter dan puas. "Saya sudah tahu apa yang terjadi di Indonesia [bahkan dunia] hari ini!"

Tentang Saya yang O'on

Kembali tentang survei. Saya bukanlah orang yang berkecimpung di ekosistem ini dan tidak memiliki kompetensi dengan ilmu ini. Masa kuliah memang pernah memaksa saya mengikuti Matkul Metodologi Penelitian. Empat semester. Cukup melelahkan. 

Namun, ini tidak menjadikan saya pakar. Sebab, lebih diperuntukkan sebagai persiapan untuk penulisan skripsi di ujung masa kuliah. Lagi pula, saya tidak doyan Statistik atau hitung-menghitung yang jlimet. Otak ini rasanya tidak muat.

Namun demikian, ada juga sih yang membuat saya tertarik berkaitan dengan Metodologi Penelitian, yaitu membuat kisi-kisi dan menyusun narasi-narasi untuk dijadikan alat tes. Rasanya, ini sangat menantang. Namun, tetap saja saya dibuat limbung karena untuk membuat narasi-narasi tersebut layak tampil untuk dipanggungkan, harus melewati proses melakukan uji Validitas dan Reliabilitas. Arrghh!

Masa belajar itu, sudah lama lewat. Sudah beku berkarat. Namun, dalam lembar-lembar ingatan yang banyak gugur tentang kuliah Metodologi Penelitian, benak saya masih menyisakan ingatan rapuh tentang beberapa hal. 

Pertama, tentang tersedianya berbagai cara dalam pengambilan sampling. Random, Random Bertingkat, atau apalah. Dia ada di antara premis dan kelompok Subjek yang ingin ditarik datanya. Tentu saja harus ada pakar untuk menyiapkan alat tes ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN