Mohon tunggu...
Khamidah PutriRizki
Khamidah PutriRizki Mohon Tunggu... Mahasiswi Administrasi Pendidikan Universitas Jambi

Mahasiswi Administrasi Pendidikan Universitas Jambi

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Anak Berkebutuhan Khusus Seharusnya Sekolah di Mana?

21 April 2021   10:33 Diperbarui: 21 April 2021   10:37 53 2 0 Mohon Tunggu...

Pendidikan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Pendidikan dapat diperoleh melalui lembaga pendidikan formal, informal dan nonformal. Sekolah adalah lembaga pendidikan formal. Di sekolah, anak juga dibimbing untuk bersosialisasi dengan orang lain. Keberadaan sekolah tidak hanya penting bagi anak-anak biasa atau normal, tetapi juga bermanfaat bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang juga harus berinteraksi dengan orang lain dengan keterbatasan dan kekurangannya sendiri. Anak berkebutuhan khusus sering menjadi sasaran perlakuan diskriminatif oleh orang lain, yang mengakibatkan anak berkebutuhan khusus terasing dari lingkungan sekitarnya. Sekolah biasa atau regular merasa sulit menerima mereka sebagai siswa. Selain itu, SLB terkadang jauh dari lokasi tempat tinggal sehingga banyak anak berkebutuhan khusus yang tidak mengenyam pendidikan.


Lantas demikian perlu disediakan berbagai layanan pendidikan atau sekolah bagi anak berkebutuhan khusus, antara lain sistem pembelajaran, fasilitas penunjang, dan peran penting guru dalam memberikan motivasi dan bimbingan yang membangun. Sekolah yang dianggap cocok untuk anak berkebutuhan khusus adalah sekolah inklusif. Dalam jurnal "Sekolah Inklusi Sebagai Sebuah Solusi Bagi Kesulitan Bersosialisasi Pada Siswa Berkebutuhan Khusus" yang ditulis oleh Taufik Muhtarom, pendidikan inklusi merupakan sistem layanan pendidikan yang menempatkan seluruh siswa berkebutuhan khusus dan siswa biasa lainnya dalam kelas belajar, kurikulum, dan lingkungan dan interaksi sosial tanpa diskriminasi.


Baik atau buruknya sekolah inklusi untuk peserta didik yang difabel, menurut saya tentu ada sisi baik dan buruk yang berasal dari dalam maupun dari luar sekolah. Misalnya saja dilihat dari sudut pandang sosial, bullying bisa mungkin terjadi atau dialami untuk anak difabel, tentu hal demikian tidaklah mencerminkan dari pendidikan multikultural. Terlepas dari itu, baik bagi siswa difabel tersebut yang juga bisa mendapat kesetaraan dalam pendidikan yang diperoleh, dan pada psikologis anak berkebutuhan khusus yaitu dapat memberikan kesempatan bagi perkembangan kepercayaan diri anak berkebutuhan khusus (self esteem). Menempatkan anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi juga bermanfaat bagi keterampilan sosialnya, yang memberi mereka kesempatan untuk belajar berinteraksi dengan orang biasa atau normal.


Menurut saya yang namanya sekolah inklusi pastinya punya konsekuensi untuk mengontrol siswanya secara edukasi maupun sosial karena itu ya sekolahnya punya tanggung jawab besar untuk siswa difabelnya. Sekolah inklusi tidak salah dan tidak buruk jika ada pengontrolan yang baik. Seperti yang dituliskan oleh Jamilah Candra Pratiwi (2015) pada jurnal "Sekolah Inklusi Untuk Anak Berkebutuhan Khusus: Tanggapan Terhadap Tantangan Kedepannya" bahwa mengembangkan model pendidikan bagi guru merupakan salah satu cara alternatif untuk mengurangi tantangan penerapan sekolah inklusi. Dengan memberikan materi atau pelatihan tentang anak berkebutuhan khusus. Guru merupakan inti dari melakukan perubahan, sehingga masukan, pengetahuan dan dukungan dari guru kelas reguler diperlukan untuk meningkatkan kesadaran mereka dalam mengembangkan sekolah inklusi.


Apakah anak difabel dan non-difabel harus dipisah atau bahkan harus gabung sekolah? Sekolah khusus memang punya fasilitas memadai dan pengajar yang memang dikhusukan untuk difabel, namun dengan berada pada lingkungan yang sama dengan dirinya maka anak difabel bisa cenderung menutup diri pada orang-orang normal karena anak difabel lebih merasa dirinya memang berbeda dari orang normal lainnya. Menurut saya sekolah inklusi itu lebih bagus untuk perkembangan edukasinya dan juga sosialnya bahkan psikologis anak berkebutuhan khusus tersebut. Dengan tujuan anak-anak bisa terbiasa baik anak difabel maupun non-difabel. Anak difabel merasa diterima dan tidak menjadi canggung, jadi anak non-difabel pun juga tidak canggung dengan kondisi yang dilihatnya dan bisa berempati. Serta sebagai wujud penerapan pendidikan multikultural.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x