Mohon tunggu...
Khalisha Naura Salsabila
Khalisha Naura Salsabila Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

IPB

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Pembelajaran Daring di Masa Pandemi Covid-19

30 Juli 2021   15:10 Diperbarui: 30 Juli 2021   15:40 30 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pembelajaran Daring di Masa Pandemi Covid-19
1606233228-6103b0ff06310e48975dbe22.jpg

 Gambar 1. Kondisi Pembelajaran Daring 

                  Sumber Gambar : BeritaSatu.com   

 Pada saat ini, dunia sedang menghadapi masalah besar. Sudah sekitar setahun lebih pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia. Hingga bulan Mei saja, tercatat 165,5 juta orang di dunia terinfeksi Covid-19. Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga mempengaruhi kondisi perekonomian, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat di seluruh dunia. Di masa pandemi seperti ini, semua aktivitas yang biasa kita lakukan di luar rumah semua dipindahkan ke rumah masing-masing. Salah satu aktivitas tersebut ialah pembelajaran di sekolah. 

Sejak Pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia, pembelajaran yang biasanya dilakukan di dalam kelas kini harus melalui daring, atau pembelajaran yang dilakukan tanpa tatap muka. Saat ini pemerintahan pusat telah menetapkan kebijakan pembelajaran daring. Berdasarkan surat edaran Kemendikbud No. 40 Tahun 2020 yang menyatakan bahwasannya pelaksanaa Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Desease (Covid-19). Namun, pembelajaran melalui daring ini dinilai kurang efektif dan efisien bagi sebagian orang. Apa yang menjadi alasannya ? Berikut diantaranya.

Alasan pertama mengapa pembelajaran melalui daring dinilai kurang efektif adalah masih kurangnya infrastuktur teknologi yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia khususnya di pedalaman desa. Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Ahmad M. Ramli bahwa sebanyak 12.548 desa di Indonesia belum tersentuh oleh sinyal internet. Bukan hanya itu saja, bahkan masih banyak masyarakat di kota yang daerahnya belum terjangkau oleh internet. Lalu yang kedua, masih banyak pihak pengajar maupun pihak yang di ajar belum memahami cara menggunakan media pembelajaran seperti Google Classroom, Google Meeting dan lain sebagainya. 

Alasan ketiga banyaknya biaya yang kita harus keluarkan untuk membeli kuota internet. Dalam pembelajaran yang menggunakan konferensi video setidaknya dibutuhkan kuota 1 hingga 2 GB dalam waktu 1 jam hingga 2 jam pembelajaran walaupun pemerintah telah memberikan kartu internet ke berbagai sekolah, tetapi itu dinilai tidak cukup bagi para pelajar. Keempat, munculnya tekanan dan stress yang dialami oleh siswa dan mahasiswa. Tekanan dan stress ini dipicu oleh rasa bosan karena metode pembelajaran yang dinilai monoton. Selain itu, saat pembelajaran berlangsung, mereka merasa kurang fokus dan kurang bisa menyerap ilmu yang di sampaikan oleh guru atau dosen mereka. 

Alasan kelima adalah tugas yang diberikan guru cenderung banyak, sementara waktu yang diberikan sangat singkat. Terlebih lagi tugas yang diberikan belum dijelaskan karena keterbatasan yang dialami akibat pandemi Covid-19 ini. Belum lagi, banyak mahasiswa yang harus menunda penelitian mereka karena tidak bisa mengambil data di lapangan. Akibatnya, tugas-tugas terhambat dan target luluspun terancam tertunda.  

 Disamping itu, ada hal positif yang bisa kita ambil dari pembelajaran daring ini. Yang pertama adalah memicu percepatan transformasi pendidikan. Sistem pembelajaran daring yang berbasis teknologi tentunya mendorong institusi pendidikan, guru, siswa, bahkan orang tua untuk melek teknlogi. Ini sangat mempercepat transformasi teknologi pendidikan di negara Indonesia. Hal tersebut tentunya berdampak positif karena pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan sejalan dengan era Revolusi Industri 4.0 yang terus berkembang. Kedua adalah munculnya kreativitas tanpa batas. Dengan adanya pembelajaran daring ini, ilmuwan, peneliti, dosen bahkan mahasiswa mencoba melakukan eksperimen untuk menemukan kreativitas baru dan menghadirkan proses pembelajaran yang afektif dan efisien sehingga dapat melaksanakan proses pembelajaran yang menyenangkan dan tidak membosankan. 

Ketiga, internet berfungsi sebagai sumber informasi yang positif. Kini internet tidak lagi menjadi sarana hiburan atau bermain sosial media saja, tetapi juga digunakan untuk sarana mencari berbagai informasi tentang apapun termasuk materi pembelajaran. Satu lagi hal positif yang bisa kita ambil dari pembelajaran daring adalah penerapan ilmu dalam keluarga. Dalam hal ini siswa dapat mengaplikasikan ilmu di tengah-tengah keluarganya. Bisa dari hal kecil seperti membuka diskusi atau dengan mengajarkan ilmu yang didapat kepada keluarga. Dengan begitu, siswa dapat lebih memahami ilmu yang di dapat dari guru.  

Pada pernyataan di atas dan bukti di lapangan, memang pembelajaran daring tidak seefektif dan tidak seefisien pembelajaran tatap muka. Akan tetapi, dibalik itu masih banyak sisi positif yang bisa kita ambil dari pembelajaran daring ini. Untuk saat ini, selama kita masih menghadapi Covid-19, pembelajaran daring merupakan jalan terbaik agar pendidikan Indonesia tetap berjalan sampai nanti kembali normal. 

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x