Khalid Umar
Khalid Umar Mahasiswa

Khalid adalah mahasiswa Teknik Perminyakan ITB angkatan 2015 yang menekuni analisis keenergian Indonesia. Saat ini Khalid menjabat sebagai Kepala Divisi Kajian Energi Taktis di Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan "PATRA" ITB. | Kontak kami: LinkedIn: https://www.linkedin.com/in/khalid-umar-770527151/ | Email: khalidumar.itb@gmail.com | HP: 085861396841

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Bijak Menerjemahkan Naik Turun Harga BBM

12 Oktober 2018   05:33 Diperbarui: 12 Oktober 2018   05:57 611 0 0

Sebelumnya mari bedakan terlebih dahulu antara Harga Keekonomian dan Harga Jual BBM. Harga Keekonomian adalah harga yang seharusnya dipatok oleh SPBU penjual BBM (Pertamina atau lainnya seperti Shell) yang dihitung berdasarkan nilai BBM di pasar setelah ditambah dengan pajak. Sedangkan Harga Jual adalah Harga BBM setelah dikurangi dengan subsidi atau setelah ditambah dengan margin yang diinginkan SPBU. Selisih antara subsidi atau margin dengan harga kekonomian inilah yang menentukan untung-ruginya SPBU

Tahukah Anda bahwa sejak 2014 tepatnya semenjak mulai berlakunya Perpres No.191 Tahun 2014, BBM diklasifikasikan menjadi tiga jenis?


Melalui peraturan tersebut pemerintah membagi BBM menjadi tiga yaitu Jenis BBM Tertentu, Jenis BBM Khusus Penugasan, dan Jenis BBM Umum. Mari kita kupas satu persatu ketiga jenis BBM tersebut.


Jenis BBM Tertentu terdiri dari Solar dan Minyak Tanah yang wilayah pendistribusiannya mencakup seluruh wilayah di Indonesia. Jenis BBM ini mendapatkan subsidi dari Pemerintah. Harga Jual BBM jenis ini ditetapkan oleh Pemerintah.


Selanjutnya adalah Jenis BBM Khusus Penugasan. Jenis BBM ini terdiri Premium yang wilayah penugasan distribusinya diluar Jawa dan Bali. Jenis BBM ini tidak disubsidi oleh pemerintah. Sehingga berapapun harga jual yang ditetapkan oleh Pemerintah, baik itu menjadikannya untung atau rugi, akan dibebankan ke Pertamina.


Jenis BBM terakhir adalah Jenis BBM Umum yang terdiri dari Premium Jawa Bali, Pertamax series, dan Dex series. Jenis BBM ini tidak disubsidi Pemerintah. Sebelumnya, penentuan harga jual BBM jenis ini ditentukan oleh badan usaha tanpa harus mendapatkan persetujuan Menteri ESDM. Lewat Permen ESDM Nomor 21 Tahun 2018 tentang Perubahan Keempat atas Permen ESDM Nomor 39 Tahun 2014, badan usaha harus mendapatkan persetujuan Menteri ESDM dalam penetapan harga jualnya. Sehingga berapapun harga jual yang ditetapkan oleh Pemerintah, baik itu menjadikannya untung atau rugi, akan dibebankan ke badan usaha tersebut. Namun karena harga minyak terus naik, Pemerintah menerbitkan Permen ESDM Nomor 34 tahun 2018 yang mengatur kembali bahwa perhitungan harga jual eceran jenis BBM Umum di titik serah, untuk setiap liter ditetapkan oleh Badan Usaha.


Hitung-hitungan Harga Kekonomian BBM

Pemerintah melalui Permen ESDM No 39 tahun 2014 mengatur cara penghitungan harga keekonomian ketiga jenis BBM. Berikut adalah penjelasan hitung-hitungannya:

jbt-5bbfd0de43322f5ebf76d1c2.png
jbt-5bbfd0de43322f5ebf76d1c2.png

jbkp-5bbfd164aeebe12e39531064.png
jbkp-5bbfd164aeebe12e39531064.png
jbu-5bbfd12743322f5eaa20e073.png
jbu-5bbfd12743322f5eaa20e073.png
Tabel di atas menjelaskan hitung-hitungan Harga Keekonomian semua jenis BBM. Penjelasan masing-masing komponen adalah sebagai berikut:


a. Nilai Tukar

Nilai Tukar dihitung dari rata-rata kurs tengah Rupiah dari periode 3 bulan sebelumnya. Sehingga kurs yang dipakai saat ini (Juli, Agustus dan September) adalah rata-rata 3 bulan sebelumnya (April, Mei, dan Juni).


b. MoPS

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3