Khairunnisa Musari
Khairunnisa Musari lainnya

"Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu telunjuk (tulisan) mampu menembus jutaan kepala" - Sayyid Quthb. Untuk artikel 'serius', sila mampir ke khairunnisamusari.blogspot.com dan/atau http://www.scribd.com/Khairunnisa%20Musari...

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Chocolate from Jember (1): Berjaya di Dunia, Terasing di Negeri Sendiri

28 Februari 2011   03:40 Diperbarui: 26 Juni 2015   08:12 2826 1 3
Chocolate from Jember (1): Berjaya di Dunia, Terasing di Negeri Sendiri
12988612891809628868

Hari Sabtu lalu, tanggal 26 Februari 2011, saya berkunjung ke Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Jenggawah, Jember. Saya membawa 'pasukan'  yang terdiri dari 80 anak SD kelas 4 (4A 4B, dan 4C), 6 ustadz/ustadzah wali kelas dan pendamping, serta 4 orang anggota Forum Orang Tua Wali Murid dan Lembaga Kelas 4 (FORMULA 4) RSDBI Al-Ikhlash Lumajang. Saya memang merekomendasikan kegiatan outing class ini sebagai program kegiatan FORMULA 4 2010-2011 yang kebetulan saya pimpin. Dalam perkembangannya, saya kemudian bermaksud menunda atau meniadakan kegiatan ini lantaran sejumlah pertimbangan. Pertimbangan ini didasari oleh sejumlah persoalan yang muncul yang sudah pernah saya tuliskan postingannya di "Belajarlah Menghargai Orang Lain, Please...!!!".

12988618911652757525
12988618911652757525
Nah, gara-gara saya banyak ditanyain oleh wali murid, ustadzah, dan terutama anak-anak yang kelihatannya menanti-nanti acara ini, saya pun kemudian berubah pikiran. Bagaimana tidak luluh ketika melihat binar mata anak-anak temannya Nau, anak saya yang pertama yang duduk di kelas 4, yang setiap kali bertemu menanyakan perihal kunjungan ke pabrik cokelat ini. "Tante... Tante... kapan kita ke pabrik cokelat?". Atau dari ustadzah, "Bu... beberapa wali murid dan anak-anak sering nanyain kapan kita ke pabrik cokelat." Waaaaah, langsung dech saya berkoodinasi dengan sejumlah pihak untuk benar-benar merealisasikan kegiatan ini. A
1298862411784150193
1298862411784150193
lhamdulillah, menanti sekitar 3-4 minggu, akhirnya jadi juga kunjungan ke pabrik cokelat pada hari Sabtu lalu. Pabrik cokelat yang kami kunjungi sesungguhnya bukanlah pabrik cokelat komersial yang memproduksi produk olahan cokelat secara massal. Pabrik cokelat ini adalah pabrik skala usaha kecil menengah (UKM) yang dikelola oleh Puslitkoka. Puslitkoka saat ini berada di bawah Kementrian BUMN. Puslitkoka memang memiliki basis sebagai pusat penelitian pengembangan dan bukan sebagai produsen kopi atau cokelat.  Saya merekomendasikan pabrik cokelat ini dikunjungi karena saya pernah menuliskannya dalam kolom ekonomi pada media lokal di penghujung September tahun lalu.  Dari sanalah saya tahu bahwa Puslitkoka berjaya di dunia, tetapi terasing di negeri sendiri. Padahal dari tempat inilah, Indonesia mencoba memberanikan diri untuk menjadi produsen kakao no 1  dunia.
12988633261511535072
12988633261511535072
Berikut saya kutipkan kembali artikel saya tentang Puslitkoka di Kolom Perspektif, Radar Jember, 18 September 2010. Semoga tulisan ini dapat menambah informasi sekaligus menumbuhkan kecintaan kita pada negeri ini. Semoga tulisan ini juga dapat menggugah para elit, baik di pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah, untuk lebih peduli pada aset negeri ini yang secara nyata berprestasi dalam kancah dunia, tapi tak dipandang sebelah mata di negeri sendiri. -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Chocolate from Jember (1)

1298865464609884594
1298865464609884594
Lebaran kemarin hampir bersamaan dengan ultah Naj, anak saya yang kedua. Seorangsahabat di Surabaya memberikan saya budget untuk berbelanja apa saja yang menjadi kesukaan Naj sebagai hadiah ultah. Saya katakan, hadiah yang paling bisa berkesan dan menyenangkan Naj adalah makanan. Sebab, Naj belum bisa menghargai pemberian dalam bentuk materi yang lain selain makanan.

Akhirul kalam, saya membelikan camilan, susu kotak instan rasa coklat, dan tentu saja cokelat itu sendiri sebagai hadiah ultah beratasnamakan Om Bagyo. Ya, anak-anak saya biasa memanggilnya Om Bagyo. Mereka bersahabat dan cukup rutin berkomunikasi via SMS.Nau, anak saya yang sulung, pun ikut kecipratan dan mendapat jatah hadiah dari budget yang diberikan Om Bagyo.

Ketika anak-anak menikmati cokelat batangan, suami saya memperhatikan label yang tertera di pembungkus cokelat tersebut. Ia kemudian menyeletuk, “Jangan-jangan cokelat impor ini sebenarnya bahan bakunya dari Jember. Kualitas cokelatnya Jember kan terkenal dan dikirim ke mana-mana.” Hmm...

Ya, gara-gara hadiah cokelat dari Om Bagyo dan celetukan suami itulah yang membuat saya ingin menulis topik cokelat dalam Perspektif kali ini. Selain tembakau, cokelat sesungguhnya juga bisa menjadi ikon Jember. Siapa sangka, kota kecil ini ternyata menyimpan sejarah panjang sekaligus modernitas dari teknologi kakao.

Mmm… Ada yang bingung ya apa bedanya cokelat dan kakao? Ya, cokelat itu adalah sebutan untuk makanan yang diolah dari biji kakao (Theobroma cacao). Dengan kata lain, biji kakao adalah penghasil bahan baku cokelat. Nah, Indonesia yang dikenal sebagai produsen kakao terbesar kedua di dunia sesungguhnya banyak memperoleh kontribusi besar dari Jember.

12988627431082204147
12988627431082204147
Ya, kehadiran Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember ternyata mampu bertindak lokal dengan pikiran global. Betapa tidak, dari tempat ini muncul teknologi yang menjadi kebanggaan bidang penelitian dan pengembangan varietas perkebunan Indonesia. Teknologi pembibitan Somatic Embriogenesis (SE) yang dikembangkan memungkinkan kegiatan pemuliaan (benih) dilakukan secara massal dari satu tanaman induk. Keadaan ini berbeda dengan teknologi okulasi dan setek konvensional yang hanya bisa memproduksi satu benih dari satu tanaman induk.

Selain mampu diproduksi secara massal, benih kakao hasil SE juga terbukti mempunyai produktivitas sangat tinggi. Konon, Indonesia menjadi satu-satunya negara di dunia yang mampu memproduksi benih kakao secara massal dari satu tanaman induk. Puslitkoka Jember bahkan dikabarkan memperoleh hak pengembangan dari Nestle, perusahaan multi nasional asal Perancis.

Ya, Puslitkoka bukan saja sebuah bangunan sejarah yang menjadi saksi kejayaan kakao Jember. Tempat ini juga adalah museum pertanian dan perkebunan karena menyimpan varietas tanaman pertanian dan perkebunan yang usianya sudah tua. Sejak zaman Belanda, potensi alam Jember sangat dipahami betul oleh pemerintah kolonial. Budidaya tanaman pertanian dan perkebunan memang tumbuh sangat baik di kawasan ini. Kakao adalah salah satu komoditas unggulannya. Belanda kemudian mendirikan Puslitkoka untuk riset pengembangan komoditas.

Aduuuh, apa sih yang enggak ada di Jember ini!!! Semua sudah ada di sini. Tinggal bagaimana kita mengelolanya saja. Kakao Jember harusnya mampu menjadi pemain utama nasional. Setidaknya, Puslitkoka harusnya mampu menjadi think-tank bagi masa depan kakao nasional. Dari sini, pemerintah harusnya dapat mengambil banyak manfaat. Di tempat ini terdapat teknologi pengolahan kakao hingga pemanfaatan kulit kakao sebagai sumber energi. Selain itu, terdapat juga teknologi biogas dan pengkomposan dengan aerasi pasif untuk berbagai limbah padat hasil kakao.

12988619762048754467
12988619762048754467
Ketika saya mencoba googling keberadaan Puslitkoka di Jember, saya mengetahui bahwa lembaga penelitian ini ternyata juga memiliki pabrik pengolahan kakao yang didirikan mendampingi kebun kakao yang luasnya 60 ha. Dengan kebun seluas itu, dapat dihasilkan kakao yang cukup untuk memproduksi cokelat olahan hingga 300 kg per hari. Meski harga jual cokelat produksi pabrik lokal ini cukup terjangkau oleh pasar menengah ke bawah, namun nyatanya tak mampu mendongkrak pasar. Bahkan, permintaan cenderung turun. Meski telah melakukan upaya efisiensi di segala lini, tetapi jika tiada dukungan kongkret dari pemerintah daerah untuk memberi jalan terbukanya pasar, bisa jadi pabrik cokelat ini tidak berkutik sama sekali.

Mengapa pemerintah daerah perlu turun tangan? Ya, ini tidak lepas dari visipemerintah pusat yang berencana untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen kakao terbesar di dunia. Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian memperkirakan Indonesia pada 2015 mampu mewujudkannya.

1298864727359170547
1298864727359170547
Saat ini, Indonesia merupakan negara produsen kakao terbesar kedua di dunia setelah Pantai Gading. Dengan luas areal tanam 1.563.423 ha dan produksi 795.581 ton, Indonesia berada di bawah Pantai Gading yang memiliki produktivitas mencapai 1,5 ton per ha. Dengan menggunakan teknologi SE untuk perbanyakan benih yang diproduksi Puslitkoka Jember, diprediksi kemampuan produksi Indonesia akan mampu melampaui Pantai Gading.

Hasil uji coba di lapangan, benih kakao SE mampu menghasilkan lebih dari 2 ton per ha. Potensi kemampuannya bahkan diperkirakan dapat mencapai 4 ton per ha. Dengan tingkat produktivitas seperti itu, keinginan Indonesia untuk menjadi produsen kakao terbesar dunia pada 2015 bukanlah mimpi. Peluang inilah yang harusnya dapat direspon cepat oleh pemerintah daerah. (Bersambung)