Mohon tunggu...
Khairudin M. Ali
Khairudin M. Ali Mohon Tunggu...

Seorang wartawan...

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Gowes Seru, Dikejar Anjing hingga Kram Paha

16 Oktober 2015   05:05 Diperbarui: 16 Oktober 2015   08:10 140 2 0 Mohon Tunggu...

MINGGU pagi kemarin, 11 Oktober 2015 saya bersama kawan-kawan KBC (Konstanta Bima Club) gowes dari Kota Bima menuju Woha. Jalur yang ditempuh, ternyata sudah pernah dilalui oleh Ketua KBC, dokter Irfan. Mantan Ketua PKS Kabupaten Bima ini ternyata sudah menjajal banyak rute panjang, hanya sendirian. Kali ini, kami diajaknya serta.

Sekitar pukul 06.05 Wita, 10 orang sudah berkumpul di Paruga Na’e Convention Hall. Selain Ketua KBC, dr Irfan, ikut hadir di antaranya Pak Khairul F. Nawawi Kacab BNI ’46 Bima, drg Ihsan Direktur RSUD Bima, H Rasyid Harman, M. Syaiful Bahri, Tulis Tyanto, Muhammad Jafar, Pak Fauzi, juga beberapa kawan lain. Jalur yang dipilih kali ini, Kota Bima-Tente-Waduwani-Pucuke-Keli-Risa-Pandai-Talabiu-Kota Bima. Jaraknya yang ditempuh sekitar 66 kilometer. Sebagian besar adalah aspal hotmix, kecuali sekitar 3 kilometer di barat Risa menuju dusun Kumbe dan dusun Mbaju hingga Desa Pandai.

Bagi saya, ini kali pertama bisa ikut gowes bareng dengan kawan-kawan KBC keluar kota. Sebelumnya saya hanya ikut jalur ke Tolower di Nungga dan balik kota. Jalur ini sih tidak seberapa, karena memang budah dijangkau. Tidak sarapan pun tidak terlalu menjadi masalah. Tetapi jalur kedua menuju Woha ini memiliki tingkat tantangan yang tidak ringan, apalagi buat pemula.

Adalah dr Irfan yang mengusulkan rete ini. Rupanya Ketua KBC ini sudah menjajakinya sendirian. Luar biasa menurut saya, karena jarak tempunya lumayan jauh. Kalau jalan ke Dompu, itu setara dengan Kota Bima hingga Doro Tangga. Artinya kurang 4 kilometer lagi, sudah sama dengan gowes Kota Bima-Kota Dompu. ‘’Ini kita anggap sebagai sesei latihan, karena kita rencakan akan gowes ke pantai Lakey di Dompu,’’ kata dr Irfan.

Irfan banyak bercerita tentang jalur ini. Termasuk adanya anjing galak di sebuah kebun dekat pertigaan so Mbaju dan Pandai. Kami tidak berpikir terlalu ekstrim soal ini, karena biasanya anjing kalau sudah dilempari batu-batu kecil akan lari. Tetapi Irfan mengatakan anjingnya sangat galak. Ini menjadi salah satu topik selama kami gowes pada pagi Minggu itu. Saya sendiri baru kali ini pula bersepeda di jalur ini, walau ini menuju kampung halaman nenek saya di Keli dan Risa.

Semasa kecil, saya sering kali diajak almarhum ayah untuk berlibur di desa yang asri ini. Dahulu masih lumayan hijau, ada air kali tempa saya biasanya berendam dan berenang di ujung selata Desa Risa. Pagi-pagi saya sudah diajak oleh paman-paman di sini untuk ikutan ke sawah memetik buah tomat dan timun untuk dijual. Malamnya kami begadang menjaga tanaman sambil rebus ubi. Desa Risa dan Keli merupakan penghasil sayuran selain Samili dan Kalampa di Kecamatan Woha. Bagi buta usai shalat subuh, masyarakat sudah sibuk hendak ke pasar untuk menjual hasil panen mereka. Ada pula pengumpul yang datang membeli langsung di sawah untuk mereka jual lagi. Kehidupan masyarakat Risa dan Keli yang umumnya bertani, hingga kini masih berlangsung. Bahkan lahan kosong yang dahulu hanya ditumbuhi semak di bagian Barat kampung kini sudah jadi kebin jagung, hingga ke So Mbaju dekat Pandai. Warga Risa dan Keli cukup ulet. Hasil pertanian mereka selain untuk menyekolahkan anak-anaknya, juga ditabung untuk menuanikan ibadah haji. Jadi tidak heran, rata-rata masyarakatnya sudah bergelar haji.

Kembali ke gowes bersama KBC, kami memilih jalur Tente-Waduwani. Bagi saya, di Waduwani pun memiliki banyak kerabat. Saya hanya mendatangi kampung itu puluhan tahun lalu untuk makan biji rumput Karebe. Rumput ini hanya ada di tempat semacam rawa di selatan Desa Waduwani. Rasanya enak dan khas. Saya sudah tidak menemukannya lagi saat ini. Saya juga baru tahu kalau ada jalur yang sudah beraspal mulus menuju ke Desa Keli. Tanah datar yang sudah dijadikan kebun oleh masyarakat. Terlihat subur, bahkan di antaranya ditanami dengan bawang oleh petani yang mampu membeli mesin pompa air untuk musim kemarau separti sekarang ini. Jalan ini mulus hingga ke Desa Keli. Sampai di Desa Keli, kami memilih belok kanan ke arah utara menuju Desa Risa. Saya tadinya sangat berharap bisa bertemu dengan air yang dahulu sering saya pakai berenang dan berendam di selatan desa.

Ternyata saya kecewa karena sudah kering kerontang. ‘’Ini desa nenek saya. Saya punya keluarga besar di sini,’’ kata saya pada kawan-kawan.
Di pertigaan, kami memilih belok kiri menuju ke arah barat. Hanya sekitar 1 kilometer jalan yang sudah diaspal. Selebihnya kami akan melewati jalan berbatu menuju dusun Kumbe dan dusun Mbaju di sebelah selatan Desa Pandai. Baru beberapa puluh meter melewati jalan berbatu, saya memutuskan untuk mengurangi tekanan ban, karena rasanya terlalu keras guncangannya. Saya sedikit tertinggal karena butuh waktu dalam proses mengurangi tekanan dua ban sepeda saya. Setelah berupaya keras menyusul, saya kaget karena Pak Jafar terlihat tidur di tanah. ‘’Pak Jafar jatuh. Ban depan menabrak batu dan sepeda fidak bisa dikendalikan,’’ kata Pak Syaiful. Untung kondisinya tidak parah.

Pada saat insiden ini terjadi, Pak Irfan, Pak Khaerul Nawawi, dan drg Ihsan sudah jauh di depan. Pak Syaiful menghubungi untuk mengabarkan kejadian tersebut. Kami ditunggu di ujung jalan berkelok. Untungnya Pak Jafar tidak parah dalam kecelakaan tunggal itu. Dia hanya terkaget karena tidak bisa menguasai keadaan. Setelah istirahan beberapa waktu, Pak Jafar sudah siap melanjutkan perjalanan. ‘’Ini sudah setengah jalan,’’ kata Pak Irfan sambil mengingatkan untuk siap-siap menghadapi anjing galak.

Pak Jafar terjatuh sekitar seratus meter sebelum masuk ke dusun Kumbe Desa Risa. Memasuki dusun ini, banyak kami temui masyarakat yang berprofesi sebagai pandai besi. Di sini yang saya lihat sudah tidak lagi memompa angin untuk meniup api yang memanaskan besi. Sudah ada alat khusus yang menggunakan dinamo kipas. Tentu sudah modern dan serba praktis. Tidak seperti dahulu ketika saya masih kanak-kanak. Pandai besi harus dibantu seorang tenaga yang memompa angin untuk meniup api supaya tetap membara agar besi bisa diolah menjadi berbagai barang keperluan sehari-hari. Saat itu waktu sudah menunjukkan angka sepuluh lewat. Kami mulai masuk daerah panas meranggas antara dusun Kumbe dengan dusun Mbajo.

Sebenarnya kalau kami gowes pada musim hujan, pemandangannya pasti akan berbeda. Hijau oleh tanaman jagung dan aneka sayuran. Rupanya sengat matahari yang sudah semakin panas ini, mempengaruhi fisik saya. ‘’Awas-awas. Siapa yang paling depan tuh, siapkan batu-batu kecil untuk lempar anjing galak di kebun depan itu,’’ kata Pak Irfan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x