Lingkungan

Ketika Laut Tak Hanya Asin, Juga Asam

9 November 2018   11:41 Diperbarui: 12 November 2018   08:18 264 1 2
Ketika Laut Tak Hanya Asin, Juga Asam
Gambar 1. Siklus Pengasaman Laut (Sumber gambar: oceanacidification.org.uk)

"It's not too late for coral reefs...  indeed, for many other ecosystems that are facing challenges from climate change. It's still possible to reduce the rate at which the climate is changing, and that's within our power today."
 -- Dr. Ove Hoegh-Guldberg


Tahukah anda bahwa terumbu karang merupakan golongan hewan? yang merupakan rumah dari ratusan hingga ribuan spesies di dalam laut? Filter alami untuk menjaga kualitas air laut? Sebagai pelindung pantai dari gelombang laut yang tinggi? Penting sebagai sumber pengembangan obat-obatan kanker dan penyakit lainnya?  


Namun semua akan terganggu ketika 60% dari total terumbu karang terancam rusak akibat aktivitas manusia? Dimana salah satu penyebabnya adalah air laut tidak hanya asin, namun juga asam?

Ya, asam yang serupa pada mangkuk bakso anda yang ditambahkan asam cuka, asam yang berada di lambung anda sebagai pelumat makanan, asam yang ada pada lipatan lengan anda setelah seharian beraktivitas, dan asam yang anda cium ketika anda berada dekat pada asap gunung berapi. Asam dikategorikan sebagai karakteristik fisik dengan ukuran pH ketika nilai pH lebih kecil dari 7 (netral) dimana lawannya disebut basa ketika nilai pH>7




Pengasaman laut atau Ocean Acidification adalah perubahan kimia air laut akibat peningkatan karbon dioksida di atmosfer. Karbon dioksida (CO2) yang terserap oleh air laut inilah yang mengakibatkan perubahan kimia air laut. Karbon dioksida dalam air dapat menimbulkan pembentukan asam karbonat (H2CO3), sehingga menyebabkan pH laut turun sebesar 0,1 unit. Meskipun ini terlihat seperti bukan sebuah perubahan besar, namun skala pH adalah skala logaritma. Dengan demikian, 0,1 satuan perubahan pH diterjemahkan ke dalam peningkatan 30 % pada ion hidrogen. Bahkan diproyeksikan turun lagi sebesar 0,3-0,4 unit pada akhir abad ini bila emisi gas CO2 terus bertambah. Peningkatan emisi CO2 yang menyebabkan pengasaman laut dipengaruhi oleh beberapa hal salah satu "tersangkanya" siapa lagi kalau bukan akibat global warming (Afandi, 2009).

Tidak semua CO2 yang dihasilkan oleh kegiatan industri manusia tetap berada di atmosfer, sekitar 25% dan 50% dari emisi tersebut selama masa industri telah diserap oleh lautan di seluruh dunia. Fenomena ini akan membuat pH di permukaan laut menurun dari seperti pada tahun 1751 sampai 2004 ph menurun dari 8,25 menjadi 8,14 (Kambey, 2013).

Pada ekosistem terumbu karang, pengasaman air laut dapat meningkatkan coral bleaching, menurunkan produktivitas dan calcification yang terjadi pada organisme yang hidup di terumbu karang.

Menurunkan produktivitas dan proses "Calcification"

Terumbu karang terbangun dari CaCO3 , pengendapan CaCO3 oleh karang dan organisme lain yang hidup di terumbu karang ditentukan oleh saturasi CaCO3 pada air laut () dan temperatur permukaan laut (SST). Calcification adalah proses dimana karang memproduksi CaCO3.

Tiga contoh karang pembangun terumbu karang adalah : staghorn corals (Acropora intermedia), massive corals (Porites lobata), dan crustose coralline algae (Porolithon onkodes).              


Asamnya air laut mempersulit terumbu karang untuk membentuk cangkang yang keras sehingga memutih dan rapuh. Akibatnya bisa dibayangkan, ketika rumah untuk berlindung rapuh, spesies-spesies yang bernaung dan bermutualisme di antara terumbu karang turut terancam kelangsungan hidupnya. Salah satu spesies laut yang membutuhkan terumbu karang adalah pteropods yang merupakan dasar dari rantai-rantai makanan bagi biota laut. Jika pteropods terancam punah maka nantinya akan menjadi dampak serius bagi rantai makan yang ada di laut. Selain itu dampak kerusakan laut dari fenomena pengasaman laut yang ini juga menimbulkan berbagai kerugian pada sektor perikanan, perekonomian, serta pada industri pariwisata (Feely dkk. 2006).


Coral Bleaching

Seperti rambut anda yang diputihkan saat di salon untuk mendapatkan rambut dengan warna menarik, proses "bleach" juga terjadi pada terumbu karang, namun pemutihan ini akibat rapuh dan matinya terumbu karang.

Dalam ekosistem terumbu karang dikenal hubungan simbiotik antara karang dengan alga yang hidup di dalam jaringan karang, karang akan memberikan tempat perlindungan untuk alga dan alga akan memberikan warna dan nutrien yang dibutuhkan karang untuk tumbuh (90% energi karang berasal dari alga).

Proses coral bleaching terjadi ketika karang terpaksa mengeluarkan alga yang hidup didalam jaringannya dikarenakan air laut yang terlalu hangat, menyebabkan karang kehilangan sumber energi dan lama-lama akan mati. Meningkatnya konsentrasi CO2 di udara bersamaan dengan peningkatan temperatur di permukaan air laut menyebabkan meningkatnya proses coral bleaching yang mempunyai konsekuensi penurunan pertumbuhan, reproduksi dan daya tahan hidup karang.

Mari Kita Lihat Faktanya 

Berikut beberapa gambar perbandingan terumbu karang sebelum dan sesudah terjadinya coral bleaching, sumber gambar menarik lainnya dapat dilihat pada alamat ini coralreefimagebank

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2