Mohon tunggu...
Renita Yulistiana
Renita Yulistiana Mohon Tunggu... Literasi

Gerakan Suka Baca -- Yayasan Taman Baca Inovator

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Rabu yang Lain di Pekan Ini

30 Oktober 2020   01:04 Diperbarui: 30 Oktober 2020   01:07 42 9 3 Mohon Tunggu...

"Kayaknya sekarang kita cuma butuh berdoa buat minta keikhlasan aja deh." Begitu bunyi pesan yang saya kirimkan kepada seorang teman melalui aplikasi WhatsApp. Rabu, bagi saya selalu menjadi hari yang menjemukan. Mungkin, karena posisinya di tengah-tengah, sehingga sebagian energi sudah terkuras pada hari sebelumnya.

Saya banyak berkhayal di setiap Rabu, seperti: membayangkan kereta api yang bisa terbang, berkeliling dengan bus oranye Metrotrans--kemudian mencabuti rumput Lapangan Banteng, dan rela berjalan kaki--lalu menelan paksa Bubur Cikini yang tidak saya sukai.

Tapi tidak untuk Rabu pekan ini. Pesan "asal" yang saya kirimkan ke teman, membuat kami mengatur pertemuan sepulang kerja, di rumah teman saya yang lain. Basecamp langganan, bilangan Cipedak--Jagakarsa. Saya datang jam 9 malam, dengan membawa Sate Padang, seplastik gorengan, dan sebungkus keripik singkong. Sengaja, saya siapkan untuk bekal kami mengobrol hingga tengah malam. Apalagi, esok harinya libur tanggal merah.

Pesan nampaknya tidak selalu bersifat mutlak untuk menjadi acuan topik pembicaraan. Kami justru tidak membahas soal doa dan keikhlasan. Kami lebih semangat untuk membahas rencana melanjutkan pendidikan tingkat magister, sebelum menginjak 30 tahun. Saya hanya mengobrol berdua. Teman saya pemilik basecamp ikut sekenanya. Sebab, ia sedang sibuk menjalani mabar PUBG.

Obrolan kami dimulai soal kecemasan biaya kuliah S2 yang mahal. Teman saya, mengincar kampus Atmajaya atau Trisakti. Selain dekat dari tempat ia bekerja, jurusan yang diinginkan tersedia di sana. Ia harus menyiapkan biaya sekitar 200 juta, jika ingin berkuliah hingga selesai.

Lalu, saya melontarkan hal receh nan konvensional, "menurut lu, anggapan laki-laki akan minder kalau perempuan pendidikannya lebih tinggi masih ada gak ya?"

Teman saya menjawab, "tergantung sih, tapi gua rasa di lingkungan usia kita fine sih, sebuah hal yang wajar kok perempuan lanjut kuliah."

Kami sepakat, lanjut kuliah boleh dibilang dibutuhkan, karena akan membuat otak terlatih melakukan proses berpikir. Presentasi, penelitian, tugas akhir, dan tentunya tesis. 

Saya berencana menjadi dosen atau kepala sekolah, dan akan mengambil magister pendidikan. Lalu, teman saya berencana menjadi pengambil keputusan, dan akan mengambil magister manajemen. Namun, kami tidak ngoyo, jika timeline itu meleset, setidaknya kami sudah tahu arah hidup mau ke mana.

Sesekali, kami membicarakan cinta meskipun tidak terstruktur. Masing-masing dari kami, memiliki harapannya. Master PUBG, berharap mendapat pasangan yang bucin, agar tidak ada yang dikhawatirkan jika ia melakukan kesalahan. 

Sedangkan si pengambil keputusan, berharap mendapat pasangan yang sefrekuensi dengannya--atau representasi bosnya di kantor. Sementara saya, berharap menemukan pasangan yang mendukung komunitas dan menua dengan produktif membuat karya bersama.

Tidak terasa sudah jam 12 malam. Kamipun pamit pulang, karena takut jalanan semakin gelap. Saya tidak ingin obrolan ini hanya omong kosong dan menjadi angan [tanpa] sungguhan.

Namun, nyatanya selesai mengobrol, di perjalanan pulang saya kembali menjadi penakut. Lalu, saya kembali berdoa dan meminta keikhlasan, atas apapun alur hidup yang harus saya alami nanti.

Semoga: saya tidak bernasib seperti Soe Hok Gie. Pintar menyembunyikan apa yang betul-betul dirasakan, hingga akhirnya dihabisi Semeru.

Renita Yulistiana
Yang akan berani di 2021
30 Oktober 2020

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x