Maulida Husnia Z.
Maulida Husnia Z. Mahasiswa

Islamic Early Childhood Education

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Yuk Menanamkan Nilai Positif pada Anak

13 Februari 2018   22:03 Diperbarui: 14 Februari 2018   11:23 930 4 2
Yuk Menanamkan Nilai Positif pada Anak
Ilustrasi (stevenaitchison.co.uk)

Jika kata "guru" merujuk pada orang tua anak disekolah, maka tak ayal lagi jika gelar guru dirumah adalah milik orang tua. Meskipun begitu, memang pada hakikatnya orang tualah pendidikan pertama seorang anak, terutama ibu. Seperti sebuah hadits Nabi Muhammad SAW, "Al-ummu madrasatul ula, idza a'dadtaha a'dadta sya'ban thayyibal a'raq" yang mempunyai arti "ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik".

Ketika menjadi orang tua, berarti ketika itu juga mereka akan memainkan banyak peran. Adakalanya orang tua menjadi psikiater, guru, dan masih banyak lagi peran yang lainnya teruntuk buah hati tercinta. Orang tua juga harus dituntut bisa memutar otak dalam menghadapai polah anak yang banyak maunya dan susah diatur. Apalagi orang tua zaman now dengan anaknya yang juga zaman now.

Bagi para orang tua yang mempunyai anak usia dini, alangkah baiknya untuk tidak lupa menanamkan nilai-nilai positif nan budiman pada buah hati. Ini dimaksudkan agar kelak si anak dapat tumbuh dan berkembang dengan nilai positif yang telah ditanam. Misal, mengajari anak agar hidup hemat, bertanggung jawab, dan lain lain.

Namun, mengajari anak usia dini tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Sikap terpuji pada anak seringkali bersumber dari suatu kebiasaan. Dan menanamkan kebiasaan yang baik pada anak, sejatinya membutuhkan contoh langsung yang konkrit, yang dapat ia dengar dan ia lihat.

Berikut saya rangkum beberapa poin penting yang bisa diterapkan ayah dan bunda kepada buah hati dirumah:

Melatih anak merapikan kembali mainannya

Selain untuk kerapian dan kebersihan, membiasakan anak untuk merapikan mainannya juga dapat melatih sikap tanggung jawab secara tidak langsung. Latih anak untuk mengembalikan mainan ke tempat semula dengan halus. Contoh, "Adek mainnya sudah? Kalau sudah, mainannya diantar pulang yuk.. Rumahnya ada di kardus itu, nanti kalau nggak dimasukin kardus mainannya nangis.. mainannya pengen pulang ke rumah"

Pura-pura tidak tahu

Ketika bercengkerama dan bermain dengan anak, orang tua bisa melatih kepercayaan diri anak dengan pura-pura tidak bisa melakukan hal yang anak bisa. Dengan berpura-pura, maka anak akan terpicu untuk mengajari apa yang ia mampu. Kesadaran bahwa anak bisa mengajari suatu hal, atau kesadaran bisa memimpin suatu permainan yang tidak kita mengerti, dapat menumbuhkan rasa percaya diri sang buah hati.

Senantiasa mengajak anak berinteraksi

Kebanyakan anak zaman sekarang malah bersifat individualis dan cenderung angkuh karena kadar interaksi dengan gadget lebih tinggi daripada interaksi dengan orang tua.

Maka dari itu, orang tua diharapkan untuk berinteraksi dengan anak sesering mungkin. Bahkan kalau bisa, dampingilah anak selama ia bermain. Sering berinteraksi  dapat melatih anak untuk tidak menjadi pribadi yang tertutup. Kemudian, hal itu juga dapat menumbuhkan kepercayaan dan kedekatan anak dengan orang tuanya.

***

Semoga bermanfaat