Mohon tunggu...
Cuttsilmi
Cuttsilmi Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswi

"Padre, ada banyak hal yang ingin aku ceritakan. Mampirlah ke mimpiku."

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Menyegerakan Satu Fase Kehidupan

22 Januari 2021   15:55 Diperbarui: 20 Juli 2021   21:31 235
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

Desisan angin di siang hari, membawa kesyahduan atas pilunya masa lalu yang kelam. Di luar sana juga terdengar obrolan ringan para pemuda kampung yang tengah membuat kandang dan gemuruh riang di langit pertanda hujan akan segera datang.

Ruangan hampa. Cahaya sedikit menerobos masuk melalui celah jendela. Ruangan dengan warna coklat susu dan baju pramuka zaman dulu, menjadi tempat favorit untuk melepas penat setelah seharian beraktivitas didepan layar. Dan ditempat itulah seorang gadis teringat kenangan demi kenangan masa lalunya.

Ia mengira bahwa hidup akan terasa lebih cepat ketika ia memutuskan untuk menyibukkan dirinya dengan segala aktivitas. Ia mengira bahwa hidup akan terasa lebih mudah ketika ia memutuskan untuk melupakan masa lalunya. Membuang jauh-jauh ketika ingatan masa lalunya datang.

Ia kira demikian.

Tapi segalanya terasa sia-sia saja. Ketika mencoba merelakan, malah terasa menyesakkan. Ketika mencoba membuang kenangan, malah ingatan itu semakin datang. huum.. melelahkan memang.

Kemudian ia memutuskan untuk pasrah. Tidak memaksakan ingatan agar melupakan. Ia mulai menerima segala kenangan, sebagai balasan untuk melupakan. Karena menerima sama dengan mengikhlaskan. Mengikhlaskan yang pergi lalu menerima yang hendak menyegerakan lantas meminang. Sesimpel itu.

Menyegerakan.

Kini ia sadar bahwa menyegerakan bukan tentang terburu-buru tanpa ilmu apalagi tanpa kepastian. Karena menyegerakan juga butuh penantian. Terlepas dari penantian yang panjang atau tidak. Dalam penantian seharusnya banyak pembelajaran; Kesabaran yang entah ia harus menunggu sampai kapan, ikhtiar yang berkelanjutan dan pengorbanan yang tak berkesudahan. Karena mitsaaqon gholiidzaa atau pernikahan tidak hanya sampai kata 'sah' saja.

Setiap orang pasti menginginkan rumah tangga yang sakinah mawaddah dan rahmah. Rumah tangga yang kalau kita masuk di dalamnya terdapat  ketentraman hati dan ketenangan jiwa. 

Saling merajut cinta dan harapan, kemudian saling menebar kasih dan sayang. Untuk mewujudkannya dibutuhkan ilmu dan pembelajaran yang tidak berkesudahan tetapi memang harus disegerakan. Bukan karena terburu-buru melihat rekan yang duluan apalagi sekedar baper karena melihat postingan di instagram.

Semua butuh dipersiapkan. Persiapan ilmu agama yang matang, kemampuan finansial, ilmu pranikah dan parenting. Karena seni dalam mendidik anak juga diperlukan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun