Mohon tunggu...
Ratno
Ratno Mohon Tunggu... Guru Indonesia

Kauman

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen: Misteri Kelelawar Yu Karti

8 Mei 2020   05:30 Diperbarui: 10 Mei 2020   02:24 370 16 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen: Misteri Kelelawar Yu Karti
ilustrasi kelelawar kecil. (sumber: pexels.com/@hitchhike)

"Ke mana orang ini, jangan-jangan nekat pergi ke ladang nanam jagung," suara Yu Karti ngedumel sendiri sambil ngulek lombok mau bikin sambal trasi.

Tanpa pikir panjang Yu Karti menyusul suaminya ke ladang dengan gaya ngedumelnya sepanjang jalan seperti orang kurang waras. Ladang yang terletek di pinggir sungai tidak jauh dari rumahnya. 

Sepanjang sungai dekat ladangnya dikelilinggi pohon pandan berduri yang terkesan angker. Pohon pandan biasanya oleh orang-orang kampung dibuat tikar untuk mengisi waktu senggang bila pekerjaan di sawah sedang fakum.

Sedangkan ladang sebelah selatan dan barat dipagari dengan berbagai pohon pepaya, pohon kelor, pohon nangka, pohon srikaya dan berbagai sayuran pagar seperti kecipir dan koro. Lengkap sudah bahan sayur dan buah untuk kebutuhan masak sehari-hari, tinggal petik secara bergantian

Di seberang utara sungai nampak segerombol pohon kepuh menjulang tinggi bertengger di bukit kecil. Pohon tersebut menjadi tempat yang nyaman untuk berlindung bagi ratusan kelelawar raksasa. 

Orang kampung lebih familier menyebutnya hewan kalong. Pohon kepuh menpunyai ciri khas daunnya jarang yang menjadi kesukaan kalong untuk tidur atau bercengkerama bergelantungan di siang hari, mungkin capek karena di malam hari keluyuran melalang buana mencari makan.

Yang lebih menarik lagi di bukit tersebut terdapat satu makam yang dinaungi gubuk kecil seukuran panjang makam tersebut. Kurang jelas bagaimana sejarah makam tersebut. Orang kampung menyebutnya cungkup keramat.

Mitosnya di cungkup keramat sebagai ekornya naga sedang bertapa dan kepalanya berada di sendang sebelah tenggara yang berjarak kira-kira dua kilometer. Sendang tersebut terletak masih satu kampung yang bernama kampung Ringin Anom.

Sendang Ringin Anom merupakan sumur kecil yang menjadi andalan sumber air sebagian warga kampung tersebut. Sama dengan cungkup keramat sendang tersebut juga menjadi habitat nyaman bagi kalong-kalong juga.

Dengan cekatan tangan Yu Karti menarik tangan Pak Tompo suaminya, merampas sisa benih jagung yang sedang ditanam.

"Kamu itu gimana to Pak Pak, apa telinggamu kemarin ngak denger ya? Dibilangin ndakik-ndakik kok ngak ngubris, capek aku," suara Yu Karti tersendat-sendat.

"Pak besok ngak usah nanam jagung dulu ya, kan hujannya baru tiga kali saja, tanah juga belum basah sampai dalam, saya kawatir kalau nanti terlanjur nanam, hujan berikutnya belum turun lagi. Eman nanti uang hanya dikit kita mementingkan beli benih jagung, nanti ngak tumbuh jagungnya, kita nunggu aja kalau hujannya sudah sering,"pinta Yu Karti dengan semangat kemaren sore waktu di rumah.

Tiba-tiba Yu Karti badanya kejang-kejang dan jatuh ke tanah. Dengan mata tertutup, gigi menggigit dengan bibir dibuka yang atas dan bawah, sehingga nampak dua giginya berwarna keemasan menghiasi mulutnya. Tetapi Pak Tompo nampak tidak begitu heran atau ketakutan melihat istrinya, seperti hal yang biasa terjadi.

Tak lama kemudian Yu Karti membuka matanya dan duduk terdiam lalu menangis, bukan pertanda Yu Karti sudah sadar, tetapi dia malah ngomel, menangis dengan mata berkedip-kedip dengan kecepatan tinggi.

"Kamu, kamu Tompo, mengapa hewan peliharaanku kamu bunuh dan kamu makan!"guman Yu Karti dengan mata berkedip-kedip.

"Itu lagi, itu lagi yang diucapkanya,"batin Tompo sambil komat-kamit mengucapkan do'a-do'a pengusir setan yang menempel pada tubuh Karti.

Selama ini Tompo merasa dipersalahkan terus oleh setan yang merasuki tubuh Karti. Tanpa sengaja tiga bulan yang lalu Tompo waktu berladang tiba-tiba ada seekor kalong yang jatuh berdarah-darah di ladangnya.

"Ya lumayan bisa untuk lauk seharian," guman Tompo sambil menguliti kalong yang ditembak pemburu tadi pagi.

Tompo memasak sendiri karena kebetulan Yu Karti istrinya pergi ke pasar. Sudah menjadi kebiasaan warga kampung menjadikan kalong sebagai hewan buruan. Selain dagingnya enak disantap, juga tulang pahanya dipergunakan untuk once (pipa penghisap rokok)

"Pak masak apa ini baunya kok gurih?" tanya Yu Karti setiba dari pasar. 

Tanpa sengaja Yu Karti sambil menaruh tas belanjaan di dapur melihat sosok kepala kalong yang masih belum dibuang oleh Tompo yang memang kepalanya sengaja tidak ikut dimasak.

Seketika itu Yu Karti kejang-kejang melihat kalong yang dibunuh oleh suaminya. Dan beberapa saat Yu Karti ngomel seperti orang kesurupan marahnya bukan main.

"Manusia apa kamu itu Tompo? kok ngragas (pemakan segala), binatang peliharaanku kamu bunuh dan kamu makan. Semua kalong di kampung ini adalah peliharaanku semua, tidak seorangpun boleh membunub dan memakannya. Aku bersumpah serapah apabila ada ramainya jaman manusia akan dibunuh oleh kalong itu sendiri.

Tidak mudah memburu kalong, selain tempatnya yang menjulang tinggi, kebiasaan kalong apabila kena bandil (alat manual semacam ketapel) tetapi tidak pakai kayu dan karet pegas. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x