Mohon tunggu...
Dzulhizam
Dzulhizam Mohon Tunggu... -

Tersesat.

Selanjutnya

Tutup

Inovasi

Universalitas Beragama

31 Oktober 2015   07:23 Diperbarui: 31 Oktober 2015   07:48 184
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Ilutrasi: Googling Image/Toleransi Agama"][/caption]

Dalam kurun waktu yang sangat panjang, agama terus bergulir menampakan entitasnya sebagai salah satu jembatan untuk sampai pada Tuhan. Walau demikian, cerita akan keber-agama-an tidak usai sampai pada salah satunya, karena perbedaan pemahaman agama pun membuah, beranak-pinak, dan bertangkai lebat dalam suatu agama tertentu atau bahkan memungkinkan terciptanya pemahaman baru yang hasil akhirnya menjadi keyakinan baru dan mungkin menjadi agama baru.

Agama sendiri ingin memperlihatkan sistem untuk memperoleh keagungan keimanan kepada Tuhan dan bagaiamana cara bertatakrama dalam kelangsungannya sebagai manusia yang sosial. Seperti halnya dalam kebudayaan tidak luput dari tinjauan kepercayaan yang mereka yakini, apakah animisme, dinamisme, monoteisme, panteisme atau mungkin ateisme- yang dikatakan tidak beragama, akan tetapi orang yang memegang ini niscaya menghilang kefitrahan manusianya sebagai ‘abid bagi yang menciptakan alam semesta dan beserta isinya ini.

Agama atau religi dalam definisinya selain sebagai jembatan untuk menuju Tuhan, agama juga berarti prihal yang memiliki pertimbangan untuk melakukan ssuatu tindakan yang akan kita kerjakan, apakah itu perlakuan tabu atau perlakuan yang dapat memberikannya pahala atau banus dari pencapaiannya mempraktikan kebajikan. Agama menurut Cicero sendiri, atau religio menurutnya adalah sesuatu yang ada dalam hati manusia, dengan demikian dapat dipahami bahwa agama sendiri sudah membatin pada setiap jiwa kemanusiaan yang manusia miliki.[1]

Pengertian agama pernah berhenti sampai disitu, namun salah satu pengertiannya kurang lebih seperti itu, bahwa agama adalah penata dan pengatur dalam keberalangsungan keibadahanya terhadap Tuhan dan nilai-nilai humaniora pun terdapat didalamnya, maka jikalah seperti ini agama sendiri sudah menjelaskan dirinya bahwa ia adalah universalitas setiap manusia. Karena Raymond Firth berpendapat bahwa religi atau agama adalah suatu yang universal pada masyarakat –manusia-, dan satu kesaksian dari seorang antropolog yang mengatakan bahwa manusia tak pernah terlepas dari hal ini, termasuk masyarakat primitif, jadi ia tak pernah menemukan satu masyarakat primitif yang tanpa religi.[2]

Apakah benar kita mampu hidup tanpa agama? Jika Anda mempertanyakan hal ini pada diri sendiri, beberapa dari kita mungkin akan mengatakan ‘ya, saya bisa’. Ada banyak ateis di dunia yang tidak percaya pada agama. Tetapi apakah ada pemahaman mereka tentang agama yang sama seperti seorang mistis suci yang akan memahami agama? Agama adalah sebenar-benar jalan, dan sejalan dengan kata Latin yaitu ‘re ligere’. ‘Re’ berarti lagi dan ‘ligere’ berarti mengikat. Kata Inggris ‘ligatur’, yang berarti untuk mengikat simpul, berasal dari akar ini.

Jadi kita sedang mengikat dua hal secara bersamaan atau mencoba untuk menyatukan diri dengan Wujud, Yang Mahatinggi, dan itu satuan yang diajarkan agama. Kemudian kita harus mengerti bahwa agama adalah suatu jalan. Kita harus memiliki kejelasan dalam berpikir karena agama sebenarnya bukan tujuan. Agama hanya sebagai sarana untuk mencapai sesuatu. Salah satu filsuf menyatakan bahwa guna gereja berakhir ketika pengetahuan tentang Tuhan dimulai. Semua ini adalah kebenaran intuitif. Agama harus membawa kita ke suatu tempat, namun kemudian agama harus berakhir karena kita telah mendapatkan kebebasan; pada saat itu kita telah mendapatkan keselamatan, dan selesailah guna agama. Kemudian apa yang dibutuhkan untuk beragama?, dari sini kita harus mencoba untuk memahami agama dari sudut pandang yang paling dasar.

Terdapat nilai yang mendasari dimana kita semua harus mencari, dan nilai yang mendasarinya adalah Realitas yang ada dalam diri kita.

Ada beberapa kutipan untuk menunjukkan bagaimana pentingnya agama dalam kehidupan. Ada nilai mendasar yang harus kita mencari, dan nilai inilah yang mendasarinya adalah realitas yang ada dalam diri kita. Realitas yang kita sebut Tuhan, dan karena kebutuhan untuk mencari realitas itu, kita akan menemukan agama di mana-mana. Agama bergantung pada fakta bahwa ada penderitaan yang dialami dunia, dan dimana ada penderitaan disana ada kematian, dan selama kedua hal ini hidup berdampingan, agama akan selalu dibutuhkan.

Ini adalah fakta dan bermacamnya agama, mulai dari timur, ada Shinto yang didasarkan pada ibadah leluhur, roh alam, pahlawan dll. oleh masyarakatnya; Konfusianisme yang berdasarkan pada sistem filsafat oleh Konfusius; Taoisme yang mirip dengan ajaran Vedanta yang meyakini pada satu Tuhan; Di India ada banyak agama mulai dari Hindu dan berbagai cabangnya seperti Vaishnavisme, Shaivisme dan Shaktism dan mereka memiliki banyak subdivisi; Buddhisme dengan cabang-cabangnya, yaitu: Mahayana, Theravada (Hinayana) dan Zen Buddhisme; Di barat kita  akrab dengan agama Kristen, agama Kristen juga bercabang, seperti Katolik Roma, Protestan dan Ortodoks Timur dan subdivisi agama in tak terhitung; kemudian agama Islam dengan berbagai cabangnya, Yang memayoritasinya adalah Muslim Sunni dan Muslim Shiia. Baru-baru ini, di Iran dan Irak, kedua sekte ini terjerat dalam perang mematikan, secara objektif mereka tidak memahami atau mempraktekkan apa yang disebut dengan agama.

Sudah terlalu lama agama memulai entitasnya sebagai salah satu jalan menuju kebahagiaan, namun jejaknya hilang dalam pra-sejarah. Menurut peneliti, Hindu dimulai sekitar 3500 tahun SM dari peradaban Lembah Indus. Yudaisme mulai sekitar 2000 SM ketika Tuhan memanggil Abraham untuk memberi pesannya. Zoroastrianisme sekitar 628 SM, Buddhisme sekitar 563 SM, Muhammad lahir pada tahun 570. Dia memulai mengajarkan Islam pada tahun 622 M di Madinah. Yesus dilahirkan 4 SM dan dimulailah agama Kristen. Semua ini adalah agama-agama besar. Pada dasarnya, mereka telah mengajarkan hal yang sama yaitu bahwa kita harus saling mengasihi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun