Mohon tunggu...
Katedrarajawen
Katedrarajawen Mohon Tunggu... Penulis - Anak Kehidupan

Merindukan Pencerahan Hidup Melalui Dalam Keheningan Menulis. ________________________ Saat berkarya, kau adalah seruling yang melalui hatinya bisikan waktu terjelma menjadi musik ... dan berkarya dengan cinta kasih: apakah itu? Itu adalah menenun kain dengan benang yang berasal dari hatimu, bahkan seperti buah hatimu yang akan memakai kain itu [Kahlil Gibran, Sang Nabi]

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Omong Kosong; Tidak Ada Tebang Pilih Dalam Penegakkan Hukum

11 Oktober 2011   05:55 Diperbarui: 26 Juni 2015   01:05 236
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Mungkin masyarakat geli atau senyum-senyum sendiri. Bila ada petinggi di negeri ini yang bicara. Bahwa hukum akan berlaku adil untuk semua rakyat. Tidak ada istilah tebang pilih.

Ketika petinggi Polri buka suara untuk menangkis isu. Tentang perlakuan istimewa terhadap anak atau keluarga aparat yang melakukan pelanggaran hukum. Dengan tegas dikatakan bahwa itu tidak benar. Semakin membuat kita tertawa.

Kenapa? Karena masyarakat sudah begitu nyata dapat melihat. Memang ada perlakuan istimewa tersebut selama ini.
Selain memang ada sesama aparat yang ingin diperlakukan istimewa.

Beberapa hari yang lalu. Saat pagi meluncur berangkat kerja. Saya melihat dengan jelas. Seorang aparat yang berpakaian dinas. Duduk manis di atas sepeda motor. Tanpa menggunakan helm.

Saat melintas di hadapan beberapa polisi yang mengatur lalulintas. Tidak ada seorangpun yang berani menghentikan.
Mungkin sudah ada istilah "sesama aparat jangan saling mengganggu".

Ini baru terjadi di jalanan. Di mana masyarakat dapat melihat sikap penegak hukum kita. Bagaimana kalau yang terjadi di dalam gedung-gedung?
Itu hanya dilakukan aparat biasa, polisi sudah segan. Bagaimana kalau yang sudah berpangkat?

Jadi, adalah omong kosong kalau tidak ada perlakuan yang istimewa dalam penegakkan hukum.
Coba kalau yang melintas itu masyarakat biasa. Tidak menggunakan helm saat berkendaraan. Sudah jadi makanan untuk ditilang.

Di negeri ini. Para penegak hukum ada rasa sungkan, sehingga hukum sulit ditegakkan. Ditambah lagi, ada sebagian masyarakat yang ingin diperlakukan istimewa.

Tidak ada lagi keteladanan dalam hal ini. Hukum begitu mudah diatur. Bisa dibeli dengan uang, jabatan, dan kekuasaan.

Masyarakat sudah tidak percaya lagi dengan omong-omong besar para pembesar di atas mimbar. Sebab hanya janji-janji yang diumbar. Yang ada kata-kata yang terasa hambar.

Jadi jangan salahkan bila rakyat sudah tidak percaya dengan omongan pemimpinnya soal hukum. Karena pada kenyataannya tebang pilih masih saja terjadi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun