Mohon tunggu...
Katedrarajawen
Katedrarajawen Mohon Tunggu... Anak Kehidupan

Merindukan Pencerahan Hidup Melalui Dalam Keheningan Menulis. ________________________ Saat berkarya, kau adalah seruling yang melalui hatinya bisikan waktu terjelma menjadi musik...dan berkarya dengan cinta kasih: apakah itu? Itu adalah menemun kain dengan benang yang berasal dari hatimu, bahkan seperti buah hatimu yang akan memakai kain itu [Kahlil Gibran, Sang Nabi]

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Ketika Siang Bisa Bertemu Malam

3 Agustus 2012   07:32 Diperbarui: 25 Juni 2015   02:17 218 1 4 Mohon Tunggu...

Siang tak mungkin bertemu malam. Begitu sebaliknya malam tidak akan bertemu siang. Itu kalau mengunakan logika dan analisa.

Siapa bilang malam tak akan mungkin bertemu siang? Bisa. Ketika kita tidak
memikirkan tentang siang atau malam itu sendiri.
Siang dan malam adalah bagian kehidupan yang bernama: waktu atau suatu keadaan. Siang saatnya matahari menjadi penerang semesta. Malam berganti bulan dan bintang yang menjadi penghias kegelapan.

Tak ada bedanya bagi orang-orang yang mengerti. Tak ada yang perlu diperdebatkan. Menikmati hidup siang-malam dalam setiap nafas itu lebih berarti.

Logikanya manusia itu berbeda-beda. Suku bangsa, golongan dan agamanya. Logikanya memang demikian. Bila menilainya dengan ilmu kemanusiaan.

Itulah kata dunia dan telah menjadi persepsi turun-temurun anak-anak manusia. Itu hasil pemikiran kita.

Sesungguhnya, tak akan ada perbedaan kalau kita gunakan kesejatian dalam menilai. Bahwa semua manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan.

Sama-sama diturunkan dari surga pada mulanya. Hasil maha karya. Sejatinya kesejatian setiap manusia adalah sama.

Siapa yang menciptakan baik-buruk; Benar-salah; Bagus-jelek?

Bukan siapa-siapa. Tetapi sifat dualisme yang mengisi setiap pemikiran manusia. Dualisme secara perlahan telah membuat kita hidup dalam kebimbangan.

Ketika kita dapat melenyapkan dualisme di dalam otak kita, maka akan memiliki pandangan sama yang indah.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x