Rizki Subbeh
Rizki Subbeh Pedagang dan Blogger

Dekonstruksi Kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Pandan Rangkang

5 Mei 2018   16:34 Diperbarui: 5 Mei 2018   22:56 1953 7 0
Cerpen | Pandan Rangkang
ilustrasi. (pixabay)

Ada serdadu tangis yang menetes dengan simbahan darah. Ada yang menatap kosong terbungkam dengan waktu yang terlanjur membawa luka. Ada juga yang kehilangan nyawa sebagai alibi menghilangkan duka. Aku tak mengerti apa yang mereka lihat, mereka rasakan, dan mereka pikirkan. Semua ruang terhiasi dengan taburan kegelisahan, kegundahan, kemarahan, dan lautan pedih. Entah apa yang sedang terjadi, aku tak mengerti.

Rumahku sudah ramai didatangi orang-orang. Aku yang berdiri di tengah pintu tak menjadi penghalang mereka untuk masuk ke dalam. Bahkan tidak ada yang menyapaku. Senyuman saja terasa direnggut Tuhan. Semua berbondong mencari tahu. Seolah mereka berubah dari rakyat biasa menjadi jurnalistik termuka. Tidak ada bedanya, biasanya wanita yang memiliki hasrat ingin menggali informasi tetapi kali ini tidak sedemikian. Kaum bapak-bapakpun ikut serta menggerogoti ludah Nenek, Paman, Bibik, dan Saudara kandungku.

Tidak ada yang menanyakan kepada diriku. Semua hanya melewatiku tanpa terkecuali. Senyumku hambar, sapaanku kosong, jaluran jabat tanganku tak membekas. Mereka tengah asik mempersiapkan kertas samar. Demi menyebarkan beberapa liur untuk dijadikan opini yang masih tidak pasti. Aku memutuskan pergi dari tempatku. Beranjak mengikuti Sepupuku yang sibuk dengan aktivitasnya.

Sesekali aku menyapanya. "Mas, Smean lapo?". Ia sangat fokus dengan pekerjaannya. Terbukti dari keringat yang menggelucur dari jidaknya. Menetesi tanah dan menetesi air mata yang hinggap pada pipi. Lagi-lagi aku tak mendapatkan suara dari lawan bicara untuk menjawab segala sapaan yang keluar dari ruang mulutku. Ia menyukai aktivitasnya dengan mengumpulkan bunga-bunga.

Usai mengumpulkan bunga, ia menaruhnya dalam kendi yang sudah bercampur air. Kemudian beranjak pergi, menuju ke kebun sebelah rumah. Disana tertanami banyak pohon pisang. Sedangkan di "Galengan", ada beberapa pohon seperti Mahoni, Kelapa, Jati, dan Petai Cina. 

Tanaman ini berada di galengan atau batas tanah dalam setiap sisi kebun yang dijadikan jalan setapak. Namun, Mas Sepupuku tidak berniat mengambil salah satu pohon yang ada pada galengan itu. Ia memilah dan menelusuri setiap lahan kebun. Entah apa yang sedang dipilihnya. Padahal, jika dilihat sekitar kebun, hanya pohon pisang semua dan jika memang berniat mengambil pisang, tidak ada satupun yang dapat dipanen.

Aku termenung dari kejauhan sambil melihat gerak-gerik Sepupuku tersebut. Tak lama berselang saat aku masih mengintai semua isi kebun. Suara bacokan sabit terdengar "Begh Begh Begh Begh". Dia sudah memulai perang dengan pisang yang masih mungil. Mungkin, tingginya sekitar 1 meteran. Aku mencoba menghampiri dan mencoba meraut jawabannya lagi. Ku lontarkan beberapa tanya untuknya. Jika memang tidak dijawab lagi, maka aku hanya bisa menggerutu. Tidak mungkin aku kasar terhadap saudara sendiri. Meski, aku terkenal nakalnya.

Benar, aku sudah melontarkan bualan saja tanpa ada respon yang ku harapkan dari mulut yang sedang terkepung asap rokok. Dia hanya menggebukin pohon pisang yang masih kecil itu. Jika diambil untuk ditanam, mana mungkin bisa hidup, pikirku. Sebab, ia memotong tanpa mengikutkan akar pisang. Ia hanya memotong dibatas batang pisang bagian bawah, kira-kira hanya memotong 3cm ke dalam dari permukaan tanah. Tentu pisang itu akan mati. Karena, akarnya masih tertinggal di tanah.

Pohon itu ia bawa menusuri ke arah galengan. Satu titik yang dia tuju, pasti kelapa. Jika dilihat dari posisinya mengangmbil anakan pohon pisang, sangat dekat dengan kelapa. Pada waktu itu, pohon kelapa lebat dengan buah, meski pohonnya pendek. Ia mungkin haus setelah bersitegang dengan pisang. Mangkanya, ia beranjak menuju pohon kelapa untuk mengambil sebuah kelapa muda, mungkin.

Tidak menunda waktu, ia memanjati satu persatu "koh bukoh" yang sudah dibentuk di bagian pohon kelapa. Koh bukoh merupakan bahasa madura yang berarti lubang untuk pijakan kaki di pohon kelapa. Hanya membutuhkan beberapa menit saja, Ia sudah meraih puncak pohon kelapa. Namun anehnya, jika mengambil kelapa muda atau kelapa tua tidak mungkin sampai puncak pohon. Dia malah berada di puncak pohon. Apa mungkin dia mengambil janur? entahlah. Aku linglung melihatnya.

Seperti yang aku duga, sepupuku memang mengambil sekumpulan janur. Aku-pun bertanya, "mas iku gawe opo? kok smean ngapek janur, kok g ngapek degan? aku kan iso ngampung sitik". Sekali lagi, aku tidak dihiraukan meski sudah lantang mengucapkannya. 

Apa mungkin karena suara lantangku yang terkesan bernada tinggi? ahhhh, tidak mungkin. Dia sudah tau kalau aku sangat menghormatinya. Sebab, dia merupakan salah satu sepupu yang di hormati karena kepintarannya. Lantas, mana mungkin dia marah dengan suara lantangku? pasti dia bisa membedakan, mana yang nada tinggi (ngelamak) dan mana yang nada biasa (menghargai yang lebih tua). 

Lagian, sekalipun aku nakal, tidak pernah aku melawan saudara, baik yang mudah maupun yang tua sekalipun. Aku masih ditaraf kesopanan di mata keluarga besar. Berbeda di kalangan masyarakat, namaku selalu diberi lebel nakal karena kelakuanku yang suka merokok dan miras.

Dari nakalku juga, aku pernah dikurung seharian di sel penjara polsek desa. Tapi bukan karena miras melainkan karena pernah merusak Sekolah Dasar-ku sendiri. Terlebih aku juga dikeluarkan dari tempatku sekolah SMP Negeri Nusa Bangsa. Kasus pemukulan terhadap guru, sering ngelimput, dan ketahuan merokok. Jika mengingat itu semua, aku menyesal. Dan juga tidak mungkin aku kerja hingga merantau ke beberapa daerah dan kota-kota besar yang ada di Indonesia. Apalagi, aku juga baru pulang dari Kalimantan Timur, tepatnya Balikpapan untuk bekerja menjadi pedagang bakso keliling.

Ahhh itu masa kelamku, sekarang aku berniat untuk mengusaikan semua perbautan yang pernah tercatat di barisan keburukan hidup ini. Terlelap dari kenangan ini, sepupuku sudah bergegas dengan membawa anakan pohon pisang dan barongan janur yang baru saja diambil. Karena asik memikirkan masa kelam dan memikirkan kenapa semua pertanyaanku tidak pernah dijawab, aku dibiarkan sendiri di kebun ini.

Aku lihat dia sudah menuju ke belakang rumah. Entah,kali ini apa yang sedang dilakukan. Setelah menyibukkan diri di kebun samping rumah untuk mengambil anakan pohon pisang dan sebarong janur. Ia mengarah ke belakang pawon yang berdinding gedhek. Gedhek adalah rangkaian bambu yang sudah dianyam untuk dijadikan dinding sebagai pengganti tembok. 

Di sekitar rumah dan kampungku, masih terlihat pawon yang berdinding gedhek. pawon sendiri diartikan sebagai dapur dikalangan masyarakat rumah, namun ada ciri khasnya yaitu pawon tentu akan berdinding gedhek. Jadi tidak heran masih banyak warga yang memiliki rumah berdinding bata dan ujung rumah paling belakang berdinding gedhek sebagai pawon.

Sepupuku mengambil kelapa yang sudah mengeluarkan tunas. Ia membawanya dari salah Satu lembar gedhek tepat di dekatnya got pembuangan. Aku semakin pusing melihat sepupu satu ini. Terkadang orang pintar juga memiliki keanehan. Aku juga tidak mengerti untuk apa bahan-bahan itu dikumpulkan. Payah, pikirku.

Usai mengambil tunas kelapa. Ia masih tergegan, seperti memikirkan apa ada yang ketinggalan. Aku melihat dengan menertawainya pas dihadapan tubuhnya. Aku lempar ejekan kepadanya, "mangkane, ojok sok-sokan di sopo gak njawab, ahhahahahahaha, sak iki bingung koyok ketek ketolop". ucapku sambil tertawa terbahak-bahak.

Anehnya meski aku mengejek untuk pertama kalinya, dia masih saja tidak menghiraukan. Malahan, Ia pergi meninggalkanku dengan membawa pohon pisang, janur, dan tunas kelapa ke kerumunan warga yang berkumpul di rumah. Aku sigap mengikutinya, dengan penuh tanda tanya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3