Kartika Kariono
Kartika Kariono Advokat

Mengalir mengikuti kata hati dan buah pikiran

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Pilihan

Omongan Muter-muter Bikin Isi Kepala Diputer, Dinginkan Saja dengan Es Puter

28 September 2018   15:37 Diperbarui: 28 September 2018   15:42 226 5 3


Cuaca panasditambah  tiba-tiba obrolan soal partai merah menjelang akhir september muter-muter di Time line. Perlu pendingin suasana hati ini, hidangan yang dingin manis dan memanjakan lidah.   

Meski  di Palembang es yang terkenal adlaah es kacang merah, saya bukan salah satu penggemarnya. Saya lebih suka dengan es puter.

Sepertinya itu es khas Indonesia, karena memang dibuat menggunakan santan , gula dan garam yang diputar-putar pada wadah khusus  dengan es batu di bawahnya. Melihat proses keajaiban ini pun seringkali mempermudah penjelasan pembejaran sains dasar kepada anak dengan lebih mudah dan menyenangkan. Tapi sepertinya bukan kapabiltas saya menjelaskan soal reaksi fisika dan kimia dalam prosesnya.

Es puter juga hidangan yang jamak ditemui saat acara resepsi, saat kita baru datang disambut isi buku tamu dan masukkan amplop di kotak, kita akan menerima souvenir, permen dan semangkok kecil es puter.

Dinikmati sembari melihat tarian, sambutan atau khutbah nikah, sampai acara berakhir pukul 12 teng satnya makan siang bersama.

Makanya saya sering membawa air minum di dalam tas, karena tenggorokan suka kering setelah menikmati 1 cup kecil es tungtung.

Iya, kami menyebutnya es tung-tung karena memang dulu penjualnya dengan cara keliling kampung dengan penanda berupa ging kecil yang dipukul berbunyi "dung..dung..." tapi entah mengapa di lidah masyatakat Palembang lebih mengenalnya dengan sebutan es tung-tung.

Salah satu tempat jajan es puter favorit saya dan teman-teman adalah es puter Bang Udi, yang ada di kawasan Lemabang. Karena daerah tersebut kurang strategis untuk kongkow bersama, seringkali memilih makan bersama es puter Bang Udi di dekat Mapolda Sumsel.

Sebenarnya warung ini jualan utamanya adalah bakso, tetapi karena memang yang khas adalah s puternya, jadi yang ditonjolkan adalah es puternya.

Ada banyak varian isian umumnya tape ketan, tape singkong, dan alpukat serta kacang merah. Entah mengapa saya kurang suka dengan kacang merah kecuali dijadikan kumbu (soal kumbu saya akan ceritakan lain waktu) saya lebih memilih diberi topping tape ketan dan alpukat. Soal harga sangat terjangkau, setidaknya tidak akan semahal tempat nongkrong anak muda.

Saya tidak sering nongkrong di sana, kecuali ada teman dulu pernah satu sekolah yang pulang ke Palembang ingin bernostalgia dengan jajanan masa sekolah dulu, yang sebenarnya pada masa itu harus menabung dulu dua minggu. Sekarang sih nggak, kan ditraktir sama yang ngajak.

Kalo saya punya langganan sendiri sejak tahun 99 ( waduuh...makin ketauan umur deh). Sebenarnya penjual es puter keliling, satu hal yang saya kagumi adalah konsistensi rasa dan tetap istiqomah jadi penjual es puter bertahun-tahun. Ia berjualan di area Swiss (Seputar Wilayah Sekip dan Sekitarnya) Palembang.

Namanya Es Pragolo, masyarakat Palembang yang menunaikan shalat jumat di Masjid As Sayiddah , Yayasan IBA dipastikan mengenal es puter satu ini. Sebalum sahalat jumat antrian panjang Cuma buat menikmati es ini aja. Kalo selesai shalat kita baru datang keburu kehabisan.

Kalo dulu pilihan topping ada 3, kacang merah, ketan hitam (hanya dibuat bubur bukan dijadikan tapai) dan alpukat. Tetapi sekarang jarang sekali ada topping alpukat.  Kalo lagi musin duren, aduhai es krim ini nikmat sekali karena ada campuran duren di dalamnya.

Menikmati es puter yang katanya hasil inovasi  asli anak bangsa Indonesia ini sebenarnya menikmati manisnya memori masa kecil. Semakin sedikit penjualnya sekarang tergeser dengan penjual es krim keliling yang lebih memilih menjajakan es krim produk industri skala besar. Apalagi banjirnya merek-merek tertentu  yang menerjunkan varian es krim yang sangat menggoda dengan harga sangat murah.

Terlabih lagi pilihan tempat makan ataupun kuliner bukan lagi pada cita rasa tetapi pada gengsi, tidak keren jika tidak memilih gellato misalnya.

Meninggalkan rasa tanya "apakah menunggi es puter di klaim dan dipatenkan demi menaikkan gengsi barulah es ini berjaya kembali".

 Padahal di masa kecil saya menikmati es krim adalah kemewahan tersendiri, karena untuk  membeli es krim ini pun tidak dengan uang tetapi ditukar dengan botol kecap kosong.

Selamat menyambut week end Indonesia.

Salam Kompal Kompak

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2