Mohon tunggu...
Kamalia Purbani
Kamalia Purbani Mohon Tunggu... Lainnya - Pemerhati Pemerintahan, Lingkungan Hidup dan Pemberdayaan Perempuan

Purnabakti PNS Pemerintah Kota Bandung. Terakhir menjabat Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan. Pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Pemberdayaan Perempuan, Kepala Kantor Litbang, Kepala Dinas Tenaga Kerja, Kepala Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya, Kepala Bappeda, Inspektorat, Staf Ahli Walikota Bidang Teknologi Informasi, Asisten Daerah Pemerintahan dan Kesra

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ibu Penggapai Keadilan

26 Maret 2024   10:56 Diperbarui: 26 Maret 2024   11:09 44
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Saat dunia maya masih heboh dengan kasus Amy BMJ warga negara Korea yang diputus aksesnya terhadap ke empat anaknya oleh suaminya, ternyata masih banyak kasus-kasus serupa. Pemutusan akses ibu terhadap anak paska perceraian ibarat fenomena gunung es, yang muncul ke merdia masa hanya sedikit namun jumlah yang sebenarnya bisa jadi melimpah. Ada Tsania Marwa yang walaupun oleh MA sudah ditetapkan sebagi pemilik hak asuh namun sudah putusan tersebut sudah tujuh tahun belum juga dapat dieksekusi.

Dalam Podcast Uya Kuya ditemukan pula kasus yang dialami oleh mantan Putri Indonesia yang berprofesi dokter, bahkan dianiaya oleh mantan suami dan mertuanya saat dia mencoba menemui anaknya. Saat menempuh jalur hukum, ternyata jalannya tersendat, walaupun konon penganiayaan itu disaksikan banyak orang karena dilakukan di ruang publik.

Ketiganya sudah mencoba mengadu ke berbagai Lembaga yang berfungsi untuk melindungi Perempuan dan anak maupun HAM, dan juga  menempuh jalur hukum, namun tampaknya jalan masih terlalu panjang dan berliku yang harus mereka tempuh. Rasa pesimis dan putus asa bisa jadi mereka rasakan melihat fakta bahwa yang sudah memiliki putusan tetap yang dikeluarkan oleh Mahkamah Agungpun, masih belum bisa dieksekusi.

Pada umumnya berbagai pihak yang berwenang tampaknya belum memahami sepenuhnya bahwa memutus akses bertemu bagi seorang ibu kepada anak apalagi anak tersebut masih memerlukan ASI, merupakan masalah yang sangat serius dan berdampak sangat penting baik terhadap ibu maupun anaknya.

Menurut referensi, lebih banyak dampak negatif yang dialami ketika seorang dipisahkan dari ibu kandungnya. Anak dapat mengalami masalah kesehatan baik secara fisik maupun psikhis begitu juga masalah sosial di masa yang akan datang. Secara psikhis mereka akan mengalami ketakutan, kecemasan, kurang percaya diri dan depresi yang tentu saja akan berdampak kepada kesehatan fisiknya. Dokter anak dan psikolog mengatakan bahwa situasi yang merugikan ini akan memiliki konsekuensi neurobiologis yang berdampak panjang pada anak-anak. 

Bagi seorang ibu, dampaknya tidak kalah besar. Hidup terpisah dengan anak yang dikandung dan dilahirkannya bukan hal yang mudah. Berbagai sumber menyebutkan beberapa ibu tidak mampu menahan beratnya kehampaan yang dirasakannya sehingga akhirnya mengalami depresi. Beberapa diantaranya bahkan berpikir untuk mengakhiri hidupnya karena kehilangan semangat hidup. Belum lagi rasa tidak percaya diri dan rasa bersalah karena dianggap tidak pantas untuk mengasuh dan membesarkan anaknya sendiri.


Dalam kasus Amy BMJ, dampak psikologisnya tampak lebih berat setelah dia tahu bahwa anak yang baru beberapa bulan dilahirkannya bahkan digendong dan diasuh oleh wanita lain suaminya.  (Maka tidaklah heran sebagaimana terlihat dalam video yang beredar di dunia maya, dia tampak histeris saat menemukan hal tersebut. Hanya pengadilan dan seorang ahli yang bisa menyatakan bahwa seorang ibu tidak layak mengasuh anak-anaknya, bukan penghakiman dari siapapun ataupun suaminya sendiri.

Saat seluruh akses ditutup oleh suami terhadap anak-anaknya (suami, anak-anak dan mertua memblokir nomernya), begitupun pengaduan terhadap berbagai Lembaga tidak memberikannya harapan, Amy membuat thread dalam media sosial X (twitter). Dia melakukan itu karena merasa semua jalan yang sudah dia tembuh menemui kebuntuan. Dalam video yang diunggahnya, dia menyatakan bahwa komentar para netizen telah memberikannya secercah harapan dan menghangatkan perasaannya. Dukungan banyak mengalir dari berbagai pihak dan kasusnya mulai mendapat perhatian pihak berwenang.

Ada ungkapan yang mulai populer saat ini sebagaimana diungkapkan oleh seorang naras umber dalam podcast Uya Kuya yaitu: No Money No Justice, No Viral No Justice. Benarkah itu? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun