Mohon tunggu...
irvan sjafari
irvan sjafari Mohon Tunggu... Jurnalis - penjelajah

Saat ini bekerja di beberapa majalah dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. Berminat pada sejarah lokal, lingkungan hidup, film dan kebudayaan populer.

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Seandainya Kembali ke Gaya Belanja 1950-an hingga 1970-an, Ketika Kantong Plastik Belum Marak

22 Februari 2016   17:11 Diperbarui: 24 Maret 2016   21:45 404
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Ilsutrasi belanja awal 1950-an. Tampak ibu membawa keranjang sebagai tempat belanjaan (kredit foto http://www.konteks.org/ruang-belanja-imajinasi-bocah-dan-masa-lalu) "][/caption]

 

 

Senin pagi, 22 Februari 2016   saya tanya ibu saya, bagaimana orang dahulu berbelanja?  Apakah ada kantong plastik juga? Dijawabnya tidak ada. Orang dulu berbelanja di pasar, beli daging atau ikan dibungkus dengan daun jati atau daun pepaya, telur dengan keranjang anyaman bambu, juga ayam hidup, sayuran atau bumbu dapur dengan koran bekas. Kemudian belanjaan itu dibawa dengan keranjang belanja dari kain bukan plastik.  Seingat saya waktu masih kanak-kanak pada 1970-an diajak ibu berbelanja ke pasar masih seperti itu. Bagaimana dengan buku tulis,  baju, atau barang-barang non makanan?  Seingat ibu dibungkus pakai kertas kuning dan dibawa juga dengan tas kain atau anyaman, bukan dengan kantong plastik.

Sebagai catatan  hingga 1970-an polusi  asap kendaran  belum menjadi masalah besar, air masih bersih,udara masih segar, hingga membawa makanan  dengan  bungkus daun masih aman. Jumlah lahan hijau masih luas dan membuat persedian daun pisang, daun jati, daun papaya  nyaris tidak terbatas dan mudah sekali diakses. Tentu saja tidak masalah kalau daun-daun tersebut menjadi sampah, karena mereka organik, tidak berbau dan mudah hancur. Populasi dan jumlah kendaraan di Jakarta dan Bandung  yang lalu lalang  hingga awal1970-an tidak terlalu padat. 

Pemakai kendaraan sepeda pada masa 1950-an hingga 1970-an masih nyaman melintasi jalan raya Menteng, apalagi di Bandung, di jalan  di Cicendo, Cipaganti, Wastu Kencana di Bandung.  Becak masih ada sebagai transportasi di kota kembang mencapai pusat kota. Ibu dan Tante saya dengan  mudah dan nyaman  membawa sayuran, ikan, ayam, telur dari Pasar Baru ke tempat kakak  ibu saya di Cicendo. Tempat sampah di  lingkungan kami di Bandung nyaris tak ada sampah plastik. Di Jakarta pun seingat saya hingga 1970-an akhir tidak banyak sampah kantong plastik di  bak sampah.

Saya sendiri tidak pernah kenal dengan kantong plastik hingga awal 1980-an.  Pemakaian kantong plastik digunakan karena tahan air, tahan debu.ringan dan harganya murah. Sayangnya memang tidak ramah lingkungan.  Tetapi orang yang hidup di perkotaan sejak 1980-an dihadapi dengan waktu yang jadi lebih terbatas, polusi, menghilangnya lahan hijau dan tentunya bahan baku daun akibat keserakahan kota (ingat sebuah lagu Iwan Fals). Sementara alternatif  lain pemungkus kertas koran makin bekurang dan makin mahal. 

Minggu malam 21 Februari saya  mengobrol seorang pegawai perusahaan pasar modern besar sewaktu sama-sama menunggu beli sate ayam.  Dia bilang penggunaan plastik ramah lingkungan cost yang harus dikeluarkan lima kali lipat dengan plastik biasa? Apa mungkin kembali menggunakan daun di supermarket untuk bungkus udang dan daging? Lalu di bawa dengan mobil dan meninggalkan bau anyir? (seandainya plastik total dihilangkan).    Kemudian  sehelai  kantong plastik dihargai Rp 200. Tentu saja  orang-orang yang tidak mau ribet memilih kantung plastik.   

Alternatif seperti yang saya lihat di film Hollywood orang belanja di supermarket dengan kantong kertas daur ulang.  Tetapi apakah bisa lebih murah bagi pengusaha mini market atau supermarket?  Apalagi  bagi toko kelontong biasa?  Telur mungkin bisa dibawa dengan keranjang anyaman bambu yang dimodifikasi, kecil dan besar yang didesain tidak mudah jatuh. Tetapi kalau dia pecah  menimbulkan bau, terutama yang bawa kendaraan.    

Kalau saya sih senang bisa kembali berbelanja seperti era 1950-an hingga  1970-an, ketika pasar tradisional masih berjaya.  Saya malah berharap kalau perlu pasar tradisional mendatang harus  bersih dan tidak becek seperti mal.  Beli ayam, udang, daging, ikan yang dibungkus dengan daun (tentunya daunnya harus sebersih masa itu, begitu juga ketersediannya). Tetapi harus ada jaminan , ikan, ayam, daging  yang ada di pasar tradisional  benar-benar segar. Bukan daging ayam tiren (mati kemarin) seperti yang menjadi investigasi sebuah stasiun televisi.   

Saya juga menunggu  apakah hanya pasar modern (baca supermarket dan mini market)  yang menerapkan kantong plastik berbayar.  Bagaimana dengan pasar tradisional? Bagaimana juga dengan  restoran cepat  saji,  butik, hingga toko buku? Apakah mereka juga jadi obyek berikutnya untuk menerakan kantong plastik berbayar? Kalau semuanya melaksanakan dan harganya dinaikan bukan hanya Rp200 tetapi kalau perlu Rp2000/helai, wah kantong plastik benar-benar bisa hilang dan berbelanja pada masa mendatang kembali ke era 1950-an dan 1970-an, itu menarik. Mungkin ada terobosan baru  membawa jajanan sate ayam atau sate padang  untuk dibawa pulang ke rumah.  Apa mungkin pakai rantang atau tas anyaman juga seperti puluhan tahun lalu?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun