Mohon tunggu...
irvan sjafari
irvan sjafari Mohon Tunggu... Jurnalis - penjelajah

Saat ini bekerja di beberapa majalah dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. Berminat pada sejarah lokal, lingkungan hidup, film dan kebudayaan populer.

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Buatlah Film Sejarah, Indonesia Menang, Belanda Pecundang

21 Agustus 2021   14:47 Diperbarui: 21 Agustus 2021   15:22 608
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
adegan Film Sultan Agung-Kredit Foto: Her World.

Saya termasuk memberikan bintang empat untuk film ini karena susah membuat film sejarahnya, menguras energi mulai riset hingga pasca produksi dan biayanya pasti tidak sedikit. Jadi memang harus diapresiasi.  Film sejarah kolosal itu biayanya mahal dan belum tentu balik modal ketika dipasarkan, walaupun ada produser yang cukup modal.

Salut bagi Mooryati Soedibyo yang mau memproduseri film Sultan Agung  dan Juga Hashim Djojohadikusumo yang mau jadi  produser Trilogi Merah Putih.

Saya nggak mereview film Sultan Agung ini dan cukup banyak yang mereviewnya, termasuk dari kawan Kompasianer, saya kebanyakan sependapat.

Pertanyaannya mengapa film ini tidak jadi box office, situs www.filmindonesia.or.id  tidak menempatkannya di 15 besar, di mana posisi itu ditempati "Yovis Ben" dengan 936 ribu penonton. Situs itu pada Kamis 30 Agustus 2018 menyebutkan dalam seminggu penayangannya hanya 20 ribu penonton.  https://www.wowkeren.com/berita/tampil/00222377.html  mengungkapkan dugaan netizen yang menyebut film ini kurang promosi. Bisa jadi.

Tapi kalau saya melihatnya siapa segmen yang dituju film ini? Anak mudakah? Penggemar film sejarah? Kalau anak muda mereka butuh film sejarah Indonesia di mana pihak Indonesia menang melawan Belanda. Sementara Sultan Agung  menurut buku gagal menyerang benteng batavia pada 1628 dan 1629 dan film itu juga gagal.  Bahwa Sultan dapat pengakuan Turki, iya faktanya. Tetapi apa penonton muda tahu itu dan menganggapnya penting?

Sementara film sejarah lain "Sang Pencerah" tentang tokoh pendiri Muhammadyah, Achmad Dahlan mampu bertengger nomor satu pada 2010 dengan jumlah penonton 1,1 juta. Saya kira merupakan salah satu sedikit film sejarah Indonesia yang jumlah penontonnya di atas satu juta.

Kemungkinan "Sang Pencerah" memang punya penonton sendiri, misalnya massa Muhamadyah. Walaupun tanpa adegan laga sekalipun, benar-benar edukasi.  Lagipula basis ormas Islam ini memang perkotaan di mana bioskop juga berbasis. Dalam "Sang Pencerah", Ahmad Dahlan adalah "pemenang".

Film "Soekarno: Indonesia Merdeka" juga masuk box office pada 2013 dengan 960 ribu penonton, dengan aktor yang sama memerankan Sultan Agung, yaitu Ariyo Bayu. Nah ini juga menarik, saya menduganya karena Sukarno adalah tokoh proklamator dan merupakan pemenang.

Siapa anak sekolahan yang tidak tahu itu. Saya pernah meminta anak-anak magang sebuah SMK ketika bekerja untuk sebuah media TV streaming online menanyakan teman-temannya, siapa pahlawan idolamu: jawabnya Sukarno. Indonesia merdeka karena Sukarno. Semua responden teman sekolah yang laki-laki jawab Soekarno dan yang perempuan adalah Kartini, pelopor emansipasi yang sudah ditanamkan ke saya sejak SD.   

Citra pemenang dan populer ini juga sedikit menyelamatkan film "Kartini" besutan Hanung Bramantyo (2017), apalagi dimainkan oleh Dian Sastrowardoyo, idola anak muda. Film ini sempat menempati peringkat delapan tahun itu dengan 300 ribuan penonton, mengungguli film romantis remaja, "London to Bali".  Namun secara total keluar dari 15 besar Box Office Indonesia 2017.

Pertanyaannya, kapan nih Dewi Sartika, Rohana Kudus, Rasuna Said dibuat filmnya? Saya nggak yakin mereka populer di kalangan anak muda, karena yang ditanamkan di benak muda hanya Kartini. Dewi Sartika mungkin akan diserbu penonton di Jawa Barat, yang populasinya juga besar kalau dibuat filmnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun