Mohon tunggu...
irvan sjafari
irvan sjafari Mohon Tunggu... penjelajah

Saat ini bekerja di beberapa majalah dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. Berminat pada sejarah lokal, lingkungan hidup, film dan kebudayaan populer.

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Miles Film 25 Tahun: Inovator, Motivator, Kolaborator

27 Oktober 2020   20:45 Diperbarui: 27 Oktober 2020   20:54 110 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Miles Film 25 Tahun: Inovator, Motivator, Kolaborator
Ilustrasi-Foto:Instagram/Picuki Miles Film.

Lebih dari sepekan silam, akun Instagram Miles mengunggah serangkaian foto beserta cerita perjalanan Miles selama 25 tahun terakhir. Pada fase baru usianya, Miles Films hendak menghadirkan lebih banyak karya yang beragam.

Bagi saya Miles Film adalah pelopor kebangkitan film Indonesia kontemporer, setelah lama tertidur karena mati suri pada 1990-an.  Kalau pun ada film Indonesia 1990-an didominasi film menghadirkan sensualitas yang mendominasi film bioskop kelas bawah, sementara untuk menengah atasnya didominasi film Hollywood.

Para pemilik production house yang kuat secara modal lebih suka melirik sinetron di dunia televisi, dengan alasan hiburan sudah menjadi industri.  Itu tidak ditemukan kalau menginvestasikan dana di layar lebar untuk membuat film Indonesia.

Pada suatu hari dalam pertengahan 1990-an kedua,  saya pernah ngobrol dengan Mira Lesmana mengapa tidak mencoba membuat film Indonesia kan belum tahu apakah ada pasar atau tidak, karena tidak ada yang mau mencoba.  Ternyata Mira Lesmana juga sudah mencita-citakan hal itu sejak mendirikan Miles bersama Riri Reza pada 1995. Karya pertama adalah dokudrama "Anak Seribu Pulau" yang disiarkan pada 1996.

Berikut beberapa ulasan film yang saya tulis dalam catatan harian sebagai pengalaman saya menonton film produksi Miles antara 1998 hingga 2020.  Tentu tidak semua, ada sejumlah film yang belum sempat saya tonton. Inilah kesan saya.

Kuldesak: Dongeng (Atau Realitas?) Jakarta

Miles kemudian berhasil memproduksi Kuldesak rilis pada 27 November 1998. Saya  menonton di Plaza 21 Studio 3 sehari setelah rilis.  Film yang disutradarai  oleh  Mira Lesmana, Nan Achnas, Riri Riza dan Rizal Mantovani bertutur memikat.

Film ini dibuka lewat adegan seorang perempuan (Ria Irawan) dikejar sekelompok pria dan mati terbunuh di suatu sudut sempit. Lalu cerita berpindah ke empat sosok anak muda. Pertama,  Dina (Oppie Andaresta) seorang penjaga bioskop yang tinggal kos bertetangga dengan seorang gay, gandrung pada seorang penyiar TV bernama Max.  Bagi saya ini simbol generasi MTV.

Kedua, Andre (Ryan Hidayat) seorang remaja broken home bersahabat dengan gelandangan, Lina (Bianca Adinegoro) karyawati yang mengalami depresi karena tekanan kerja, serta Aksan (Wong Aksan) mahasiswa jurusan film, ingin buat film, merampok ayahnya sendiri pengusaha laser disk.

Keempat tokoh ini lewat adegan silih berganti bahk video klip dan hingar bingar musik mengalami nasib tragis.  Apa yang digambarkan film ini, saya menangkapnya lewat nyantian di akhir film Pak Lengser ingin mendengar dongeng tentang kota Jakarta. Kuldesak sendiri artinya jalan buntu.

 Pencipta Ikon

Mira Lesmana dan Riri Reza dan timnya mempunyai naluri, yang tepat. Petualangan Sherina yang dirilis pada 2000 (saya nonton di Plaza Senayan, 23 Juni 2006 jam 15:15) mampu mengisi kekosongan film anak-anak, sekaligus film Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x