Mohon tunggu...
irvan sjafari
irvan sjafari Mohon Tunggu... penjelajah

Saat ini bekerja di beberapa majalah dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. Berminat pada sejarah lokal, lingkungan hidup, film dan kebudayaan populer.

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Artikel Utama

Review “Sokola Rimba”: Ketika Rimba Menjadi Tempat Sekolah

25 November 2013   11:46 Diperbarui: 24 Juni 2015   04:42 0 5 5 Mohon Tunggu...
Review “Sokola Rimba”: Ketika Rimba Menjadi Tempat Sekolah
1385371612113763198

[caption id="attachment_304258" align="aligncenter" width="544" caption="Ilustrasi/Admin (Repro Kompas)"][/caption]

JudulFilm:Sokola Rimba

Sutradara:Riri Riza

Bintang:Prisia Nasution, Nyungsang Bungo, Nengkabau, Beindah

Rated:****

Dua tahun aku bekerja di sini, tetapi aku bertanya apa artinya bagi mereka yang terlahir di sini... orang rimba. Butet Manurung (Prisia Nasution) membawa carrier (ransel) yang saya taksir 80 liter dengan papan tulis hitam menelusurijalur hutan. Dia menampik tawaran anak-anak Suku Dalam (Orang Rimba) membawakan barangnya.Namun, perempuan yang dipanggil Bu Guru itu jatuh pingsan di dekat sungai dan ketika sadar dia sudah ada di sebuah kampung dalam wilayah Makekal Hulu, tempatnya mengajar.

Ibu guru hampir mati. Kalau tidak ada orang yang datang dari Makekal Hilir menolong. Demikian kata seorang Suku Dalam.

Opening Scene menarik film Sokola Rimba mengingatkan saya pada film Iran berjudul Blackboards yang disutradarai oleh Samira Makhmalbaf pada 2000. Sama-sama bercerita tentang perjuangan seorang guru.Hanya saja Sokola Rimba berdasarkan kisah nyatadari perjuangan Saur Marlina Manurung pada 2000-an mengajar anak-anak Rimba di pedalaman Jambi yang sedang mengalami tekanan antara kepentingan Taman Nasional Bukit Dua Belas, Perkebunan Kelapa Sawit, hingga pembalak liar.

"Bu Guru mengapa mesin gergaji itu memotong pohon kayu?" tanya salah seorang muridnya. "Mungkin orang itu butuh kayu?" jawab Butet. "Kita potong kayu dengan parang hanya ambil secukupnya. Kalau kita pintar kita bisa tolak mereka ambil kayu kita?"Dialog-dialog yang bikin miris dan menusuk di bangunan sederhana dari kayu antara Butet dengan murid-muridnya menggambarkan Orang Rimba yang terpinggirkan di tanah adat mereka sendiri.

Cara Butet mengajar berhitung menggunakan biji karet membuat Sokola Rimba memikat.Nih sepuluh karet diambil tiga tinggal berapa? Tujuh, jawab ditanya. Pintar, anak lain tepuk tangan. Kalau salah menjawab akan disebut Raja Penyakit.Dialog humoris.

Konflik sesungguhnya adalah ketika Butet mencari Nyungsang Bungo dari Makekal Hilir yang menolongnya. Rupanya dia hendak belajar juga.Ditemani dua muridnya Nengkabau dan Beindah, Butet mencari orang yang pernah menolongnya.Dalam perjalanan mereka menghadapi pembalak liar yang nyaris mencelakakan ketiganya.Namun, tantangan yang paling berat bagi Butet justru ketika sudah menemukan Nyungsang Bungo dan mulai mengajar.Karena bagi warga Orang Rimba di sana pensil bisa membawa celaka.

[caption id="" align="aligncenter" width="300" caption="Sokola Rimba (kredit foto www.21cineplex.com)"]

13853546311393598394
13853546311393598394
[/caption]

Sokola Rimba mengungkapkan berbagai permasalahan.Pendidikan bagi orang Rimba juga menyangkut kepentingan lain. Konflik antara Butet dengan Lembaga Konservasi tempatnya bekerja soal publikasi agar dana dari pendonor mengalir terus,semacam kritik terhadap LSM.Kehadiran peneliti asing Astrid Hilde juga menjadi spirit dari Butet, sekaligus tidak menyenangkan atasannya. Simak kata-kata Astrid: Mereka memandang Orang Rimba dari sudut yang salah. Mereka anggap Orang Rimba bodoh. Padahal dalam banyak hal Orang Rimba lebih maju dari kita.Konflik pun memuncak, Butet hengkang ke Jakarta. Apakah perjuangan Butet berakhir di situ? Akankah dia kembali mengajar anak-anak di rimba?

Berapa adegan begitu mengharukan.Saya tersentuh ketika Nyungsang Bungo yang baru bisa mengeja membaca dokumen perjanjian antara pihak Perkebunan Kelapa Sawit dengan kampungnya.Dokumen semacam itu membuat mereka harus berpindah beberapa kali.Gulungan surat yang berisi perjanjian yang tidak bisa mereka baca dengan bayaran biskuit, rokok, gula, dan kopi. Mereka hanya diminta membubuhi cap jempol tanda setuju dengan isi perjanjian (saya sebagai penonton jadi bertanya kok masih ada ya praktek penipuan seperti zaman Kolonial Belanda). Begitu Nyungsang Bungo mulai membaca, Butet tidak bisa menahan keharuan dan mengganti gulungan itu dengan bacaan yang lebih ringan.

Banyak yang bisa dipelajari dari film Sokola Rimba.Dampak dari keserakahan “orang terang” sebutan Orang Rimba untuk pendatang seperti semakin sulitnya mereka mendapatkan hewan buruan. Orang rimba tidak boleh membuka ladang lebar-lebar (tetapi perkebunan sawit boleh). “Aku ingin belajar agar tidak dibodohi orang luar terus!” cetus Nyunsang Bungo.

Prisia Nasution bermain cukup apik memerankan karakter Butet. Prisia fasih menggunakan dialek Orang Rimba. Walaupunbagi saya, akting Prisia paling bagus tetap ketika dia berperan sebagai penari ronggeng dalam Sang Penari. Adegan ketika Butet terkena malaria menarik, begitu juga ekspresi wajahnya menghadapi Bungo, bertengkar dengan atasannya di kantornya, kota Bangko, Jambi begitu emosional.

Kekuatan utama Sokola Rimba ialah pada sinematografinya, cara bertuturnya seperti memadukan dokumenter dengan film cerita, mungkin ini kelebihan dari sutradara Riri Riza.Gaya bertutur Sokola Rimba serupa dengan Laskar Pelangi dan 3 Hari untuk Selamanya. Setting sejarahnya juga cermat, misalnya lewat adegan televisi peristiwa turunnya Gus Dur sebagai presiden pada 2001.Penggunaan pemain lokal juga tepat untuk memberikan otentik dan daya tarik tersendiri bagifilm ini. Penggunaan animasi di beberapa adegan memperkaya nuansa film ini terutama menceritakan soal legenda pohon madu.

Saya beri apresiasi film ini dengan empat bintang, excellent. Saya menonton film ini di sebuah bioskop di kawasan Depok, Minggu 24 November lalu.Penontonnya lumayan lebih dari seratus orang.Di antaranya 76 anak yatim yang dibawa oleh Rumah Ilmu Al Hiyah pada jam pertunjukan kedua.Menurut keterangan karyawan bioskopnya, Sokola Rimba bersaing dengan The Hunger Games:The Catching Firedalam beberapahari ini .

Irvan Sjafari

KONTEN MENARIK LAINNYA
x