Mohon tunggu...
irvan sjafari
irvan sjafari Mohon Tunggu... penjelajah

Saat ini bekerja di beberapa majalah dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. Berminat pada sejarah lokal, lingkungan hidup, film dan kebudayaan populer.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Bandung 1953: Inovasi Wayang Golek dan Serbuan Film Musikal Hollywood

19 September 2012   12:10 Diperbarui: 25 Juni 2015   00:14 0 0 0 Mohon Tunggu...
Bandung 1953:  Inovasi Wayang Golek dan Serbuan Film Musikal Hollywood
13480561951969411259

[caption id="attachment_213307" align="aligncenter" width="300" caption="Ilustrasi wayang golek (kredit foto www.ksatriagolek.wordpress.com)"][/caption]

Pada 1953 seni pertunjukan tradisional membuat inovasi penting.Tema yang diangkat tidak lagi cerita tradisional, tetapi juga cerita yang terinspirasi perkembangan yang terjadi pasca kemerdekaan maupun esensi seni pertunjukan tradisional itu sendiri.

Pada 8 Februari 1953 warga kota Bandung di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan di Jalan Naripan No.1pukul 8 dihibur oleh penampilan Reog Budhaya dari Tasikmalaya dipimpin Ií Tabií.Para penonton membayarkarcis antara Rp3 hingga Rp 5 (Pikiran Rakjat, 6 Februari 1953).Pertunjukan Reog Budhaya inijuga diadakan di Gedung Concordia, 1 Maret 1953 jam 7.30 malam.Pertunjukkan dalam rangka mengumpulkan dana bagi korban banjir ini mengambil cerita Menak Buhun, Konperensi Dunia dan Radja Namrud.Harga karcisnya Rp3 untuk Kelas III, Rp5 untuk kelas II, kelas I Rp7,50 dan Kelas Istimewa Rp15. (Pikiran Rakjat, 28 Februari 1953).

Inovasi yang menakjubkan terjadi pada tertunjukkan wayang golek. Para penggemar wajang golekpada Kamis 12 Februari 1953bertempat di gedung CHCH Cimahi menikmati pertunjukkandalang Partasuanda.Dalang ini menawarkan suatu pertunjukkan sandiwara golek yang mengagumkan. Cara dekor mengagumkan. Dengan mengambil cerita Cepot Rarabi,wayang golek modern digelar guna membangunanBalai Desa Cimahi dibuka kemarin malam oleh panitia sosial dan Camat sumantri (Pikiran Rakjat, 13 Februari 1953).

Mengenai sosok Partasuanda ini, M.A. Salmun dalam tulisan “Wajang Golek Modern” dimuat dalam Majalah Aneka No.4 1 April 1953 mengungkapkan hal yang menarik.Pertunjukkan wayang golek (maupun wayang kulit)secara tradisonal yang sudah berjalan dilakukan semalamanterus-menerus dari jam 20.00 hingga kira-kira jam 6 pagi.Maka oleh pria bernama lengkap Raden Umar Partasuanda ini dirubah hanya dalam tempo 150-180 menit.Dia berpikir:

Kalau sandiwara dapat melukiskan lakon-lakon seperti Hamlet, Genoveva, alibabadalam dua atau tiga jam dapat ditangkap isinya oleh penonton mengapa dalam cerita wayang tidak?

Terobosan lain yang dilakukan pria kelahiran Kampung Leuwingpandjang, Desa Bodjongloa pada 1905 ini memakai tirai yang sesuai, misalnya tirai gambar paseban (troonzaal), gambar taman, gambar hutan, gambar laut persis seperti yang dipakai dalam sandiwara. Bahkan dia menggunakan dekor lain seperti gua, rumah dalam bentuk miniatur.Juga ilustrasi hujan dan Kawah Candradimuka.

Podium tidak lagi panggung kuno yang dapat dilihat dari empat madhad dalam keadaan terbuka, tetapi diatur seperti panggung sandiwara miniatur.Bahkan tak jarang Partasuanda memakai lampu sorot. Dalam memainkan wayangnya Partasuanda dibantu oleh tiga atau empat orang, sheingga bila perlu ada delapan boneka sekaligus dapat bergerak di atas panggung.Memainkan wayang golek juga bisa dilakukan di atas krusi tidak lagi bersila yang membuat tegang-urat kaki.

Partasuanda sempat bersekolah di sekolah Subsidi di Ciroyom pada 1918. Namun sejak kecil ia sudha jatuh hati pada wayang golek.Selesai dari skeolah itu ai magang menjadi calon guru tetapi akrena sering mengantuksehabis menonton wayang, ia dikeluarkan. Untuk mencari nafkahnya Partasuanda bekerja menjadi kuli-aduk pada tukang tembok sambil belajar menjadi nayaga pada dalang wayang Pa Sai dari Cianjur.

Partauanda adalah seorang pengagum Sukarno.Pidatonya memberikan inspirasi bagi pertunjukkannya.Pada 1929 Partasuanda pernah ditahan polisi kolonial karena membuat pertunjukkan Putut Djamurtjita (Pandawa digerebeg Kurawa lalu dipenjara) yang sebenarnya adalah tentang penangkapan Sukarno dan kawan-kawan oleh Pemerintah Kolonial HindiaBelanda.Partasuanda dituduh menghasut memasukan propaganda PNI ke dalam lakonnya.

Nonton Bioskop

Bandung pada awal Januari 1953 sejumlah film drama musikal di putar di bioskop Kota Bandung, sepertiMr.Imperium yang dibintangi Lana Turner(produksi 1951) di Bioskop Elita. Sementara di bioskop Varia-Rivolidiputar filmI’ll See You in My dreams yang dibintangi Doris Day(juga produksi 1951), Meet Danny Wilsonyang dibintangiFrank Sinatra juga produksi 1951 di Bioskop Majestic.Kemunculan film ini menandakanbahwa penoton muda sudah menjadi segmen tersendiri itu.

Doris Day dan Frank Sinatra adalah dua di antara delapan penyanyi dan grup musik dari Amerika yang populer di Bandung.Lagu-lagu mereka ramai ditawarkan di toko-toko yang menjual piringan hitam.Di antaranya Mikho Record Store di Pasar Baru No. 110.Penyanyi lain yang populer masa itu Les Paul, Dinah Shore, Jo Staford, Guy Mitchel, The Tanner Sisters dan The Bell Sisters (Pikiran Rakjat, 31 Maret 1953).

Pada Pikiran Rakjat edisi 14 Februari 1953 memberikan informasi kuatnya film musikal dan komedi seperti Excuses My Dust (1951) yang dibintangi Red Skelton dan Sally Forest di Radio City, sementaraMajestic memutar film Behave Yourself (produksi 1951) jugafilm komedi yang dibintangiShelley Winters,.Sebuah film western berjudul Red Skies of Montana (1952) dibintangi Richard Windmark diputar di Oriental dan Story of Robinhood diputar di Varia, Luxor dan Rivoli.

Hingga menjelang 1953 kehadiran film komedi musikal mewarnai bioskop Bandung.April in Paris yang juga dibintangi Doris Day diputar di Elita pada akhir November 1953 bergenre ini.Film box office dunia waktu ituQuo Vadis (produksi 1951)juga pernah diputar di Kota Bandung.Juga The Miracle of Our Lady of Fatima (produksi 1952) diputar Desember 1953 di Elita dan Rex. Film Belle of New York adalah film komedi musikal diputar di Elita pada minggu kedua desember 1953. Film itu dibintangi Fred Astaire dan Vera ellen.Sementara di Rex diputar The Farmer Takes a Wife yang dibintangi Betty grable.(Pikiran Rakjat, 9 Desember 1953).

[caption id="attachment_213308" align="aligncenter" width="300" caption="Poster April in Paris (kredit foto www.nightcapped.wordpress.com)"]

1348056313543529264
1348056313543529264
[/caption]

Kegilaan terhadap hiburan Barat ini ditanggapi oleh Sekolah Dansa Volta di Jalan Djamudju Bandungmembuka kursus-kursus baru untuk kelas Senin dan Rabu 4-8 sore, Kamis jam 9-12 pagi hingga Hari minggu menandakan bahwa peminat dansa kian meluas.

Film Indonesia juga ditawarkan beragam. Yang cukup mengejutkan adalah tampilnya film berwarna Indonesia pertama berjudul Rodrigo de Villa yang diproduseri oleh Djamludin Malik. Film itu dibintangi oleh Raden Mochtar dan Netty Herawati.Yang menarik temanya itu terjadi di Spanyol pada abad pertengahandunia di luar Indonesia. Diceritakan Ketika Turki menyerbu Castille, permaisuri Isabella dan seorang ningrat bernama Lozano justru membantu musuh. Raja Alfonso ditawan bersama para pengikutnya, antara lain Rodrigo de Villa (Rd. Mochtar). Film ini diputar di Roxy-Rivoli bandung pada Agustus 1953 (Pikiran Rakjat, 6 Agustus 1953).

Majalah Aneka Tahun ke III edisi 26, 10 November 1952 mengulas:

Rodrigo de Villa sudah memperlihatkan adanja kesungguhan berusaha di stafnya yang melengkapi semua tjabang-tjabang kerdja membuat film Infromasi menarik dari Aneka tahun ke III edisi 29 10 Desember 1953 menyebutkan bahwa syuting dilakukan di Manila. Indonesia membawa 12 orang artis dan seorang sutradara untuk tinggal 5 bulan di Manila.

13480565981056126820
13480565981056126820

Pada 27-28 November 1953 SarekatArtisFilm dan Sandiwara mengadakan pertunjukan di Concordia.Pertunjukan kira-kira drama musikal yang hal yang baru sesudah Indonesia merdeka. Agaknya pertunjukkan itu terilhami oleh serbuan film drama musikal Hollywood.Yang terlibat dalam pertunjukkan ituialahHamid Arief,Fifi Young, Norma Sanger (Bintang Radio wanita masa itu). Pertunjukan sandiwara dan lawak diselingi nyanyianuntuk kegiatan amal. Karcis dibandroll Kelas I Rp17,50, kelas II Rp 12,50 dan Kelas III Rp7,50 (Pikiran Rakjat 26 November 1953).

Sepanjang 1953 dunia hiburan di Bandung memperlihatkan kecenderungan yang mnekajubakn selera wargakota. Di satu sisiseni pertunjukan tradisional mengalami modernisasi,namun hiburan berasal dari Barat agaknya juga dengan cepat mengambil hati penonton.

Irvan Sjafari

KONTEN MENARIK LAINNYA
x