Mohon tunggu...
Petra JD
Petra JD Mohon Tunggu... Menulis ketika ingin. Rehat ketika ingin. Mengkritik ketika diperlukan. Diam ketika mengendalikan. Seorang penulis lepas yang kadang omong kosong di dalam tulisannya. Namun kadang menyelipkan pesan tersembunyi di dalam tulisannya. Sekian.

Pengamat

Selanjutnya

Tutup

Digital Pilihan

"Open Privacy", Kamu Suka Menjadi Target Kriminal?

3 Oktober 2019   00:10 Diperbarui: 3 Oktober 2019   00:18 0 3 1 Mohon Tunggu...
"Open Privacy", Kamu Suka Menjadi Target Kriminal?
allure.com

Media sosial dan privasi pada dasarnya adalah dua hal yang saling berlawanan. Media sosial menandakan keterbukaan. Apabila seseorang membuka membuka akun media sosial, sejatinya adalah ia memperkenalkan dirinya kepada publik yang lebih luas lewat peramban maya. 

Kebijakan dalam mengelola media sosial adalah tanggung jawab personal, bagaimana seseorang membatasi konten apa yang tampil lewat media sosialnya. 

Persoalan yang terjadi adalah open privacy dari pemilik akun media sosial yang cenderung berlebihan. Beberapa tahun yang lalu Path merupakan media sosial yang sangat populer.

Meski sempat memiliki akun Path, saya sesungguhnya tidak menyukai konsep media sosial (Path) yang seperti ini.

Path memancing penggunanya untuk membagikan update kegiatan penggunanya secara aktual, seperti lagu apa yang sedang didengarkan, film apa yang sedang ia tonton, hingga lokasi keberadaanya secara real time

Meski Path kini sudah ditutup, bagaimana dengan media sosial yang lainnya?

Dasar dari semua media sosial adalah sama. Terdapat fitur serupa meski tidak plek sama.Misalnya, Instagram dengan fitur Instastory, di mana pengguna dapat membagikan hal secara real time (meski bisa juga postingan dari konten yang sudah lama), bahkan bisa ditambahkan lokasinya. 

Selain ada fitur lokasi, ada kecenderungan para pengguna media sosial yang jadinya malah seperti obral privasi. Segala kegiatannya dipublikasikan dengan bebasnya di media sosialnya. Tidak tahu apakah mereka sadar resiko dari bablasnya membagikan informasi apapun di media sosial dapat memancing perhatian dari para pelaku kriminal.

Kebiasaan memamerkan duit, kehidupan hedonisme, menampilkan belahan bagian tubuh, dan lain-lain. Bisa juga orang yang tidak menyukai anda dapat melacak kegiatan dan posisi anda, untuk melakukan tindak kejahatan kepada anda. 

Media sosial memiliki manfaat yang baik bila dalam mengelolanya disertai kebijakan kita yang berada pada batas koridornya. Obral privasi di media sosial hanya akan menjadi umpan untuk beragam tindak kejahatan. WASPADALAH!