Mohon tunggu...
Junita
Junita Mohon Tunggu... Guru - Guru

Hobi: baca buku dan renang

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Tahapan Perkembangan Kognitif Jean Piaget

28 November 2022   23:00 Diperbarui: 29 November 2022   04:06 214
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Teori perkembangan kognitif oleh Piaget adalah teori komprehensif tentang sifat dan perkembangan kecerdasan manusia. Teori ini berasal dari psikolog perkembangan Swiss Jean Piaget (1896-1980). Teori ini berurusan dengan sifat pengetahuan itu sendiri dan bagaimana manusia secara bertahap memperoleh, membangun, dan menggunakannya. Teori Piaget terutama dikenal sebagai teori tahap perkembangan (Cognitive Development) (Johnson & Munakata, 2005).

Tahapan perkembangan Kognitif (pemecahan masalah/Kecerdasan): Kata inteligensi berasal dari bahasa Latin "intelligere" yang berarti memahami atau memahami. Pemecahan masalah dan pengembangan kognitif berkembang dari pembentukan keabadian objek, kausalitas, dan pemikiran simbolik dengan pemikiran konkret (pembelajaran langsung) ke pemikiran abstrak dan penanaman memori implisit (tidak sadar) ke pengembangan memori eksplisit (Sobel et al., 2009).

Teori perkembangan kognitif Jean Piaget menunjukkan bahwa anak-anak bergerak melalui empat tahap pembelajaran yang berbeda. Teorinya berfokus tidak hanya pada pemahaman bagaimana anak-anak memperoleh pengetahuan, tetapi juga pada pemahaman sifat kecerdasan (Hugar et al., 2017). Tahapan Piaget antara lain:

  1. Tahap sensorimotor: Lahir sampai 2 tahun

  2. Tahap praoperasional: Usia 2 hingga 7 tahun

  3. Tahap operasional konkret: Usia 7 hingga 11 tahun

  4. Tahap operasional formal: Usia 12 tahun ke atas

Piaget meyakini bahwa anak-anak mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran, bertindak seperti ilmuwan kecil ketika mereka melakukan eksperimen, melakukan observasi, dan belajar tentang dunia. Saat anak-anak berinteraksi dengan dunia di sekitar mereka, mereka terus menambah pengetahuan baru, membangun pengetahuan yang ada, dan mengadaptasi ide yang dipegang sebelumnya untuk mengakomodasi informasi baru (Reber, 1986).

Saat baru lahir hingga 2 bulan: Saat lahir, panjang fokus optik kira-kira 10 inci. Bayi mencari rangsangan secara aktif, terbiasa dengan hal-hal yang familiar, dan berespons lebih aktif ketika rangsangan berubah. Respons awal lebih refleksif, seperti mengisap dan menggenggam. Dia bisa memperbaiki dan mengikuti busur horizontal lambat dan akhirnya akan mengikuti melewati garis tengah. Dia lebih suka kontras, warna, dan wajah, pemahaman yang akrab dari rangsangan yang cukup baru. Saat dia terbiasa dengan wajah pengasuh, dia mengembangkan preferensi. Dia akan menatap sejenak di mana suatu objek telah menghilang (kurangnya keabadian objek). Pada tahap ini, dia lebih suka suara bernada tinggi.

Tahap 2 hingga 6 bulan: Bayi terlibat dalam eksplorasi sensorik yang disengaja pada tubuhnya, menatap tangannya dan meraih serta menyentuh bagian tubuhnya. Dengan demikian, membangun konsep sebab dan akibat dan pemahaman diri. Dia menghargai sensasi dan perubahan di luar dirinya dengan keteraturan yang lebih sedikit. Saat dia menguasai kemampuan motoriknya, sesuatu terjadi secara kebetulan, dan kemudian dia mengulanginya. Misalnya, menyentuh tombol dapat membuat mainan menyala, atau menangis dapat menyebabkan munculnya pengasuh. Dia akan mengantisipasi rutinitas pada usia ini.

Tahap 6 hingga 12 bulan: Permanen objek muncul saat bayi mencari objek. Dia akan mencari objek yang sebagian tersembunyi terlebih dahulu (6 bulan) dan kemudian benar-benar tersembunyi, misalnya, akan membuka mainan dan mengintip-a-boo (9 bulan). Kecemasan akan perpisahan dan kecemasan akan orang asing muncul saat dia memahami bahwa di luar pandangan bukanlah di luar pikiran. Saat kemampuan motoriknya meningkat, dia mengeksplorasi lebih jauh menggunakan indranya dengan menjangkau, memeriksa, memegang, mengucapkan, dan menjatuhkan benda. Dia dapat memanipulasi lingkungannya, mempelajari sebab dan akibat dengan coba-coba, seperti membenturkan dua balok dapat menghasilkan suara. Akhirnya, dia membangun skema mental (seperti yang disarankan Piaget) dan belajar menggunakan objek secara fungsional, misalnya, menekan tombol dengan sengaja untuk membuka dan menjangkau ke dalam kotak mainan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun