Julius Deliawan
Julius Deliawan lainnya

Guru sejarah ; Penulis lepas ; Suami dan Ayah bisa ditemui di : juliusdeliawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Atletik Pilihan

Lalu Muhammad Zohri, Pemantik Spirit Asian Games 2018

13 Juli 2018   08:00 Diperbarui: 13 Juli 2018   08:38 925 12 7
Lalu Muhammad Zohri, Pemantik Spirit Asian Games 2018
nasional.kompas.com

"Kamu bisa!" 

"Jika bukan sekarang, kapan lagi?"

Masih banyak lagi afirmasi positif yang biasa diucapkan untuk membangkitkan semangat. Dimulai dari upaya membangun rasa percaya diri. Menggugah kesadaran agar kemudian seseorang memiliki spirit untuk mengoptimalkan segala kemampuan yang dimiliki. Untuk meraih kemenangan. Ini biasa terjadi di hampir semua kompetisi. Baik olahraga maupun bidang lain. Tidak terkecuali nanti pada perhelatan Asian Games 2018.

Mencermati prestasi Indonesia di pesta olahraga negara-negara Asia ini, fluktuatif. Bahkan jika dilihat dari sejak keikutsertaan Indonesia dari tahun 1951, peringkatnya cenderung menurun. Prestasi terbaik Indonesia adalah menjadi peringkat ke 2 pada tahun 1962. Bersamaan dengan dipercayanya Indonesia menjadi tuan rumah pesta olahraga tersebut.

Ragam cabang yang mendulang medali pun relatif sama dari satu perhelatan ke perhelatan berikutnya. Bulutangkis masih menjadi tumpuan harapan. Apakah ini berarti mengindikasikan pembinaan olahraga cabang-cabang lainnya hanya jalan di tempat? Atau sebenarnya sudah jalan, cuma negara Asia lainnya sudah berlari?

Tidak banyak yang saya ketahui terkait dengan bagaimana pembinaan olahraga di negeri ini. Tetapi saya percaya, pasti semua cabang olahraga di negeri ini sebenarnya telah berusaha membina para atlitnya secara maksimal. Mungkin saja karena berbagai kendala, pembinaan itu tidak dapat dilakukan secara optimal. Ada  banyak factor yang menyebabkan hal tersebut terjadi.

Misalnya saja, ada banyak cabang olahraga yang tidak memiliki kompetisi yang kontinyu di tingkat daerah, nasional maupun internasional. Sehingga pembinaan hanya dilakukan secara insidentil. Permasalahan lainnya adalah pada soal pemusatan latihan. Mulai dari hal-hal yang mendasar, hingga ke persoalan teknis yang sangat sepele. Seperti terlambatnya uang saku atlit. Hal ini pernah diungkap pengamat olahraga  Fritz E Simanjuntak dalam sebuah diskusi. Bisa dibaca di sini.  Sementara menurut Yayuk Basuki mantan atlit yang kini menjadi anggota DPR RI adalah karena belum konsistennya anggaran pemerintah dan lambannya kinerja Kemenpora. Baca di sini .

Sehingga menurut pemerhati olahraga dan mantan atlit tersebut perlu ada perombakan besar-besaran. Saya sepakat dengan hal tersebut, termasuk hingga ke persoalan mental atlit. Bukan hanya sekedar infrastruktur namun juga suprastruktur. Edukasi dan penanaman nilai-nilai dari setiap cabang olahraga yang dihubungkan dengan arti pentingnya bagi pembangunan mental sebagai orang Indonesia.

Mengapa ini penting, karena untuk menjadi juara perlu membangun mental   juara terlebih dahulu. Membangkitkan harga diri, rasa percaya diri, yang dapat memberi spirit bahwa kita juga berpeluang. Caranya beragam, satu diantaranya dengan mencari role model.

Sepertinya kebutuhan itu, saat ini terjawab. Lalu Muhammad Zohri, mencairkan kebekuan yang terjadi selama ini. Kejuaraan Dunia Atletik U-20

Kompas.com menulis "Situs resmi Asosiasi Internasional Federasi Atletik (IAAF) pada Rabu (11/7/2018) mencatatkan, dalam 32 tahun sejarah kejuaraan tersebut, penampilan terbaik atlet Indonesia adalah finish posisi ke-8 pada 1986.

Namun, semua itu berubah ketika Zohri berhasil mencapai garis akhir dalam waktu 10,18 detik atau sekitar 1,2 meter.detik."

Pada Kejuaraan Dunia Atletik U-20 IAAF di Finlandia, Zohri mengukuhkan dirinya sebagai pemenang. Semua kemudian bisa bilang, Indonesia juga bisa.

Zohri mengangkat harga diri bangsa dipercaturan olahraga atletik dunia. Semoga, ini juga memantik spirit, menghidupkan denyut nadi cabang-cabang olahraga lainnya.

Mungkin saja atletik di negeri ini juga mengalami kendala yang sama dalam pembinaannya. Tetapi bukan berarti tidak sanggup memelentingkan atlitnya yang bernyali di aras dunia. Atletik bisa, Bulutangkis sudah biasa, kami rakyat Indonesia menunggu yang lainnya juga bisa ikut "bicara". Asian Games salah satu kesempatannya. Mari bung rebut kembali!