Julius Deliawan
Julius Deliawan lainnya

Guru sejarah ; Penulis lepas ; Suami dan Ayah bisa ditemui di : juliusdeliawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Ananda Sukarlan, Pergulatan antara Etika dan Integritas

14 November 2017   13:40 Diperbarui: 14 November 2017   15:34 2518 10 15
Ananda Sukarlan, Pergulatan antara Etika dan Integritas
Foto: Kompas.com

Sikap walk out Ananda Sukarlan di perhelatan penganugerahan penghargaan dalam rangka ulang tahun ke-90 berdirinya Kolese Kanisius memicu perdebatan. Menarik, sikap pribadi tersebut mulai ditarik-tarik ke ranah persoalan politik praktis, yang sepertinya belum usai pasca Jakarta mendapat gubernur baru. Perdebatan berkembang masih berkutat antara pro si A dan pro si B.

Kalangan yang protes atas sikapnya sebagian besar mempertanyakan etika Ananda Sukarlan. Bahkan menghubungkan bahwa sikap yang diambilnya juga sebenarnya tidak sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh Kanisius, yang bersumber pada ajaran Katolik. Sebuah nilai yang juga menjadi dasar Ananda melakukan walk out. 

Sementara di pihak yang mendukung sikap Ananda, sikap itu adalah bentuk integritas. Satunya antara pikiran dan perbuatan yang selama ini diyakini oleh komponis besar tersebut. Masing-masing pihak berpegang pada perspektifnya.

Apapun landasan berpikirnya, sebenarnya yang paling kikuk adalah panitia acara. Keduanya, Ananda Sukarlan dan Anies Baswedan adalah sama-sama undangan kehormatan. Tentu tidak ada pemikiran panitia untuk mempermalukan yang satu dan mengecewakan yang lainnya. Keduanya adalah sosok terhormat sesuai kapasitasnya, terlepas dari polemik yang melekat pada diri mereka masing-masing. 

Dan itu jelas bukan ranah panitia acara. Tetapi panitia acara juga tidak dapat melarang ekspresi setiap tamu yang mereka undang. Mereka adalah tamu-tamu merdeka yang menghidupi nilai-nilai yang menunjukkan integritas diri mereka. Dan nilai-nilai itu barang kali juga di peroleh di lembaga Kanisius.

Saya yakin, Kanisius menjunjung tinggi kejujuran dan meletakkannya di atas etika. Ketika etika itu dianggap hanya membalut permukaan. Etika memang penting, sangat penting bahkan karena dapat membangun hubungan harmonis antarmanusia. Namun ketika itu hanya menggiring manusia kearah hipokrit, maka kejujuran tetap harus di kedepankan. 

Maka sikap walk out adalah upaya jujur Ananda Sukarlan pada dirinya sendiri. Dia tidak ingin semakin terluka ketika mendengarkan pidato Gubernur, yang dalam hal tertentu tidak sejalan dengan apa yang ia yakini. Begitulah kira-kira saya "membaca" maksud dari Ananda Sukarlan. Bisa saja arah baca saya ini salah dan bisa saja diperdebatkan.

Menurut saya, Ananda Sukarlan sadar atas pilihan sikap yang dia ambil. Ia bukan politikus yang mampu beretorika dengan banyak wacana atas ketidaksetujuan. Ia bukan demonstran yang dapat dengan mudah turun ke jalan untuk ketidakcocokan. Ia adalah komponis, ia hanya perlu berdiri dan pergi meninggalkan panggungnya. Tidak banyak bicara, tetapi pesannya diperdebatkan berhari-hari. Itu sepenuhnya hak Ananda Sukarlan, seperti juga hak kita mengkritisi sikapnya. Bedanya, ia punya panggungnya, dan sebagian dari kita tidak.