Mohon tunggu...
Julius Deliawan
Julius Deliawan Mohon Tunggu... https://www.instagram.com/juliusdeliawan/

Guru sejarah, yang mencintai dunia tulis menulis. Menaruh minat pada soal-soal kepemimpinan, pengembangan sumber daya manusia, sosial, budaya dan pertanian. Punya obsesi mengembangkan pendidikan yang memerdekakan, menerbitkan buku dan menjadi petani. Untuk perkenalan lebih lanjut, dapat ditemui di : juliusdeliawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Media

Sosial Media dan Nasib Kebhinnekaan Kita

29 November 2016   12:12 Diperbarui: 29 November 2016   12:18 114 0 0 Mohon Tunggu...

Sosial Media, belakangan tidak hanya sekedar media  ngerumpi  di  komunitas. Keberadaannya telah  menjelma menjadi  media informasi, bahkan dalam beberapa hal berhasil mengalahkan media-media mainstream. Aplikasi share yang disediakan penyedia layanan, membuat informasi apapun cepat tersebar luas, meski menggunakan metode jadoel; dari ‘mulut ke mulut’. 

Kebenaran, keakuratan atau keberimbangan informasi yang disajikan tidak lagi menjadi hal penting pada penyajiannya. Karena penulis dan pen-share memang bukan orang-orang yang dibekali dengan prinsip-prinsip jurnalistik. Apalagi kepentingannya, sekali lagi hanya menyajikan bahan rumpian. Sehingga tidak perlu memperhatikan kaidah-kaidah njelimet jurnalistik yang bisa saja mengurangi asyiknya  obrolan.

Seperti halnya ngerumpi di dunia nyata, di dunia maya pun  juga menggunakan logika yang sama.  Orang-orang berkumpul membangun kelompok-kelompok berdasarkan kesamaan-kesamaan. Pembicaraan semakin asyik ketika bahasan gayung bersambut, masing-masing menggunakan argumentasinya, namun dengan nada yang sama. Kenikmatin itu semakin mantap, ketika penyedia layanan menggunakan perhitungan-perhitungan matematis mengelompokkan penggunanya dalam mendapatkan informasi, yaitu berdasarkan apa  yang mereka sukai. Klop ! Social media ‘memerangkap’ siapapun penggunanya dalam kumpulan orang-orang yang memiliki pandangan sama. Perspektif social media menjadi  perspektif kacamata kuda.

Monopoli media mainstream sebagai pemberi informasi dan jargonnya, objektif, akurat dan berimbang barangkali sudah mulai memudar.  Media social dalam banyak hal berhasil menggantikan peran tersebut. Namun sebagai perangkat yang sejak diciptakannya merupakan media komunikasi antar teman, tentu peran social media tidak punya cukup kapasitas untuk menggantikan peran media mainstream. 

Cilakanya, banyak orang yang begitu saja percaya dengan postingan-postingan informasi dari up date status seseorang.  Hanya berdasarkan suka karena up date status orang lain seperti mewakili  kata hatinya, atau menganggap sebagai informasi, pengguna lain merasa berkewajiban  men-share postingan tersebut. Begitu seterusnya tanpa proses cek and ricek.

Informasi yang objektif, akurat dan berimbang tidak bisa digantikan oleh informasi yang menggunakan media apapun. Sebab tanpa itu semua, masyarakat hanya akan membangun kotak kenyamanannya sendiri tanpa memiliki kemampuan menyapa kelompok lain secara proporsional. Semakin dalam bersembunyi di dalam tempurungnya masing-masing. ‘Kebenaran’ kelompok menjadi arus utama, sementara ada kelompok lain yang juga menghidupi ‘kebenarannya’ sendiri. Masyarakat hasratnya diklimaks-kan oleh beragam informasi yang sepertinya beragam namun sebenranya mengekalkan ‘kebenaran’ yang telah ia yakini.

Tanpa sikap kritis, sosial media menggiring masyarakat membangun lebih tinggi tembok-tembok pelindung bagi mereka-mereka yang memiliki pemahaman seragam. Menurut saya, ini dapat mengancam kebhinnekaan. Karena suka atau tidak suka, realiatas kebhinnekaan kita itu nyata. Masing-masing punya kebanggaan atas apa yang telah menjadi bagian dari identitasnya tersebut. Jadi bak sebilah pisau, sosial media, untuk apa digunakan tergantung pada si-pemegangnya. @

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x