Mohon tunggu...
Jonminofri Nazir
Jonminofri Nazir Mohon Tunggu... dosen, penulis, pemotret, dan pesepeda, juga penikmat Transjakrta dan MRT

Menulis saja. Juga berfikir, bersepeda, dan senyum. Serta memotret.

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Anies Baswedan Bisa Selamatkan Rp100 Triliun Akibat Macet Jika Mau

19 Oktober 2019   22:44 Diperbarui: 19 Oktober 2019   22:51 90 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Anies Baswedan Bisa Selamatkan Rp100 Triliun Akibat Macet Jika Mau
Suasana di dalam Bus Transjakarta (foto: jonminofri)

Kata Gubernur Jakarta Anies Baswedan kerugian akibat macet di Jakarta dan sekitarnya mencapai Rp100 triliun (tirto.id, 14 Januari 2019).  Angka ini hampir sama dengan RAPD Jakarta tahun depan. Artinya, uang yang hangus di jalan raya karena mobil dan sepeda motor yang macet  sama dengan uang yang dibelanjakan oleh pemerintah daerah Jakarta tahun depan.  Mengerikan mendengarnya.

Jika Gubnernur DKI meyakini angka kerugian yang amat besar itu, tentu Anies akan serius mengatasi macet di Jakarta. Sialnya, Anies sebagai gubernur tidak mempunyai banyak pilihan untuk mengurai macet di jalanan Jakarta.

Menambah ruas jalan di jakarta, rasanya sulit. Jakarta sudah sempit. Sehingga pertumbuhan panjang kalah dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor. Sedangkan ruas jalan yang ada semakin "sempit" karena di beberapa ruas  jalan yang ada direbut pedagang kaki lima, mobil parkir, dan sebagainya..

Satu alternatif kebijakan yang bisa diambil oleh pemprov DKI adalah "memaksa warga untuk meninggalkan mobil dan sepeda motor miliknya di rumah. "Memaksa" artinya, warga Jakarta diminta pergi dari rumah menggunakan kendaraan umum. Jika paksaan ini berhasil, tentu kemacetan bisa dikurangi secara berarti.

Bagaimana cara memaksa warga agar menggunakan kendaraan umum?

Jawaban sederhananya, Pemprov DKI harus mengambil sejumlah kebijakan berani untuk transportasi umum. Intinya adalah bagaimana agar biaya yang dikeluarkan oleh warga kota lebih murah dibandingkan dengan biaya bahan bakar sepeda motor untuk tujuan yang sama.

Harus diingat bahwa masyarakat pengguna sepeda motor dan mobil -- serta pelanggan jasa angkutan umum--- berfikir seperti konsumen pada umumnya. Mereka rasional dalam mengambil keputusan: naik sepeda motor atau naik kendaraan umum? Prinsip mereka adalah: Mereka akan membelanjakan uangnya untuk jasa angkutan  yang murah dan memberikan benefit yang besar.

Prinisip itu dijalankan betul oleh warga kota. Karena itu, bisa dipahami jika jalanan di Jakarta --juga daerah lain di Indonesia---dipenuhi oleh sepeda motor. Sebab, yang mereka ketahui, sepeda motor berbiaya paling murah, dibandingkan dengan kendaraan lain, termasuk jika menggunakan kendaraan umum

Perhitungan kasarnya adalah seperti ini: pengguna sepeda motor cukup mengeluarkan uang Rp10.000 per hari untuk beli bensin. Bensin sebanyak itu cukup digunakan untuk perjalanan dari rumah ke kantor, pulang dan pergi. Sehingga sebulan mereka hanya menyisihkan Rp300 ribu untuk biaya trasportasi, termasuk pemakaian sepeda motor pada hari libu

Jadi, logikanya, jika saja warga kota bisa mengeluarkan sekitar Rp10.000 per hari untuk naik kendaraan umum --dari rumah ke kantor pulang-pergi-- mereka akan meninggalkan sepeda motornya di rumah. Dan beralih ke kendaraan umum.

Bayangkan ini: jika sejuta sepeda motor tidak keluar rumah dalam satu hari, tentu jalan raya di Jakarta agak lengang sedikit. Tuhan lalu jumlah kendaraan bermotor yang masuk ke Jakarta per hari adalah  18 juta unit, sebagian besar (73,92%) adalah sepeda motor. Persentasi sepeda motor di jalan raya terus naik secara signifikan. Pada tahun 2015, sepeda motor hanya 49% di jalanan (detik.com, 21 ferbuari 2018)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x