Mohon tunggu...
Joni Daud
Joni Daud Mohon Tunggu... Karyawan Swasta -

Domba Hitam - Bangka Belitung

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Kegagalan Pembangunan Pulau Bangka

21 Januari 2017   22:24 Diperbarui: 27 Januari 2017   01:30 170 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Mengapa saya memberi judul pada tulisan ini yaitu “Kegagalan Pembangunan Pulau Bangka”, menurut pendapat pribadi saya bahwa pembangunan Pulau Bangka kurang lebih 10 tahun ini adalah semu. Seperti kabut, yang ketika cuaca dingin kabut turun sebentar kemudian hilang. Pembangunan ini hanya ilusi saja, hanya janji-janji yang kita dapatkan, bukan bukti nyata kemajuan, tapi justru kemunduran.

Sempat menikmati era pertambangan timah pada masa lalu yang hanya sebentar, tapi sepertinya pemimpin ini tidak pernah mempersiapkan diri bahwa era pertambangan timah tidak akan berumur panjang. Padahal setahu saya memang era pertambangan timah yang tidak terkontrol akan berdampak negatif pada pembangunan di masa depan. Dan sekarang, kita merasakannya terjadinya penurunan ekonomi yang cukup drastis dalam dua tahun belakangan ini.

Kerusakan alam baik di laut dan di darat tidak sebanding dengan apa yang kita dapatkan, tapi pemimpin kita tidak pernah bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi era pasca pertambangan timah ini. Kerusakan alam yang memang parah di pulau ini memang akibat dari pertambangan timah yang tidak terkontrol, dan diperparah oleh kelakuan pemimpin kita yang seakan-akan memberi peluang terjadinya pertambangan illegal, penyeludupan timah dan pengerusakan alam yang tidak terkontrol lagi dimasa lalu.

Banjir mungkin kedepannya akan terus menghampiri kota Pangkalpinang, jika tidak ditanggapi dengan tepat. Banjir 2016 yang hampir melanda beberapa wilayah di Pulau Bangka adalah akibat dari ketidakbecusan pemimpin hingga pemangku kepentingan dan orang-orang berkuasa yang memang seakan-akan tidak peduli masa depan pulau ini. Dan parahnya orang-orang ini berebut menjadi penguasa kembali pada pilkada 2017.

Rusaknya lingkungan, rusaknya laut dan daratan menjadi penderitaan rakyat dan generasi mendatang untuk membenahi perbuatan dari golongan tua. Golongan tua disini yang saya sebutkan adalah mereka yang dimasa lalu kepemimpinannya hanya pada pencitraan saja dan memberi rakyat janji-janji manis kampanye dan setelah berkuasa mereka lupa, mereka tidak menjalankan dengan baik programnya, mereka terus melakukan pembiaran terhadap pertambangan timah yang mengakibatkan rusaknya laut dan daratan, dan yang dilakukan hanya pencitraan saja dan terus pencitraan saja.

Pilkada 2017 ini sudah menjadi agama baru dan semboyan-semboyan bagi politisi daerah untuk melakukan pencitraan dan mengambil hati rakyat. Dalam pilkada 2017 ini mereka golongan tua memposisikan diri sebagai “pelayan rakyat” “harapan baru” “juru selamat” bahkan mereka mungkin mau mencuci kaki rakyatnya ketika masa kampanye pilkada 2017 ini. Hal inilah yang menjadi penyakit politisi dan golongan tua ini, mereka ketika terpilih sudah menjadi orang lain. Mereka berkhianat kepada rakyatnya, mereka tidak mengukur kemampuannya bahwa pada awalnya mereka tidak becus menjadi seorang administrator daerah. Tapi mereka menikmatinya, dan tidaklah menjadi dosa, karena golongan tua ini hanya mencari jabatan dan gila hormat atau mungkin saja gila uang.

Politik adalah barang yang paling kotor, kita hanya menjumpai pengkhianatan saja. Padahal politik menurut Aristoteles adalah suatu usaha yang ditempuh rakyat untuk mewujubkan kebaikan bersama. Tapi justru yang terjadi adalah makanan baik untuk para pemimpinnya, dan rakyat hanya makan janji-janji manis.

Ketika terpilih mereka memposisikan diri sebagai raja, sebagai orang yang dipertuan agungkan, dipermuliakan, harus disembah oleh rakyat yang memilihnya, tapi ketika dikritik mereka seperti cacing kepanasan. Untuk menghindari kritik mereka rajin muncul headline media massa, mereka pintar mengkomunikasikan kepada rakyatnya bahwa mereka adalah orang baik, golongan tua ini sangat suka dipuji dan dihormati karena jabatan, bukan karena pekerjaan.

Sudah saatnya kita berkata TIDAK pada pemimpin golongan tua ini, yang hanya menaruh simpati dan mengutarakan keprihatinan ketika banjir datang, memposisikan diri ikut merasakan dampak akibat banjir dengan blusukan, walaupun mereka turut bertanggungjawab terhadap kerusakan alam di pulau ini, mereka yang kerjaannya hanya memasang baliho-baliho dipersimpangan untuk mengucapkan hal-hal yang tidak penting. Tapi tidak banyak hal yang baik dilakukan mereka bagi pulau ini.

Kita TIDAK butuh pemimpin seperti golongan tua ini. Kita butuh seorang administrator untuk mengatur kembali kota Pangkalpinang yang ambruladul, memperbaiki kerusakan alam Pulau Bangka yang diakibatkan golongan tua ini dan berani berkata TIDAK terhadap suap, korupsi, bagi hasil, berbagi proyek maupun persekongkolan dengan mafia-mafia yang hanya mengincar timah Bangka tapi tidak peduli pada alam baik lautan dan daratan.

Kita sudah cukup dibodohi oleh golongan tua ini. Dan parahnya beberapa dari kita termakan janji-janji manis golongan tua. Jika terus seperti ini, tidak ada lagi yang diharapkan rakyat Pulau Bangka, saatnya kritis untuk pembangunan di masa depan. Jangan beri kesempatan bagi golongan tua untuk berkuasa kembali. Sebab merekalah juga yang harus bertanggungjawab terhadap kemunduran perekonomian dan kerusakan alam yang menyebabkan banjir.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan