Yohanes Pambudi
Yohanes Pambudi Officer Bank - Hobi Menulis - Cinta Damai dan Persatuan - Love Indonesia

Channel Officer Bank

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Artikel Utama

Meskipun Kecewa dengan Cawapres, Janganlah Golput!

10 Agustus 2018   09:24 Diperbarui: 10 Agustus 2018   15:16 1125 6 1
Meskipun Kecewa dengan Cawapres, Janganlah Golput!
Ilustrasi: kompas.com/Didie SW

Kemarin tanggal 9 Agustus 2018 adalah hari yang bersejarah. Kubu koalisi Jokowi dan Prabowo sama-sama telah mengumumkan capres dan cawapres yang mereka usung. 

Jokowi akhirnya memutuskan cawapresnya adalah ketua MUI yaitu KH Ma'ruf Amin, sedangkan Prabowo mengumumkan cawapresnya adalah Sandiaga Uno yang masih menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI.

Saya yakin kedua pilihan itu tidak bisa memenuhi harapan semua pihak. Baik kubu pendukung Pak Jokowi, maupun pendukung kubu Pak Prabowo sama-sama ada kecewanya. Ini hanyalah dugaan saya semata, kemungkinan kekecewaan itu adalah sebagai berikut.

Kekecewaan Kubu GNPF

Sudah jelas bahwa dalam ijtima atau pertemuan ulama dan tokoh GNPF merekomendasikan Prabowo Subianto sebagai calon presiden dan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri atau Ustaz Abdul Somad sebagai calon wakil presiden. Soal capres memang sudah sesuai harapan namun cawapresnya sama sekali diluar rekomendasi ijtima ulama GNPF. (sumber)

Golput Bukan Pilihan | Tribunnews.com
Golput Bukan Pilihan | Tribunnews.com
Dilansir dari kanal berita detik.com ketua umum GNPF Ulama Yusuf Martak justru menganggap Jokowi lebih cerdas dalam memilih wakil.

"Saya, dengan Pak Jokowi untuk periode kedua didampingi oleh Pak Ma'ruf Amin, saya tidak tahu itu benar atau tidak, ternyata Pak Jokowi lebih cerdas daripada kita," kata Ketua Umum GNPF Ulama Yusuf Martak setelah menemui Prabowo di kediaman Jl Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (9/8/2018).

Lebih jauh sesungguhnya beliau ingin Prabowo mempertimbangkan kembali keputusannya memilih cawapres. "Jadi menurut saya, yang terbaik dibicarakan, dirundingkan, lagi yang benar, dipertimbangkan dengan baik. Jangan sampai nantinya alami kegagalan yang ketiga dan keempat karena kami akan lakukan musyawarah Ijtimak Ulama yang kedua," Yusuf Martak  menambahkan. (sumber)

Kekecewaan Kubu Ahoker

Keputusan Jokowi untuk memilih KH Ma'ruf Amin sebagai cawapres di Pilpres 2019 memang mengejutkan. Para pendukung Ahok yang biasa disebut Ahoker bergejolak di sosial media. 

Dari pantauan saya pribadi tidak jarang muncul komentar untuk memilih golput daripada mencoblos Jokowi karena pilihan cawapres Jokowi adalah tokoh yang ada hubungannya dengan pemenjaraan Ahok.

Sebagaimana kita ketahui Pak Ma'ruf adalah Ketua Umum MUI yang menandatangani pendapat dan sikap keagamaan MUI yang akhirnya menyatakan Ahok sebagai penghina Alquran dan penista agama. 

Pendapat dan sikap MUI itu kemudian ditindaklanjuti dengan aksi demo bertubi-tubi. Pak Ma'ruf juga dengan lantang mengakui aksi 212. Selebihnya Pak Ma'ruf jugalah yang menjadi saksi memberatkan di persidangan penistaan agama hingga akhirnya Ahok dipenjara di Rutan Mako Brimob.

Para Ahoker sudah terlanjur happy dan berharap Mahfud MD lah yang menjadi cawapres. Seperti pendapat yang diungkapkan oleh kompasianer Boris Toka Pelawi berikut :

"Saya melihat sosok Mahfud MD adalah yang paling tepat untuk mendampingi Jokowi, selain pernah menjadi menteri, anggota DPR, hingga ketua mahkamah konstitusi beliau juga akademisi. Seorang guru besar yang sudah malang melintang dalam dunia pendidikan.

Nasionalismenya? Tak perlu diragukan. Argumennya tentang pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) selalu saya ingat. Mahfud MD tidak munafik seperti tokoh lainnya yang tahu bahayanya HTI tapi mengeluarkan argumen ambigu dengan harapan dibilang membela islam. Inilah yang saya kagumi dari Mahfud MD." (sumber)

Saya secara pribadi pun setuju bahwa Pak Mahfud MD sudah terbukti nasionalisme, religius, cerdas dan berintegritas. Saya juga salut beliau tidak kecewa setelah dimenit-menit akhir batal menjadi cawapres Jokowi. Hanya Jokowi dan partai koalisilah yang tahu mengapa beliau batal dipilih menjadi cawapres.

Kekecewaan Kubu SBY

Hal ini pernah saya bahas dalam artikel saya sebelumnya yang bertajuk "Bila Oposisi Tidak Bersatu, Sama Saja Membiarkan Jokowi Menang" (baca).

Terlihat jelas kekecewaan Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief dalam cuitannya di sosial media twitter beberapa hari yang lalu. Menurut Andi, ada perubahan sikap dari Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang menyebabkan rencana koalisi terancam batal. 

Saking kesalnya, Andi menyebut Prabowo sebagai jenderal kardus. Pernyataan itu ia lontarkan melalui akun Twitter pribadinya @AndiArief__. Hingga kini netizen masih ramai menggunjingkan perihal jendral kardus.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2