Mohon tunggu...
Johan Japardi
Johan Japardi Mohon Tunggu... Penerjemah - Penerjemah, epikur, saintis, pemerhati bahasa, poliglot, pengelana, dsb.

Lulus S1 Farmasi FMIPA USU 1994, Apoteker USU 1995, sudah menerbitkan 3 buku terjemahan (semuanya via Gramedia): Power of Positive Doing, Road to a Happier Marriage, dan Mitos dan Legenda China.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Peribahasa dalam Beberapa Bahasa untuk Parenting

9 Juni 2021   10:11 Diperbarui: 9 Juni 2021   10:25 245 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Peribahasa dalam Beberapa Bahasa untuk Parenting
Sumber: https://www.freepik.com/premium-vector/parenting-concept-with-illustration-parent-with-daughter_9189346.htm

Parenting.

Sebelum menjadi orangtua, tentunya tahapan yang sudah dilalui adalah mencari pasangan jiwa sampai akhirnya menikah. Peribahasa yang bisa diaplikasikan dalam tahapan ini secara singkat saya cakupkan saja di sini.

Walau mendapat jodoh itu bak: membeli kucing dalam karung, namun berusahalah untuk memilih yang terbaik. Jangan sampai pilihan kita membawa kita ke sebuah situasi serba salah: Bagai buah simalakama, dimakan ayah mati, tak dimakan ibu mati, yang pernah saya katakan sudah diperhalus oleh orang Tanjungbalai Asahan yang sangat menghormati orangtua itu, menjadi sebuah syair 2 baris (saya terjemahkan dari dialek Melayu):
Buah kedekak buah kedekik,
Dimakan ayah pekak, tak dimakan ibu bertungkik.

Jangan pula memaksakan diri harus menikahi seseorang yang sama sekali tidak mencintai kita, karena kita diingatkan, oleh kearifan Tanjungbalai juga: Cinta kelapa, aku yang cinta dia tidak apa-apa. Eloklah: Cinta buaya, dia yang cinta aku tak apa-apa. Baiklah, dengan asumsi bahwa semuanya baik-baik saja sampai ke pelaminan, sambutlah kedatangan si buah hati.

Dalam parenting, peribahasa pertama yang saya pedomani adalah: Air cucuran jatuhnya ke pelimbahan juga (sifat atau budi pekerti anak biasanya mengikuti sifat atau budi pekerti orang tuanya, biasanya mengenai hal yang kurang baik). Dengan padanan dalam bahasa Inggris: Like father like son (Bagaimana watak seorang ayah begitu pulalah watak anaknya).

Walaupun orangtua yang berwatak "kurang baik" bisa sedikit berlega hati kalau pernah membaca antitesis atau pengecualian peribahasa ini dalam bahasa Mandarin dan dialek Hokkien, saya terjemahkan: Bambu jelek mengeluarkan rebung bagus. Tapi yakinlah, ini hanya sebuah special case dengan angka kejadian yang sangat kecil, seperti seekor angsa hitam yang menjadi special case bagi jutaan angsa putih.

Yang lebih penting adalah mengingat: Manusia adalah makhluk kebiasaan, namun kebiasaan itu bisa diubah menjadi kebiasaan baru (yang baik) dan aturan #2  dari Ivan Burnell: Kejujuran Mutlak.

Kebiasaan yang berlandaskan kurang baiknya watak (bibit dalam bibit, bobot dan bebet) harus segera diubah atau dihilangkan, sebelum ia mendatangkan dampak yang sangat merugikan bagi orangtua dan juga anak-anak. Jangan: Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

Setelah memastikan tidak ada lagi watak jelek ini, barulah seorang orangtua bisa dikatakan bisa memberikan teladan bagi anak-anaknya. Jangan pula menyalahkan diri karena memiliki watak seperti itu, tetapi selalulah memikirkan solusi agar bisa dengan segera meninggalkannya. Kata peribahasa China: Lebih baik menyalakan sebatang lilin ketimbang mengutuk kegelapan.

Sebagai orangtua, jangan lalai karena dimikuldhuwurmendhemjeroi anak-anak (lihat artikel saya: Peribahasa dalam Beberapa Bahasa untuk Pergaulan. Ojo dumeh (Jangan mentang-mentang, menjadi orangtua) dan ewuh pakewuh (kesungkanan) anak kepada kita, membuat kita kebablasan. Tatakrama orangtua kepada orangtua kepada anak juga perlu. Jika seenak udel, terjadilah apa yang saya contohkan dalam artikel saya: Bos Toksik, dimana si bos toksik ini berkata kepada anaknya: "percuma kau sekolah tinggi" dan pernah dijawab satu kali oleh si anak: "kalau aku yang sekolah tinggi papa katakan percuma, papa yang nggak sekolah tinggi lebih percuma lagi." 1-0 telak untuk anaknya.

Sekali lagi: Mulutmu harimaumu, jangan berkata seenak cangkemmu. Jadi: Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna. Dalam bahasa Inggris: Look before you leap.
 
Dalam artikel saya: Parenting a la Johan Japardi, saya sebutkan bahwa apa yang tidak bisa saya setujui dari cara pengorangtuaan orangtua saya, tidak saya aplikasikan kepada anak saya, dan kata "orangtua" secara implisit mengandung makna 3-in-1, yakni orangtua, guru, sekaligus sahabat sang anak, dan: Anak adalah seorang pribadi independen sekaligus dependen. Dalam kapasitasnya sebagai pribadi yang independen, arahkan dia untuk mandiri dalam mengambil INISIATIF sendiri, dan dalam kapasitas yang satu lagi baru kita berikan INSTRUKSI, yang semakin lama semakin berkurang.

Tujuan akhir saya dalam parenting adalah anak dengan orangtua yang bisa: Silih asih, silih asah, dan silih asuh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x