Mohon tunggu...
Johan Japardi
Johan Japardi Mohon Tunggu... Penerjemah, epikur, saintis, pemerhati bahasa, poliglot, pengelana, dsb.

Lulus S1 Farmasi FMIPA USU 1994, Apoteker USU 1995, sudah menerbitkan 3 buku terjemahan (semuanya via Gramedia): Power of Positive Doing, Road to a Happier Marriage, dan Mitos dan Legenda China.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Sandi Fonologis: Sebuah Artikel Inpromptu Saya

14 April 2021   10:14 Diperbarui: 24 April 2021   11:36 127 2 0 Mohon Tunggu...

Sandi (Sanskerta: sandhi) adalah sebuah istilah dalam fonologi, jadi saya sebut saja sandi fonologis, dan seingat saya sewaktu belajar bahasa Indonesia di SMP dulu, ia disebut sebagai "gejala bahasa sandi," yang sekarang sulit saya lacak secara daring, mungkin saya harus membuka kembali buku-buku lama.

Wikiwand memberikan definisi sandhi (tanpa memberikan contoh): perubahan fonetis yang terjadi di dalam sebuah kata pada posisi awal, tengah atau akhir karena pengaruh afiksasi atau fonem yang berada di dekatnya. Bahasa Sanskerta, dan bahasa-bahasa di Indonesia yang dipengaruhi bahasa Sanskerta, seperti bahasa Jawa, memiliki paradigma hukum sandhi yang sangat rumit.

Dalam melacak contoh ini, saya menemukan tulisan Venny Indria dan masuk ke tautan yang langsung mengunduh sebuah file PDF berjudul sandhi-dalam-bahasa-jawa-kuna.pdf

Banyak contoh yang bisa dibaca dari file ini, namun aplikasinya adalah dalam bahasa Jawa Kuna, dan salah sebuah jenis sandi yang disebut adalah: perubahan a + i menjadi e.

Saya berikan beberapa contoh sandi ini dan jenis sandi lainnya dalam bahasa Indonesia yang sudah saya kumpulkan selama ini, yang dalam beberapa kesempatan telah saya bahas dengan putri saya, yang sebagian digunakan dalam bahasa Jawa dan sebagian lagi bahasa Indonesia ("-" dibaca "menjadi"):
bagian - bagen (pembagian)
cabai - cabe
ditalikan - ditaleni (diikat)
kebupatian - kabupaten
kuncian - kuncen (berkaitan dengan kunci)
lalian - lalen (pelupa)
kepanjian - kepanjen
kundai - konde (gelung rambut)
kuning - koneng
pengantian - penganten
peranian - panen
pecinaan - pecinan
pesantrian - pesantren
petai - pete
saji-sajian - sesajian - sesajen
sangai-sange (tudung saji)
wedian - weden (penakut)

Dari contoh di atas, kita bisa mengaplikasikan sandi ke kata kementerian - kamentren, tapi tampaknya analogi ini dibawa terlalu jauh jika kata "onde" dalam "onde-onde" juga kita kembalikan ke "undai."

Catatan:
Bisa ditemukan juga sandi beruntun, misalnya: sungai-sunge-sungei (i ditambahkan kembali)
Kata turunan dari, misalnya pesantrian, bukan menjadi pasantren, tetapi pesantren. Di sini terjadi pergiliran vokal pada suku kata pertama dan kedua.
Informasi dalam artikel ini bisa digunakan untuk memverifikasi pendapat dan pembahasan "tebak-tebakan" di internet yang pada akhirnya memberikan informasi yang simpang-siur.

KBBI sendirinya tampaknya kurang konsisten, atau mungkin kurang teliti dalam membakukan sandi ini sehingga kundai dan kunde sama-sama dicantumkan sebagai bentuk baku, sedangkan untuk cabai dan cabe, cabe masih dianggap tidak baku, yang mengakibatkan tergantinya "cabe" pada judul artikel saya beberapa jam yang lalu, Mau Tahu Level Kepedasan Cabe? Pakai Skala Scoville, menjadi "cabai," sedangkan dalam konten artikel ini saya secara konsisten menggunakan kata "cabe" yang menurut saya tidak jadi masalah. Malahan, karena lebih sulit diucapkan, "cabai-cabaian" pun berubah menjadi "cabe-cabean."

Jonggol, 14 April 2021

Johan Japardi

Addendum pascapublikasi (post-post)
balai - bale
balian-balen
baterai - bat(e)re
cungkil-congkel = dungkil-dongkel
gulai - gule. Ini contoh kesimpang-siuran yang disebutkan di atas: gulai dan gule tidak sama.
jintan - jinten.
kaus - kaos.
kukuh - kokoh.
kurma - korma.
loterai - lot(e)re
mangkuk - mangkok.
pandai - pande.
rubuh - roboh (Bentuk baku dalam KBBI: roboh). Apakah KBBI tidak memperhatikan sandi atau memang bentuk asalnya adalah roboh? Bandingkan dengan kukuh - kokoh, yang dibakukan adalah kukuh.
salai - sale
satai - sate
serai - sere - sereh
tauge - toge
tauke - toke

VIDEO PILIHAN