Mohon tunggu...
Ahmad Munjizun
Ahmad Munjizun Mohon Tunggu... Ilmuwan - Mahasiswa S3 di North Carolina State University

Saya biasa dipanggil Jizun. Saat ini sedang menempuh studi di Amerika Serikat jurusan Animal Science dengan spesifikasi Equine Science atau Science tentang kuda.

Selanjutnya

Tutup

Ramadan

Puasa; Jangan Cuma Fisik Doang yang Puasa

26 Mei 2018   22:03 Diperbarui: 26 Mei 2018   22:31 967
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Puasa Ramadhan adalah ibadah yang dikhususkan pada bulan Ramadhan, alias setahun sekali. Pengertian puasa sudah tidak asing lagi di kalangan umat muslim. Bahkan anak kecil saja tahu apa itu puasa dan bagaimana menjalankan puasa secara syariat. Berikut ini adalah beberapa buah pemikiran saya tentang puasa di Bulan Ramadhan, dalam kaitannya dengan ketaqwaan dan pengenalan akan Allah swt.

Secara fiqih (syariat), menjalankan puasa cukup dengan menahan diri dari segala yang membatalkan puasa, termasuk dari makan dan minum. Namun, jika tidak dibarengi dengan perbaikan batin, maka akan sia-sia. Dalam hal ini, perbaikan batin yang dimaksud adalah, di saat mempuasakan tubuh dari aktivitas makan dan minum dan hal-hal lainnya, batin kita juga seyogyanya dipuasakan dari hal-hal yang mengotori hati. Inilah mengapa dalam beberapa hadits dijelaskan bahwa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan pahala puasanya, bahkan tidak sedikitpun. Betapa tidak, yang dimaksud adalah orang-orang yang berpuasa secara jasmani, tetapi hatinya lalai dari mengingat Allah swt.

Puasa adalah satu bentuk ibadah yang bertujuan untuk membiasakan diri bahkan dari hal-hal yang dihalalkan pada saat tidak berpuasa. Ini adalah satu cara Allah swt melatih hamba-hamba-Nya menjadi pribadi-pribadi yang tangguh dalam menghadapi cobaan-cobaan yang bersifat material seperti harta benda atau tahta. Nah, demikian juga halnya dengan rohani kita. Seharusnya, puasa adalah satu ibadah yang dapat melatih hati kita supaya senantiasa mengingat Allah swt. Untuk itu, kalau kita lalai dari mengingat Allah, maka dapat dikatakan bahwa hati kita sudah berbuka.

Kata lain dari mengingat Allah adalah zikir. Zikir yang seperti apa sih yang semestinya kita lakukan? Sejauh ini, kata zikir merupakan satu kata sakral yang hanya identic untuk mereka yang rajin ber'wirid'. Tidak saudaraku, tuntutan untuk terus berzikir tidak diperuntukkan hanya untuk orang-orang tertentu. Setiap orang harus senantiasa berzikir sepanjang masa, tanpa ada satu detik pun yang luput.

Secara bahasa, zikir memang berarti mengingat. Tapi apakah hanya sekedar mengingat nama? Secara kita kan tidak pernah melihat Allah swt secara langsung dengan mata kepala kita. Lantas bagaimana? Coba sadari apa yang ada dalam benak anda saat mendengar nama Allah swt.? Apa yang terlintas dalam pikiran anda? Tentu yang terlintas dalam benak kita adalah tergantung seberapa jauh kita mengenal siapa yang kita ingat itu. Seberapa jauh kita mengenal Allah, itulah yang akan menentukan bagaimana kita berzikir. Sebagai contoh, kalau kita menyebut seorang figure, lets say, "Raisa", maka secara langsung akan terlintas dalam pikiran kita apapun yang kita tahu tentang Raisa. Orang yang mengenal Raisa sebagai sosok seorang penyanyi tetapi tidak pernah membaca biografinya, menonton videonya di youtube atau social media lainnya, mereka tidak punya gambaran lain tentang Raisa selain sebagai "seorang penyanyi". Tapi seorang yang punya wawasan yang lebih luas tentang Raisa akan langsung terbayang bahwa Raisa, sebagai contoh, adalah penyanyi sekaligus penulis lagu, yang namanya mulai booming dikarenakan video-video youtubenya yang viral (ciye-ciyee... stalking nih. Hehe). Begitu pula dengan berzikir atau mengingat Allah swt.

Berdasarkan penjelasan di atas, kualitas zikir seseorang akan ditentukan oleh seberapa komprehensif pengenalan seseorang akan Allah swt. Bagaimana kita mengenal Allah swt? Tentu dengan mempelajari sifat-sifat dan ayat-ayat Allah swt. Sumbernya dari mana? Dari Al-Qur'an dan Hadits, juga yang disempurnakan oleh para alim.

Kenapa mesti mengenal Allah swt? Kan katanya, tak kenal maka tak sayang. Jadi wajar dong mengenal Allah itu penting. Apa indicator-indikator atau tolok ukur mengenal Allah swt? Silahkan tanyakan pada alim ulama, secara saya hanya seorang sarjana bidang perkudaan.

Namun ada satu hal yang sangat mendasar dalam proses pengenalan Allah swt. yaitu mengenal Allah swt sebagai satu zat yang esa, esa atau tunggal dalam hal zat, sifat, dan af'al (perbuatan)-Nya. Mengesakan Allah swt adalah inti dari keimanan dan keislaman. Ingat kan bahwa rukun Islam yang pertama adalah membaca dua kalimat syahadat? Syahadat berarti kesaksian, alias bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah swt. dan bahwa Nabi Muhammad saw adalah utusan-Nya. Pertanyaannya adalah kenapa menggunakan kata "Asyhadu" alias "Aku bersaksi"? Apa benar kita sudah menyaksikan ke-Esa-an Allah swt sebagai Tuhan yang Tunggal? Kita benar-benar bersaksi atau memaksakan kesaksian? Jujur ya? Jawab sendiri dalam hati. Nah, itulah betapa pentingnya melakukan pendekatan dan pengenalan kepada Allah swt.

Bagaimana melakukan pengenalan dan pendekatan kepada Allah swt? Tentu dengan cara mempraktikan ibadah-ibadah kita, yang tidak hanya selesai pada pekerjaan jasmani, tapi juga melibatkan perjalanan batin kita. Bisa dikatakan bahwa semakin tinggi tingkat pengenalan seseorang kepada Allah swt maka semakin komprehensif tauhid atau pengesaannya akan Allah swt dan juga akan semakin baik kualitas dan kuantitas zikirnya.

Kenapa orang yang bagus pengenalannya akan Allah swt senantiasa hatinya tidak pernah luput dari mengingat Allah swt? Sebab ia sadar bahwa tiada daya dan upaya melainkan Allah swt. Hatta untuk denyut jantung, peredaran darah, mekanisme sel, jaringan, dan organ tubuhnya ia sadari bahwa semuanya berjalan lancar atas kontrol dari Allah swt. Dia sadar bahwa energi yang dia gunakan dan energi yang memungkinkan dunia ini sustainable (berkelanjutan) adalah energinya Allah swt. Ruangan tempat ia berpijak adalah ruangnya Allah swt. Ia tidak merasa bisa melihat kecuali karena Allah swt memperlihatkannya. Ia tidak merasa mendengar melainkan Allah swt yang memperdengarkannya. Ia tidak merasa mampu bergerak, melainkan Allah swt yang menggerakkannya. Jadi wajar-wajar saja kalau orang-orang (yang sudah sampai pada level pengenalan yang tinggi) ada yang memberikan pernyataan bahwa yang melihat itu adalah Allah, bukan saya. Yang sholat itu adalah Allah, bukan saya. Tapi mereka tidak pernah bermaksud untuk mengatakan bahwa mereka adalah Allah swt.

Mereka yang tauhidnya bagus, semua kejadian di dunia ini terjadi karena Allah swt. Semua yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi adalah karena Allah swt. Tidak ada sedikitpun kemampuan makhluk untuk memastikan satu hal (sekecil apapun) untuk terjadi, melainkan atas izin Allah swt. Berdasarkan konsep ketauhidan ini, secara hakiki, manusia tidak bisa apa-apa. Selama manusia masih merasa "mampu" untuk melakukan atau menggapai sesuatu, tanpa kesadaran bahwa kemampuan itu adalah kemampuan Allah swt, maka ada "syirik" di hatinya, yang disebut dengan "syirik khofi", tidak sampai dikatakan murtad.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ramadan Selengkapnya
Lihat Ramadan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun