YEREMIAS JENA
YEREMIAS JENA Dosen

Akademisi dan filsuf di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Filsafat dan Rina Nose yang Tidak Lagi Berjilbab

19 November 2017   14:24 Diperbarui: 21 November 2017   07:14 77283 27 35
Filsafat dan Rina Nose yang Tidak Lagi Berjilbab
Rina Nose ketika masih mengenakan jilbab dan sesudah tidak lagi berjilbab. Sumber: tribunnews.com

Sebelum dihebohkan oleh kecelakaan tunggal mobil yang ditumpangi Setya Novanto yang beradu dengan tiang listrik, ruang publik kita telah ramai dengan kisah Rina Nose, seorang selebriti cukup terkenal, yang memutuskan untuk tidak lagi mengenakan jilbab. Padahal setahun belakangan Sang Artis dikenal telah "berhijrah" alias mengubah penampilannya menjadi seorang perempuan mengenakan busana muslimah. Media sosial dan media konvensional menanggapi hal ini secara beragam. Berbagai reaksi negatif mengemuka. Tidak kurang dari tokoh agama seperti AA Gym ikut berkomentar.

Reaksi publik terhadap perubahan penampilan Rina Nose ini terbilang kejam. Ada yang mencap dia sebagai ateis, ada pula yang mengatakan bahwa perubahan itu terjadi sebagai sebuah tindakan murtad. Meskipun berbagai tudingan itu ditanggapi secara santai, misalnya dengan mengatakan bahwa "Apa pun keputusan saya, saya yakin beliau (Tuhan) yang lebih tahu" [1], Rina Nose sendiri tampak tidak bisa menutupi kegundahannya.

Dua elemen menarik bagi saya karena bersentuhan dengan tema-tema filosofis. Pertama, saya tertarik pada pernyataan Rina Nose bahwa perubahan yang dilakukannya bukan terjadi seketika; juga bukan karena dia hendak meninggalkan agama Islam. Perubahan itu adalah sebuah proses yang cukup panjang. Rina Nose sudah lama memikirkan dan mempertimbangkannya, paling tidak selama dia mengenakan jilbab, atau setidaknya selama tujuh bulan terakhir sebagaimana yang diakuinya sendiri [1]. Dengan kata lain, perubahan ini adalah sebuah proses pergulatan hidup yang sangat eksistensial. 

Kedua, perubahan itu berkaitan dengan upaya Rina Nose mencari dan menemukan jawaban-jawaban yang memuaskan terhadap berbagai pertanyaan eksistensial-filosofis yang dia hadapi. Pengakuan Rina bahwa keputusannya itu dipengaruhi oleh buku-buku filsafat yang dia baca harus dilihat sebagai upaya dia menemukan makna terdalam dari pencarian jati dirinya, dan filsafat menjadi salah satu narasi yang memuaskan dahaga jiwanya.

Proses Pergulatan

Pengakuan Rina Nose menarik untuk direnungkan. Setengah bertanya, Rina Nose menggugat, "Pernah kah di antara kalian yang suka melakukan pertanyaan dalam diri kenapa dilahirkan ke dunia? Tujuannya untuk apa, terus ketika mati apa yang akan kita rasakan. Saya suka meluangkan waktu berpikir begitu, karena dari SMA, saya suka hal yang berbau filsafat, jadi banyak pencarian. Mungkin orang ada yang umumnya hidup, hidup aja, kalau aku orang yang penuh pertanyaan. Aku meluangkan waktu untuk pencarian itu. Makanya aku ada proses untuk berhijab, melepas."[2]

Secara filosofis, apa yang dikatakan Rina Nose adalah bagian dari perenungan dan pencarian diri. Ini adalah sebuah usaha sadar mencari dan menemukan makna terdalam hidupnya. Ini adalah sebuah problem sekaligus tema klasik permenungan filsafat. Sudah sejak lama Socrates menegaskan bahwa hidup hanya bisa dikatakan baik dan berkualitas jika direfleksikan. Dan tampaknya ini telah menjadi warisan dan keyakinan yang diterima dan dipelihara para filsuf sepanjang masa. Sejak itu, para filsuf percaya, bahwa sebagai makhluk rasional yang memiliki otonomi dan kebebasan pribadi, manusia seharusnya mempertanyakan makna hidupnya. Inilah bagian terdalam dari eksistensi hidup manusia itu sendiri. 

George Curtis dalam bukunya berjudul Ancient Knowledge [3] juga menegaskan hal yang selama ini diterima dan dipelihara dalam tradisi permenungan filsafat. Sudah sejak ribuan tahun para filsuf tampaknya sepakat, bahwa pertanyaan-pertanyaan eksistensial semisal siapakah Anda, apa tujuan hidupmu, apakah hidupmu tetap bermakna jika Allah tidak ada, apakah hidupmu menjadi tidak bebas seandainya ada Allah, darimanakah asal hidupmu, apa yang terjadi pada hidupmu setelah kematian, dan seterusnya tidak bisa dijawab secara tuntas, entah oleh ilmu pengetahuan, entah oleh agama, bahkan oleh kekuatan nalar sekalipun.

Celakanya, ketika orang memilih untuk menaruh perhatian pada pertanyaan-pertanyaan itu, semakin dia merasa tersiksa secara batin jika dia bersikap abai. Suka atau tidak, pertanyaan-pertanyaan eksistensial ini harus dijawab. Dalam konteks pergulatan hidup Rina Nose, pertanyaan-pertanyaan eksistensial telah menjadi bagian dari penghayatan hidupnya selama tujuh-delapan bulan terakhir. Selain dari agama, Rina Nose berusaha mencari dan menemukan jawaban itu dari filsafat dan psikologi. "Sekitar enam, tujuh bulan yang lalu sudah mikirin soal lepas hijab, dan keinginan untuk melepas hijabnya itu sekitar lima bulanan lalu. Setelah mencari berbagai macam ilmu, bukan hanya ilmu agama saja. Aku baca ilmu filsafat, dan menemukan keyakinan dengan Tuhan yang menciptakan aku.[1]

Pengakuan Rina Nose bahwa filsafat telah membantu dirinya menjawab berbagai pertanyaan eksistensial, itu memang sudah menjadi "misi" ilmu ini selama lebih dari dua ribu lima ratus tahun silam. Meskipun demikian, harus diingat di sini bahwa jawaban yang diberikan filsafat tidak harus mengubah seseorang menjadi ateis. Yang jelas, jawaban-jawaban filosofis terhadap berbagai problem dan pertanyaan eksistensial membantu individu melihat hidupnya secara lebih utuh. 

Sebagai ilmu, filsafat memampukan orang untuk mengambil jarak terhadap hidupnya, juga terhadap ajaran agama dan praktik ritual keagamaan yang selama ini dia hidupi. Filsafat juga membantu individu melihat dan kemudian berpijak pada realitas yang lebih substansial, realitas yang melampaui berbagai perkara haram-halal, baik-buruk, kafir-beragama, dan semacamnya.

Dalam konteks pergulatan batin seorang Rina Nose, jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan filofofis ini tidak mudah untuk direalisasikan. Jika refleksi filosofis yang dilakukan Rina atas hidupnya itu benar - saya membayangkan Rina mempertanyakan statusnya sebagai seorang figur publik yang berjilbab, lalu bertanya soal apakah hidupnya menjadi lebih baik karena berjilbab, apakah kebaikan yang dia buat itu karena dia seorang muslimah berjilbab, apakah dia tidak bisa melakukan kebaikan jika tidak mengenakan jilbab, apakah jilbab itu dirinya dan semacamnya - jawaban yang dia dapatkan adalah sebuah imperatif yang membuat dia bersikap etis secara sangat otonom, tidak peduli apa persepsi dan pendapat dari luar. 

Jadi, misalnya, ketika Rina Nose mendapatkan jawaban seperti berhijab atau tidak berhijab bukanlah ukuran untuk melakukan kebaikan, dan bahwa orang berhijab pun memiliki potensi untuk bertindak tidak etis, dan bahwa orang tidak berhijab juga berpotensi melakukan kebaikan, maka dia sebenarnya sedang menemukan sebuah pijakan baru yang lebih substansial. Itulah pijakan yang melampaui segala kategorisasi eksternal yang kita kenakan pada suatu tindakan sebagai baik dan buruk, haram atau halal, kafir atau beragama, dan semacamnya. Dalam konteks inilah Rina Nose menegaskan dirinya sebagai seorang individu yang sangat bebas dan otonom (dalam artian Kantian).

Bagi saya, ini adalah sebuah pergulatan hidup yang tidak mudah bagi Rina Nose. Di satu pihak, ini adalah sebuah proses pencarian dan penemuan jati diri. Dan di akhir pencarian jati diri itu, Rina Nose menyadari bahwa dirinya itu bukanlah sosok yang berjilbab atau tidak berjilbab, tetapi seorang individu (persona), seorang pribadi yang seluruh kebaikan sikap dan tindakannya ditentukan oleh pilihan bebas dan otonomnya dalam melakukan segala tindakan. 

Kalau pun kemudian Rina Nose tetap bertahan sebagai seorang Muslimah, seluruh sikap dan tindakan baik yang dia lakukan pertama-tama bukan karena agama yang dia anut, tetapi karena pilihan yang bebas dari seorang Rina Nose yang otonom dan yang meyakini bahwa Tuhan yang dia imani telah membantunya menemukan diri dalam keutuhannya. Rina Nose mengimani Tuhan sebagai Dia yang "Maha Penyayang dan Maha Baik", Tuhan yang tidak mudah menghukum seseorang hanya karena orang itu berhijab atau tidak berhijab.[4]

Pengakuan Rina Nose menegaskan bahwa pergulatan mencari makna dan jati diri ia lalui sebagai sebuah proses yang lama dan bertahap. Saya memaknakannya sebagai "proses" untuk menangkis tuduhan bahwa Rina Nose sedang galau, bahwa dia memutuskan sesuatu secara tiba-tiba, bahwa dia sudah meninggalkan agama, dan sebagainya. 

Dan ini hanya bisa kita mengerti secara baik jika kita tempatkan dalam situasi sosial-budaya Indonesia yang lebih sering terpesona pada simbol-simbol keagamaan eksternal dan kecenderungan massa yang menghakimi dan menyalahkan orang lain jika tidak mengenakan simbol-simbol keagamaan tersebut. Dalam arti itu, pilihan yang diambil seorang Rina Nose tidak hanya sebuah pilihan yang bebas dan otonom, tetapi juga sebuah keberanian luar biasa. Dia sadar, berbagai reaksi negatif sedang menghadang di depan pintu.

Melampaui Simbol Agama

Menurut saya, tulisan Rina Nose di akun pribadi Instagram pada tanggal 9 Agustus 2017 - yang kemudian dihapusnya sendiri - sedikit banyak memberikan gambaran atas pencarian jiwanya.  Kunjungannya ke Jepang membuat dia terkonfrontasi dengan pengalaman sangat eksistensial, yakni ketika dia melihat orang Jepang yang tetap berperilaku baik meskipun tidak beragama. Tentang pengalamannya di Jepang itu, Rina Nose menulis demikian: 

Ada pelajaran baru yang saya dapat dari penduduk Jepang selama dua hari saya di sini. (1) Mayoritas penduduk sini rupanya tidak memiliki kepercayaan terhadap suatu agama, bahkan Tuhan.Tapi sebagian mereka percaya bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar dari diri mereka. Ada yang menarik, (2) tanpa kepercayaan terhadap agama tertentu, mereka begitu menjunjung tinggi nilai moral dan kemanusiaan. (3) Memiliki rasa syukur yang begitu besar atas semua kenikmatan yang mereka peroleh, dengan cara menghormati setiap makhluk hidup, makanan dan alam. (4) Memiliki kesadaran tinggi akan ketertiban, kedisiplinan, dan kebersihan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2