Mohon tunggu...
Jemil Firdaus Cairo
Jemil Firdaus Cairo Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

Cuap-cuap pengen kenalan, berbagi untuk yang lain, ingin menjadi terbaik dihati Sang Tuhan. Rindu Al-Azhar University. UIN Suka, thanks telah mengajariku banyak hal. Istri dan anakku semoga untuk mereka matahari bersinar.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Berkonflik Menandakan Belum Berislam Baik

11 Juli 2014   05:06 Diperbarui: 18 Juni 2015   06:42 225
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gadget. Sumber ilustrasi: PEXELS/ThisIsEngineering

A.Islam dan Pluralitas

Arti kata pluralitas dari sudut pandang bahasa sangat mudah dipahami. Plural berartikan banyak jumlah. Aslinya, dalam konteks peradaban barat, sedangkan kata pluralisme bermula dari adat-istiadat gereja pada abad-abad pertengahan. Diawal kemunculan istilah ini, seseorang yang memiliki banyak kedudukan gerejani (misalnya seorang pastor yang sekaligus politisi dan pedagang) disebut sebagai seorang pluralis.

Dalam konteks kekinian, pluralisme memiliki pengertian yang melebar, makna yang berbeda-beda bergantung pada sudut pandangannya. Pengertian pluralisme secara agama, politis, filsafat, sosial, berbeda satu sama lain. Namun yang menjadi kajian dalam pembahasan ini adalah pluralitas social yang ada pada masa Rasulullah Saw. sebagaimana sering ditemukan dalam beberapa hadist-hadist.

Pluralitas merupakan kemajemukan yang didasari oleh keutamaan dan keunikan khusus. Dengan ini maka pluralitas hanya bisa dipahami sebagai antitesis dan objek komparatif dari keseragaman dan kesatuan yang merangkum semua dimensinya. Pluralitas bukan berarti situasi yang cerai berai atau permusuhan yang tidak memiliki tali pengikat dalam kesatuan, namun justru pluralitas bertumpu pada hubungan antra masing-masing pihak beragam dalam kesatuan.[1] Seperti adanya pria dan wanita adalah bentuk pluralitas dari kerangka kesatuan jiwa manusia. Bangsa-bangsa dan kabilah-kabilah adalah bentuk pluralitas jenis manusia.

Pluralitas memiliki tingkatan kwalitas yang erat kaitanya dengan faktor "penyatu dan pengikat" yang harus dimainkan perannya dengan penuh kebijaksanaan dan nilai keadilan yang tinggi, disamping itu pluralitas juga memiliki sisi-sisi yang ekstrem, baik yang melebih-lebihkan dan yang mengurang-ngurangkan. Sisi keseimbangan dan keadilannyalah yang menentukan indahnya pluralitas, yang memelihara hubungan kompenen plural tersebut dan faktor pemersatunya.

Sementara itu disintegrasi dan kekacauan diakibatkan oleh sikap ekstrem memusuhi dan menyempal, tidak mengakui adanya faktor persamaan dan persatuan, atau sikap yang menafikan perbedaan masing-masing pihak yang memiliki keunikan tersendiri.

Islam hanya mengakui ketunggalan Tuhan, Allah SWT. Ia tidak memiliki sisi parsial dan bentuk plural. Sedangkan semua mahluk berdiri di atas kemajemukan, interelasi, tersusun dari pertkel lain dan unsur-unsur yang terpisah. Dengan demikian Islam menjadikan pluralitas sebagai ketetapan sunnatullah yang terpatri dalam ciptaanNya. Maka pluralitas menjadi ciri khas dan milik seluruh dimensi kehidupan mahluk tidak terkecuali manusia (QS. Ar Rum: 22).[2] Disinilah peran Rasulullah untuk mempersatukan masyarakat yang sangat majemuk tersebut, untuk saling memberikan interaksi baik dan saling menciptakan stabilitas sosial, hingga mampu menciptakan pradaban kwalitas tinggi.

Apa yang dilakukuan oleh Rasulullah menjadikan salah satu karakteristik umat Islam adalah moderasi yang menyatukan bentuk-bentuk parsial yang berbeda untuk didudukkan dalam satu bingkai kebersamaan keislaman (Islam yang memiliki kesesuaian dengan fitrah manusia). Dengan tegas hal ini deklarasikan dalam al Quran dan al Hadist yang cukup banyak.

"Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…" (QS. al Baqarah :143)

Demikian pula disebutkan dalam hadist Rasulullah Saw. dalam salah satu khutbahnya di hari tasyri':

قال رسول الله يا أيها الناس ألا إن ربكم واحد و إن أباكم واحد ألا لا فضل لعربي على أعجمي و لا أعجمي على عربي و لا لأحمر على أسود ولا أسود على أحمر إلا بالتقوى (رواه أحمد)

Bersabda Rasulullah Saw.: "Wahai manusia sekalian, ketahuilah bahwa Tuhan kalian satu, bapak kalian juga satu, ketahuilah tidak ada keutamaan dari orang arab terhadap non arab, dan juga tidak ada keutamaan orang non arab dari orang arab kecuali ketakwaannya." (HR. Imam Ahmad).[3]

Umat Islam merupakan moderasi keadilan yang hanya mampun diwujudkan dengan merangkum unsur-unsur kebenaran dan kecocokan dari dua kutub ekstrem (mengurangi dan melebih-lebihkan), untuk kemudian melakukan kategorisasi, dilanjutkan dengan menyatukannya menjadi suatu sikap ketiga yang berkeadilan dan tersendiri.[4]

Empat belas abad yang lalu Rasulullah Saw. bersabda,

الوسط : العدل, جعلناكم أمة وسطا

"Sikap pertengahan adalah keadilan, kami telah menjadikan kalian sebagai umat yang pertengahan (moderat)." (al Hadist)[5]

Dengan demikian maka moderasi Islami adalah pluralitas yang sesuai dengan kadar yang seharusnya, sebuah kekhasan tersendiri dari beberapa unsur yang disatukan oleh faktor kesatuan Islam. Faktor "Islam yang merangkum" ini tidak hanya sebatas pada tataran sesama golongan muslim saja, namun juga menjelajahi tataran peradaban, budaya, dan aturan nilai keimanan, bahkan menyentuh non muslim dalam tatanan beragam dibawah faktor kesatuan Islam, tanpa menghilangkan kebebasan menganut agama masing-masing.

Hal ini yang menjadikan pluralitas Islam terus berkembang dan mampu beradaptasi dengan perubahan tanpa melepas nilai-nilai Islam sebagai ruh, baik ideologi maupun social dan politik. Dengan perspektif tersebut maka Islam melihat pluralitas merupakan sebuah sistem kemajemukan dalam kerangka kesatuan Islam. Sebagaimana hadist berikut:

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أنه قال إن اليهود جاءوا إلى رسول الله فذكروا له أن رجلا منهم و امرأة زنيا فقال لهم رسول الله ما تجدون في التوراة في شأن الرجم فقالوا نفضحهم ويجلدون قال عبد الله بن سلام كذبتم إن فيها الرجم فأتوا بالتوراة فنشروها فوضع أحدهم يده على أية الرجم فقرأ ما قبلها وما بعدها فقال له عبد الله بن سلام ارفع يدك فرفع يده فإذا فيها أية الرجم قالوا صدق يا محمد فيها أية الرجم فأمر بهما رسولالله فرجما . . . (رواه البخاري)

Dari Abdullah ibn Umar r.a ia berkata bahwa sekelompok orang Yahudi datang kepada Rasulullah Saw. sambil menceritakan (masalah yang mereka hadapi) bahwa seseorang laki-laki dan perempuan dari kalangan mereka telah melakukan perbuatan zina. Kemudian Rasulullah menanyakan kepada mereka :"Tidakkah kalian temukan di dalam kitab Taurat mengenai hukum rajam?". Mereka menjawab: "Kami mempermalukan dan mendera mereka". Kemudian Abdullah ibn Salamah berkata: "Kalian Berdusta, sesungguhnya di dalam kitab Taurat ada hukum rajam." Kemudian mereka mengambil kitab Taurat menggelarnya untuk dibaca, tetapi salah satu diantara mereka meletakkan tangannya tepat di atas ayat rajam dan hanya di baca ayat sebelum dan sesudahnya saja. Kemudian Abdullah ibn Salam mengatakan lagi: "Angkat tanganmu". Lalu orang itu mengangkat tangannya dan saat itu tampaklah ayat rajam. Selanjutnya mereka mengatakan: "Benar ya Muhammad, dalam kitab Taurat ada ayat rajam. Kemudian Rasulullah memerintahkan untuk melakukan hukuman rajam tersebut, maka dua pezina di rajam… (HR. al Bukhari).[6]

Rasulullah Saw. di utus untuk semua manusia, maka bersamaan dengan itu ia mengakui kebhinekaan sekaligus memberikan teladan dengan menjalin hubungan dengan lintas agama dengan baik.

B.Toleransi dalam Islam

Agama Islam sangat pluralistik. Bersamaan dengan itu Islam sangat menjunjung tinggi toleransi dan kemerdekaan memilih. Islam jelas-jelas menentang pemaksaan pendapat, apalagi bila dibarengi dengan kekerasan fisik. Setiap manusia berhak memilih pendapatnya sendiri, berhak memilih agama, partai atau mazhabnya sendiri, namun pada saat yang sama manusia juga harus menghormati orang lain yang memiliki pilihan berbeda dengan dirinya.

Dalam Islam, toleransi adalah konsep yang sangat mulia. Toleransi adalah norma dan etika yang bisa ditemukan pada fitrah manusia. Sebaliknya, perpecahan konflik, apalagi pertumpahan darah diantara umat beragama adalah sesuatu yang berlawanan dengan hati nurani. Persaudaraan dan toleransi adalah pesan abadi Qurani yang berulang-ulang disampaikan oleh Rasulullah Saw. Perhatikan ayat-ayat al-Quran yang menekankan pluralisme (dalam pengertian toleransi) berikut ini.

"Allah tiada melarang kamu untuk berlaku adil serta berlaku baik terhadap mereka yang tidak memerangi kamu karena agama dan (terhadap mereka yang) tidak mengusir kamu dari rumahmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang yang adil". (QS. al Mumtahanah: 8)

Disini jelas bisa dilihat betapa Islam justru menekan keharusan berbuat adil diantara sesama manusia. Perbedaan agama bukanlah alasan untuk berbuat aniaya. Jelas sekali bahwa keharusan berbuat adil dan berlaku baik terhadap orang lain yang berbeda keyakinan adalah pilar terpenting dari konsep pluralisme dalam pengertian toleransi.

C.Sunnah dan Perilaku Berperadaban

Bersamaan dengan Al Quran dan Hadist-hadist Rasulullah Saw. begitu banyak memberikan inspirasi setiap muslin untuk menciptakan kenyamanan social, dan bahkan beberapa di antaranya memuat nilai-nilai fikih peradaban, dengan menjelaskan perilaku-perilaku peradaban yang begitu maju, penuh dengan nilai-nilai mulai dan keselarasan dengan fitrah manusia. Adapun muatan perilaku peradapan itu adalah:

Pertama: menghiasi diri dengan akhlak yang mulia. Artinya seorang muslim harus memiliki budi pekerti yang baik. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah Saw. empat belas abad yang lalu dalam sebuah ucapannya “Sesungguhnya Allah Swt. mencintai akhlak yang luhur, dan membenci akhlak yang hina.[7] Hal ini juga sejalan dengan apa yang telah termuat dalam Al Quran (Q.S. al-Ahzab: 21).

Termasuk yang menunjukkan kesempurnaan akhlak Rasulullah Saw. adalah hadist “Sesempurna-sempurnanya keimanan seseorang adalah yang paling baik akhlaknya.[8] Dan sangat banyak lagi hadist yang menjelaskan akan kamuliaan akhlak Rasulullah Saw. dan itu juga tercermin dalam buku-buku shirah yang memuat akan perjalanan hidup Muhammad Saw, siapapun yang membacanya akan sepakat bahwa cerita kehidupnannya begitu komprehensip, dan keteladanannya serta petunjuk kebajikannya adalah yang paling sempurna. Kehebatan budi pekerti Rasulullah sebanding dengan kesempurnaan risalahnya.[9]

Kedua, kasih sayang, bijak dan lemah-lembut, bukan hanya kepada manusia, namun juga terhadap hewan dan tumbuhan. Sejalan dengan apa yang ada dalam al-Quran surat al-Furqan: 63, surat al-A’raf: 199 dan juga dengan surat Ali Imran: 134. Sesungguhnya Allah memberi kepada kelemah-lembutan berupa kemudahan untuk keperluan-keperluan dunia dan pahala di akhirat. Sebagaimana hadist dari Aisyah Ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda “Sesungguhnya kelemah-lembutan tidak membarengi sesuatu kecuali ia menghiasinya, dan tidaklah ia meninggalkan sesuatu itu kecuali ia membuatnya buruk.[10]

Islam yang merupakan manifestasi dari kelemah lembutan, menjadikan Islam diminati oleh seperlima penduduk bumi. Salah satu peran fungsi Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, penebar kasih sayang, menciptakan perdamaian. Bahkan kata muslim itu sendiri merupakan derivasi dari kata aslama yang artinya menyelamatkan. Salah satu muatan menyelamatkan adalah harus ada unsur kasih sayang. Dan itulah Islam, dengan hadist-hadistnya mencoba memberikan pemahaman dunia akan pentingnya menciptakan kenyamanan hidup bersama dengan kasih sayang.

Di dalam hadis yang lain dijelaskan, bahwa apabila seorang muslim memasak daging, maka perbanyaklah kuawahnya, hingga bisa dibagi-bagikan pada tetangga-tetangganya. Ini merupakan satu dari sekian cermin kasih sayang muslim. Yang dikatakan tetangga adalah empat puluh keluarga sebelah timur, barat, selatan dan utara rumah kita. Maka andai saja setiap muslim merealisasikan intruksi Rasulullah Saw. ini, maka sudah cukup menciptakan lingkaran kekeluargaan hubungan baik masyarakat dan kemudian membesar hingga kenyamanan stabilitas berbangsa dan bernegara.

Dari Jabir bin Abdullah Ra., Nabi Saw. bersabda: “Barang siap yang tidak diberi rasa kasih sayang, maka ia tidak diberi seluruh kebaikan.[11] Rumusan kasih sayang merupakan pijakan pokok yang ada disetiap agama. Tanpa adanya kasih sayang maka tidak akan pernah ada ibu yang membesarkan anaknya, tidak akan ada guru yang mengajarkan muridnya, dan seterusnya. Dengan adanya kasih sayang itulah dunia masih bisa bertahan eksis dengan penuh senyum. Bahkan dikarenakan pentingnya nilai kasih sayang (Rahmah) sampai dijadikan salah satu sifat Tuhan, yang kasih sayangnya meliputi semua makhluk yang ada.

Ketiga, perilaku terdidik, sopan santun. Di dalam shohih Bukhori saja terdapat bab khusus tentang Adab, yang memuat hadist 256 hadist. Sebagaimana yang disebutkan oleh ibnu hajar dalam Syarah Bukharinya Fathul al-Bary, padahal dalam shohih Bukhori di bab-bab lain banyak juga terdapat hadist yang banyak memuat tentang adab, seperti kitab nikah, minta izin, kedokteran, orang-orang sakit, perbudakan, makanan, minuman dan lain sebagainya.

Sedangkan dalam shohih Muslim kitab tentang sopan santun (al-Adab) merangkun sekitar 45 hadist, tetapi kemudian ditambah dengan 155 hadist yang terdapat dalam kitab salam, kemudian 166 hadist dalam kitab kebajikan, silaturrahmi dan sopan santun, dan 21 hadist lagi yang terdapat dalam kitab al-alfâdz min al-adab, disamping juga ada dikitab lain yang memuat adab. Adapun Abu Daud dana Sunnahnya kitab Sopan santun merangkum 180 bab dan memuat lebih dari 500 hadist.

Terkait dengan hadist-hadist memuat perilaki terdidik atau sopan santun, tidak bisa dipungkiri menjadi perhatian penuh dalam agama Islam. Bukhari sendiri punya perhatian yang khusus dalam masalah adab, sampai ada bab khusus yang di namai al-adab al-mufrad yang terpisah dari kitab adab.

Keempat, komitmen terhadap tatakrama umum. Di antara karakteristik perilaku beradap adalah tidak melakukan pelanggaran dalam segara hal, dan memiliki kesesuaian dengan aturan Tuhan. oleh karena itulah corak aturan dalam agama Islam terbagi dalam tiga, (1) menghapus aturan yang ada, (2) melanjutkan aturan yang sudah berlaku, dan (3) mengganti aturan yang telah ada dengan aturan yang lain. Sehingga keberadaan Islam merupakan agama yang bisa menyesuaikan dengan kondisi dan menciptakan kondisi yang penuh dengan keharmonisan, keamanan dan komitmen terhadap undang-undang positive.

Misalkan dalam sebuah hadist, Rasulullah Saw. mengajarkan dalam sabdanya “Jika salah seorang dari kalian minta izin lalu tidak diizinkannya-setelah tiga kali (mengucapkans salam bertamu) meminta- hendaknya ia kembali (pergi).[12] Aturan yang lain adalah larangan Rasulullah Saw. seseorang makan di luar yang bisa ia jangkau dengan tangannya, dan pergunakanlah tangan kanan.[13] Serta masih banyak lagi hadist-hadist yang mengajarkan kepada manusia nilai aturan yang universal, aturan-aturan yang memiliki muatan kesesuaian dengan nilai fitrah manusia.

Setiap individu harus menghormati hak-hak orang lain dan menjaga tradisi yang sudah baku dalam aturan masyarakat, namun bukan berarti seorang muslim tidak memiliki prinsip hidup. Aturan yang menimbul kenyamanan bersama, itulah yang menjadi titik tekan dalam mematuhi peraturan. Dan Islam diatas aturan segala aturan yang ada.

Kelima, yang terakhir, sunnah dan perilaku berperadaban adalah sikap toleransi terhadap orang lain yang berbeda pendapat. Sebagaimana yang telah digariskan dalam al Qur’an dan ditetapkan dalam hadist untuk menumbuhkan sikap toleransi, terutama terhadap yang berbeda agama dan ideologi. Al Qur’an telah memberi dasar yang kuat sebagaimana dalam surat Al-Mumtahanah: 8-9.

Ada dua landasan Al-Quran berbicaya tentang perbedaan. Sesungguhnya perbedaan merupakan (1) keniscayaan, realitas kehendak Allah Swt (Q.S. Hud: 118-119), sedangkan (2) putusan siapa yang salah dan siap yang benar ketika menyikapi perbedaan merupakan hak priogatif Allah yang menentuka. Dengan ini maka setiap muslim memiliki kepekaan dan nilai toleransi yang tinggi sebagaimana yang diajarkan dalam Islam.

Kemudian datang Sunnah dan Hadist-hadist Rasulullah Saw. memperkuat ketetapan al-Qur’an serta sekaligus memberikan bentuk detail amplikasi dari ajaran-ajaran al-Qur’an. Sebagaimana dalam riwayat Bukhari ketika jenazah lewat di hadapan Rasulullah Saw. melihat itu Nabi berdiri untuk memberikan penghormatan mayat tersebut. Kemudian sahabat berkata “Wahai Rasulullah!, sesungguhnya ia jenazah Yahudi”. Nabi bersabda: “Bukankah ia juga jiwa (manusia)?” Ini menunjukkan jiwa kemanusiaan patut untuk mendapatkan kehormatan, terlepas ia agama apapun.

Islam sangat menghormati nilai-nilai kemanusiaan dan menghargai kebebasan memilih agama yang diyakini, bahkan lebih jauh dari itu, keberadaan Islam yang harus direalisasikan dan diimplikasikan dalam bentuk kegiatan sehari-hari muslim haruslah mampu dirasakan kenyamanannya oleh orang lain. Dengan kata lain, agama Islam bukan hanya dirasakan untuk orang Islam sendiri, namun harus juga dirasakan oleh orang yang bukan beragama Islam. Dengan nilai toleransi itulah yang menjembatani merasakan keislaman menembuh batas lingkaran inkulusititasnya.

Pernah suatu ketika Rasulullah Saw. mendapatkan sapaan dari sekelompok Yahudi, mereka berkata “Kebinasaan (Kematian) bagimu.” Kemudian Aisyah yang berada disampingnya menjawab ucapan mereka: “Kebinasaan dan laknat bagi kamu.” Mendengar itu Nabi bersabda: “Tenanglah wahai Aisyah, sebab sesungguhnya Allah Swt. menyukai kelembutan (kasih sayang) dalam segala perkara.” Lalu Aisyah berkata: “Ya Rasulullah! Tidakkah engkau mendengar apa yang mereka ucapkan?” Rasulullah Saw. menjawab: “Aku sudah berkata: Dan bagi kalian.[14] Dengan ini Rasulullah Saw. hendak mempermudah permasalahan dan menjawab “Dan bagi kalian” yang mempunyai arti bahwa kematian untuk semua orang akan merasakannya.[15]

Hadist di atas harusnya menyadarkan kaum Muslimin akan pentingnya memahami cara dakwah dan karakteristik agama Islam yang penuh dengan perdamaian. Sampai-sampai dalam sebuah hadist, seorang pelacur mendapatkan jaminan sorga ketiak dia berusaha memberi minum pada seekor anjing yang hampir mati kehausan. Dengan ini tentunya muslim harus berfikir ulang seribu kali kalau hendak menyakiti manusia dengan apapun bentuk dan keyakinannya. Berbuat baik pada seekor anjing saja sudah mendapat hadiah sorga, apalagi perbuatan baik itu ditujukan pada manusia?

Riwayat dari Mujahid Ra. bahwa Abdullah bin ‘Amr disembelihkan seekor kambing oleh keluarganya. Ketika datang ke rumahnya dia berkata: “Tidakkah kamu memberi tetangga Yahudi kita? Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: ‘Jibril senantiasa mewasiatkanku dengan tetangga, hingga aku mengira bahwa ia (tetangga) akan mendapatkan bagian waris.’[16] Maka semua sahabat berbuat baik kepada siap saja menjalankan apa yang al Qur’an perintahkan dalam surat an-Nisa’: 86.

Demikianlah sahabat-sahabat Nabi mendapatkan pelajaran dari toleransi dan berbuat baik pada sesama, dan bahkan terhadap lawannya sekalipun. Berbuat baik pada sahabat merupakan hal yang biasa, namun ketika berbuat baik pada lawan merupakan kebaikan yang luar biasa, dan itulah yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Salah satu indicator menjadi manusia terbaik adalah manusia yang mampu menebar manfaat terbaik untuk manusia yang lain.

D.Matan Hadis-hadis Terkait Etika Interaksi Sosial Multikultural

Salah satu keunggulan dakwah Rasulullah Saw. yang menuai keberhasilan adalah ia merupakan prototype yang sangat ideal dari apa yang selama ini dia dakwahkan sendiri. Sehingga memberi kemudahan bagi pemeluk dan pengikutnya untuk bisa menjadikannya sebagai panutan. Baik dalam statusnya sebagai bisnisman, politikus, panglima perang atau dalam segala aspek terkecil dalam lini kehidupan bermasyarakat sekalipun. Adapun berikut contoh matan-matan hadist terkait dengan etika interaksi social yang dilakukan oleh Rasulullah dalam bingkai kemajemukan adalah sebagai berikut:

1.Berbuat baik kepada siapapun, lintas batas

من لا يرحم الناس لا يرحمه الله (رواه البخاري و مسلم)

yang artinya kurang lebih, "Barang siapa yang tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak menyayanginya" (HR. Bukhari dan Muslim).[17]

2.Menciptakan perdamaian dan rasa aman

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍرَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:مَنْ آذَى ذِمِّيًّا فَأَنَا خَصْمُهُ وَمَنْ كُنْتُ خَصْمَهُ خَصَمْتُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ (أَخْرَجَهُ الخَطِيبُ فِي تَارِيخِ بَغْدَادٍ)

Dinarasikan Ibnu Mas’ud RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menyakiti seorang kafir dzimmi, maka aku kelak yang akan menjadi musuhnya. Dan siapa yang menjadikanku sebagai musuhnya, maka aku akan menuntutnya pada hari kiamat.”[18]

3.Bersikap adil dengan memberikan hak secara proporsional, berlandaskan sabda Rasulullah Saw. dalam hadist qudsinya:

يقول الله تعالى : يا عبادي! إني حرمت الظلم على نفسي و جعلته بينكم محرما فلا تظالموا (رواه مسلم)

Allah SWT. berfirman "Wahai hamba-hambaku, sesungguhnya aku telah mengharamkan kedhaliman terhadap diriku sendiri, dan aku telah menjadikannya haram pula di antara kalian, maka janganlah saling mendhalimi." (HR. Muslim)[19]

4.Membalas salam

إذا سلم عليكم أحد من أهل الكتاب فقولوا : و عليكم (رواه الترمذي و إبن مجه).

Yang artinya, "Apabila salah seorang ahli kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka jawablah denan 'Wa'alaikum'." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)[20]

5.Saling mencintai antar sesama

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ (أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌوَأَبُو يَعْلَى)

Dinarasikan Anas bin Malik RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Demi (Allah) yang jawaku di tangan-Nya, tidaklah beriman seorang hamba sehingga dia mencintai tetangganya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Muslim dan Abu Ya’la: 2967)

Bedasarkan hadist-hadist di atas maka menciptakan kesolehan individu saja tidaklah cukup, namun kesolehan dan bukti keimanan itu harus mampu terealisasikan dengan berbuat baik pada siapa saja, hingga terbentuk kesolehan social yang bukan hanya sebatas pada sesama muslim, namun juga mencakup tetangga yang non muslim juga.[21] Karena di sekitar Madinah kala itu terdapat orang Yahudi, Nasrani, dan agama lain­­nya. Mereka sama-sama mempunyai hak untuk dicintai, mendapatkan kedamaian, perlindungan dan kenyamanan, serta hak-hak kemanusiaan, hingga pada akhirnya mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil 'alamin.

Wacana pluralitas semakim diminati oleh banyak kalangan seiring dengan makin banyaknya konflik yang timbul di muka bumi ini. Sebagian besar konflik-konflik tersebut ditengarai sebagai akibat dari perbedaan, baik sector agama ataupun pemikiran. Maka berbagai penawaran solusi muncul untuk menyelesaikan isu-isu konflik dan pertengkaran tersebut, termasuk Islam turut hadir memberikan tawaran solusi dengan style dan ciri khas yang dimilikinya.

Kalau di pahami dengan seksama, pluralitas bukan berarti situasi yang cerai berai yang tidak memiliki tali pengikat dalam kesatuan, namun justru pluralitas bertumpu pada hubungan antra masing-masing pihak beragam dalam kesatuan. Atas dasar kemanusiaan dan kesamaan berbangsa bernegara adalah dua unsur pengikat kuat dalam social masyarakat yang heterogen dan lintas agama sekalipun. Rasulullah Saw. empat belas abad yang lalu sudah membuktikannya dalam interaksi yang begitu stabil menciptakan kenyamanan bersama, walaupun dengan komponen masyarakat yang plural.



[1] Muhammad Imarah, Islam dan Pluralitas, Perbedaan dan Kemajemukan dalam Bingkai Persatuan (terj.), Jakarta: GIP, 1999, hlm. 9.

[2] Muhammad Syarif Ahmad, Tajdîd al Mauqif al Islâmî, Damaskus: Dâr Al Fikr, 2004, hlm. 100.

[3] Musnad Ahmad, Bab Hadist Rajul min Ashhȃb an Nabî, No. 24204

[4] Muhammad Syarif Ahmad, Tajdîd… hlm. 106.

[5] Lihat Shahih Bukhari No. 4478, Sunan Tirmidzi No. 3222, Musnad Ahmad No. 11366.

[6] Shahîh Bukhȃri, Bab al Muharibin, No. 6841

[7] Riwayat Ahmad, Muslim dan Nasa’i dari Zaid bin Arqam. Bisa dilihat di Shahih al-Jȃmi’ al-Shagîr, 1286. Tabrani dalam al-Awsath, 1744.

[8] HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hibban dari Abu Hurairah, Shohih, bisa dilihat dalam al-Faidl, 2/27, al-Ihsȃn, 479, dan al-Mustadrak, 1/3.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun