Mas Jalu
Mas Jalu fotografer

Fotografer pecinta budaya, hobi piknik dan ngendid orang

Selanjutnya

Tutup

Travel-story Artikel Utama

Sensasi Menikmati Jogja dari Udara

17 April 2018   01:31 Diperbarui: 17 April 2018   19:14 1883 7 3
Sensasi Menikmati Jogja dari Udara
Pesawat Trike (dok. pribadi)

Semburat jingga menghiasi langit sisi timur Jogja pagi itu, saya melaju dengan sepeda motor kecepatan sedang karena dingin yang masih menyelimuti jalanan menuju Lanud Adisucipto.

Matahari baru muncul ketika saya memasuki palang pos keamanan Lanud, sembari menyerahkan kartu identitas di pos pengamanan dengan sedikit interogasi karena tas yang saya bawa cukup besar. Senyum ramah petugas keamanan melepas saya untuk menuju hanggar FASI (Federasi Aero Sport Indonesia).

Beberapa anggota FASI sudah sibuk membuka gerbang utama hanggar, dan tentu saja mendorong keluar beberapa pesawat kecil yang akan mereka gunakan untuk terbang hari itu untuk latihan rutin dan joy flight tentunya.

Sudah menjadi kebiasaan di sana bahwa tamu yang datang dipersilakan membuat kopi sendiri, tentu sambutan yang asyik menurutku. Secangkir kopi tinggal separo ketika kami hanyut dalam obrolan tentang segala hal keseruan terbang dengan pesawat kecil.

Tak lama, datang seorang bapak dengan jaket berwarna jingga yang menyalami kami satu persatu karena sudah lebih dulu hadir di situ. Perkenalan singkat dan selanjutnya kami memanggilnya "J-Fox28". Demikian mereka tiap pilot mempunyai kode khusus dan kita wajib memanggilnya dengan nama kode tersebut.

Dan beliau J-Fox28 adalah pilot yang akan mengajakku melintasi sebagian daerah di Jogja dengan pesawat trike-nya. Trike adalah jenis pesawat kecil dengan dua penumpang depan belakang. Pesawat ini bukan fixed wing, yang berarti sayapnya tidak menempel di badan pesawat, namun bisa dikendalikan dengan tangan secara manual.

Jarum jam menunjukkan angka 8, bersamaan ajakan J-Fox28 untuk segera terbang. "Ayo Mas Jalu, kita mabur mumpung isih esuk" ucapnya dengan bahasa Jawa berlogat Jakarta karena memang beliau tinggal di Jakarta, namun selalu menyempatkan ke Jogja di akhir pesan untuk sekadar terbang melintas di atas kota Jogja.

Segera saya menaiki pesawat trike berwarna merah itu, sembari Mr. J-Fox28 mengarahkan cara duduk, mengenakan sabuk pengaman, helm dan microphone yang terhubung dengan beliau.

Tentu saja beberapa tips beliau sampaikan agar terbang nyaman dan tidak mabok udara. Terang saja hal ini penting, karena pesawat ini tidak memiliki penutup body, sehingga badan kita bersinggungan secara langsung oleh angin. Terbayang kan betapa serunya.

Setelah mendapat konfirmasi terbang, kami pun segera menuju lintasan yaitu di lapangan rerumputan di samping landasan pacu. Memang di situlah trike ini akan lepas landas, tidak menggunakan lajur landasan pacu pesawat pada umumnya. Getaran dan goncangan saat hendak lepas landas sangat terasa, sungguh berbeda dengan kondisi jika kita naik pesawat komersil yang lepas landas secara halus.

Dalam sekejap kami telah mengudara dan saya sangat menikmati penerbangan ini. Entah kenapa, saya tidak pernah punya sedikit pun rasa takut ataupun khawatir seperti yang dirasakan beberapa teman yang pernah mengikuti joy flight dengan trike. Menurut saya ini sangat asyik dan menyenangkan.

Kota Bantul dari udara (dok. pribadi)
Kota Bantul dari udara (dok. pribadi)
Kecepatan terbang kami rata-rata 120Km/jam, cukup membuat kesulitan saya mengabadikan pemandangan dengan mode video dari kamera, tangan sulit untuk tetap stabil dengan kecepatan itu di udara. Tak henti-hentinya Mr. Fox-28 menjelaskan beberapa lokasi di bawah adalah beberapa tempat yang indah jika dilihat dari atas. Di antaranya Candi Ijo, Tebing Breksi, Stadion Sultan Agung dan beberapa pesawahan di daerah Wonosari yang menghijau bagai bentangan karpet.
(dok. pribadi)
(dok. pribadi)
(dok. pribadi)
(dok. pribadi)
Cuaca pagi itu sangat cerah hingga jauh memandang terlihat Gunung Merapi, perbukitan Menoreh hingga garis laut yang sangat panjang. Setengah jam perjalanan kami sudah sampai di atas Pantai Indrayanti, Wonosari. Pesawat mulai berbelok ke kanan menyusuri deretan pantai berpasir putih dan tebing-tebing curam yang sangat elok dipandang.

Beberapa pantai masih kosong tanpa pengunjung, terlihat dari sekitaran pantai memang cukup sulit untuk diakses lewat darat. Terlihat beberapa nelayan dengan kapal kecilnya telah mendekat pantai, mungkin semalam mereka sudah berburu ikan. Segera Mr. J-Fox28 merendahkan pesawat untuk bisa melihat pemandangan dari jarak yang lebih dekat.

Pemandangan yang sangat luar biasa yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Beberapa lokasi pernah saya foto dari udara dengan drone, namun dari pesawat trike ini lebih banyak lagi tempat yang saya lihat dan belum sekalipun berkunjung ke sana.

pantai Wonosari dari udara (dok. pribadi)
pantai Wonosari dari udara (dok. pribadi)
pantai Wonosari dari udara (dok. pribadi)
pantai Wonosari dari udara (dok. pribadi)
pantai Wonosari dari udara (dok. pribadi)
pantai Wonosari dari udara (dok. pribadi)
pantai Wonosari dari udara
pantai Wonosari dari udara
Tak berapa lama kami sudah mendekati Pantai Parangtritis, Mr. J-Fox28 pun lebih merendahkan terbangnya. Sambutan beberapa pengunjung pantai melambaikan tangan sangat jelas terlihat karena kami hanya terbang sekitar 30 m di atas mereka. Angin yang mulai bertiup kencang membuat pesawat lebih kuat berguncang.

Dari atas Pantai Depok pesawat berbelok ke kanan menuju Kota Jogja, melintasi Kabupaten Bantul yang masih terbentang sawah nan luas. Kurang dari 15 menit kami sudah berada di atas kota Jogja, di sini lebih terasa goncangan jika terbang kurang dari standar ketinggian. Uap panas dari perkotaan adalah faktor utama yang membuat pesawat kecil ini berguncang.

Kota Bantul dari udara (dok. pribadi)
Kota Bantul dari udara (dok. pribadi)
Setelah mendapat konfirmasi mendarat, pesawat pun segera menukik menuju Lanud Adisucipto. Terlihat sebuah pesawat komersil hendak terbang, namun menunggu kami mendarat lebih dulu. "Kita diprioritaskan mas, biar mereka nungguin kita aja," ucap Mr. J-Fox28 sambil tertawa.

Hingga pesawat trike ini mendarat dan sampai kembali ke hanggar rasanya belum puas terbang, namun waktu jatah terbang sudah cukup, harus bergantian dengan pesawat lain yang mau terbang juga. Sungguh pengalaman yang luar biasa bagi saya. Suatu saat kalian harus mencoba sendiri sensasinya.