Cerpen

Perempuan yang Menolak untuk Berdandan

15 Mei 2018   23:49 Diperbarui: 16 Mei 2018   00:00 346 0 0
Perempuan yang Menolak untuk Berdandan
woman-5adb5483bde5754a25719582.jpg

Entah kenapa perempuan berambut panjang itu belakangan ini tidak tertarik lagi dengan kosmetik dan mengganti semuanya dengan tumpukan buku dan komputer tua yang sering diajaknya berbicara. Selain itu, lamaran seorang perwira muda dan berprestasipun tampaknya tidak menarik baginya. Setiap kali kedatangan perwira itu kerumahnya, setiap kali itu juga muncul nada-nada ketus yang mengisyaratkan pengusiran terhadap perwira malang tersebut.  

"Sudahlah Ndo, mbo kamu coba pelan-pelan nrimo mas Andi, dijalani dulu, siapa tau cocok" Kata-kata ibunya sampai sudah terekam dalam benaknya, saking seringnya diucapkan setiap kali Sri mengeluh dengan kedatangan Perwira gagah itu.

"Saya tidak cocok dengan Mas Andi bu. Mas Andi tidak suka buku, apalagi dengan merpati dan kaktus. Dia  kaku dan tidak suka bercanda, bagaimana bisa aku hidup dengan orang seperti itu?" Ada saja alasan Sri untuk menolak perwira yang hampir setiap hari menyempatkan waktu sibuknya untuk sekadar bertandang ke rumah Sri.

Setelah beberapa hari tidak menjenguknya, kabar buruk itupun datang juga. Perwira Andi dikabarkan meninggal dunia dalam penugasan tugas. Sebuah buku hariankecilya miliknya diamanatkan untuk diserahkan kepada Srimana kala ajal menjemputnya kelak. 

Setibanya dari pemakaman perwira yang cintanya ditolak itu, Sri kemudian hanya melemparkan buku itu diatas komputer tua yang bertengger manis di sudut kamarnya. Namun, dorongan dalam diri untuk ternyata lebih besar untuk membaca dan membuka lembar demi lembar buku catatan harian coklat tua itu. 

"De Sri, setiap kali selesai bertugas, kamu adalah orang pertama yang ingin mas temui. Entah mengapa wajah kamu selalu membayangi setiap hari-hari mas. Sempat terpikir untuk melupakanmu dan beralih saja kepada Laras, gadis yang selama ini mengejar mas. Bahkan sanking cintanya kepada mas, dia rela memangkas rambut panjangnya dan bertekat untuk mempelajari dunia militer lebih mendalam. Entah kenapa, mas tetap tidak bisa menerima cintanya. Dua kali sudah dia mengungkapkan isi hatinya, Dua kali pula mas menolaknya, semua karena kamu De Sri."


Sri kemudian berhenti sejenak dan memikirkan tentang gadis yang diceritakan sang perwira dalam buku catatan hariannya itu. 

"Laras? bukankah dia itu adik kelasku semasa SMA dulu? Gadis yang selama pemakan berlangsung hanya bisa terpojok disudut tanpa berhenti menangis itu? Ohh tiddak, kenapa tiba-tiba saya merasa seberdosa ini?"


Sri melanjutkan membaca buku harian yang masih erat digengamannya itu, tanpa terasa air mata bercucuran dipipinya. Perasaaan bersalah menyelimuti seluruh pikirannya. Tanpa pikir panjang, Sri langsung mencari nomor kontak Laras dari sosial medianya. 

Selang beberapa hari setelah pencarian nomor kontak Laras, merekapun sepakat untuk bertemu. Sri tampak anggun dengan geraian rambut hitam panjangnya sedangkan Laras terlihat lebih tegap bak seorang lelaki dengan potongan rambut yang hanya sepanjang telinga. Pertemuan yang direncana itu berlangsung di Bogor; tempat Laras berdomisili. Sri rela melakukan perjalanan panjang dari Jogja ke Bogor hanya untuk menebus rasa bersalahnya ke Laras dan Perwira kurang beruntung itu.

"Kita langsung ke rumah saja, ada yang mau saya tunjukkan."

      Pinta Laras kepada Sri.


Tanpa banyak kata, Sri hanya menurut dan masuk lagi ke mobil VW nya membuntuti Laras yang juga membawa tumpangan sendiri.

Setibanya di kediaman Laras, Sri memberikan buku harian perwira itu kepada Laras, Laras juga tidak lupa memberikan balasan-balasan surat Sang perwira yang diterimanya.

Meraka hanya terdiam dan larut dalam keheningan yang berkepanjangan. "Maafkan saya Mbk" Sri memecah kebisuan yang ada. Dengan tenang Laras hanya membalasnya dengan senyum, dan kebisuan itu merajai lagi.

"Sekali lagi maafkan saya, Mbk. Saya tidak menyangka Kangmas sebegitu dalamnya ke saya. Jika saja saya tau waktunya hanya sesingkat ini, mungkin saya akan memberikan kesempatan kepadanya."


"Seharusnya saya yang harus tau diri. Dia sudah beberapa kali menolak saya. Namun saya terlalu dibukan oleh cinta. Saya sudah berusaha untuk merebut hatinya dari kamu, tapi dia tetap memilih kamu, Sri. Saya bisa apa?"


Sambil meletakkan tangannya di atas kepala Sri dan mengusap rambut indahnya, Laras berujar lagi, "Gk apa-apa, yang penting saya sudah berusaha, masalah Dia memilih kamu ya... itu hak dia." Kelembutan tangan Laras, tak bisa terellakkan oleh Sri. Mereka yang sama-sama belum pernah terjamah oleh tangan kaum Adam itu mulai merasakan getaran-getaran magis yang kuat dalam tatapan mata yang kian lama kian mendekatkan bibir mereka. Bibir mereka pun mulai beradu dalam buih-buih hasrat yang kian lama kian membara.

Tanpa disangka, tangan Laras mulai menjalajahi tubuh indah Sri yang membuatnya semakin tidak berdaya. Laras menghentikan apa yang diperbuatnya dan memberikan sebuah senyum ke arah Sri sambil berucap, "Kita tidak seharusnya sejauh ini, tapi maaf, saya sukar mengontrol apa yang sudah saya lakukan ke kamu." Sri yang baru pernah mendapatkan jamahan ditubuhnya meminta lirih ke arah Laras, "Jangan tinggalkan saya Mbk."

Dengan satu kecupan di dahi, Laras meminta Sri untuk bermalam dirumahnya.

Malam terasa panjang. Laras beranjak ke kamarnya sementara Sri menempati kamar tamu. Baru beberapa langkah laras meninggalkan Sri, terdengar permintaan Sri yang kemudian menghetikan langkah Laras. "Mbk, tidur disini sj ya. Saya takut sendiri."

Laras kemudian berbalik dan merebahkan tubuhnya persis disamping Sri. Malam semakin larut, dinginpun semakin menguasai. Tubuh kedua wanita itu perlahan bersembunyi dibawah selimut yang sama. Cuaca yang dingin memaksa mereka untuk saling berdekatan memberikan kehangatan satu sama lainnya.

Sri yang semula malu-malu kini mulai ketagihan dengan setiap sentuhuan Laras, perlahan busana mereka mulai tanggal. Laraspun semakin menjadi demi menaklukkan dingin yang mulai merajai.

Keesokan harinya...

"Sore kamu balik ke Solo ya, aku gak mau kamu di cari orang tuamu." 

"Tapi saya masih mau disini" Sanggah Sri.

"Pulang saja dulu, nanti kita ketemu lagi" Sambil menatap wajah ayunya, Laras mengecup keningnya dengan lemparan senyum khan dipipinya. 

"Saya berat untuk pulang jika Mbk memperlakukan saya seperti ini." Dengan manjanya Sri memeluk tubuh kekar Laras, sambl merebahkan kepalanya di dadanya yang lapang.

***

to be continue..