Mohon tunggu...
Jacob Dethan
Jacob Dethan Mohon Tunggu... Dosen

Pencinta Teknologi dan Dunia Pendidikan Tinggi

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Pemanasan Global yang Semakin Ekstrim

3 Januari 2020   15:06 Diperbarui: 3 Januari 2020   15:24 61 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pemanasan Global yang Semakin Ekstrim
nasa.gov

Dampak dari pemanasan global begitu terasa di hampir seluruh negara. Menurut data terbaru yang diterbitkan oleh NASA, tinggi permukaan laut terus meningkat sebesar 3.3 milimeter setiap tahunnya. Hal ini diperparah dengan emisi karbon dioksida yang telah mencapai 412 bagian per juta  dan emisi karbon dioksida terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, Australia mengalami bencana kekeringan dan kebakaran hutan yang cukup memprihatinkan. Begitu banyak daerah yang mengalami kekeringan mulai dari Queensland sampai ke New South Wales. Begitu banyak petani yang menderita akibat berkurangnya curah hujan dan meningkatnya panas ekstrim.

Dalam berita yang dilansir ABC news pada Minggu (24-11-2019), kebakaran hutan bahkan mengancam punahnya Koala. Beberapa hari yang lalu, langit kota Mallacoota Australia sempat menjadi trending topic melalui munculnya langit berwarna merah yang mencekam. Perubahan tsb mirip dengan yang juga pernah terjadi di Indonesia ketika kebakaran hutan yang terakhir kali terjadi di tahun 2019.  

Kebakaran hutan memang belum dapat dibuktikan secara langsung disebabkan oleh pemanasan global. Tapi, dengan meningkatnya suhu bumi yang diakibatkan oleh pemanasan global, tentunya kelembapan udara menjadi berkurang dan temperatur meningkat. Hal ini akan memperparah kebakaran hutan yang terjadi.

Pemanasan global kembali menjadi topik penting yang dibahas dalam laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di bulan September tahun ini. 2019 dilaporkan sebagai tahun terpanas dalam lima tahun terakhir. Hal ini menunjukkan urgensi dari mitigasi pemanasan global. Untuk itu, setiap negara juga didorong untuk melaksanakan langkah-langkah nyata untuk mengurangi penyebab terjadinya pemanasan global.

Salah satu penyebab utama terjadinya pemanasan global adalah efek rumah kaca yang disebabkan oleh emisi karbon dioksida. Penggunaan bahan bakar fosil secara berlebihan menjadi penyebab meningkatnya emisi karbon dioksida. Peningkatan ini dimulai sejak revolusi industri 1.0 dimulai dan terus mengalami peningkatan seiring dengan semakin pesatnya perkembangan industri yang mayoritas menggunakan bahan bakar fosil.

Dampak pemanasan global di Indonesia tidak dapat dipandang sebelah mata. Dengan status ibu kota negara, beberapa bagian Jakarta telah diprediksikan akan tenggelam di tahun 2050 menurut hasil penelitian yang diterbitkan di jurnal ilmiah ternama Nature Communication pada Oktober 2019. Permukaan laut diprediksikan akan naik mencapai 50 sentimeter.  

Lantas, seriuskah kita dalam mengurangi penyebab terjadinya pemanasan global?

Peralihan penggunaan energi fosil ke energi terbarukan di Indonesia masih berjalan dengan lambat. Beberapa sektor pengguna bahan bakar fosil terbesar di Indonesia adalah transportasi, industri dan pembangkit listrik.

Transisi dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik masih dalam tahap inisiasi. Selain itu, mayoritas industri nasional juga masih menggunakan bahan bakar fosil seperti batu bara dan solar. Sama halnya dengan PLN yang masih menggunakan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listrik utama.

Memasuki tahun 2020, sangat diharapkan agar pemerintah semakin menorong transisi ke teknologi berbasis energi terbarukan karena penggunaan teknologi berbasis energi terbarukan tidak hanya akan mengurangi pemanasan global tapi juga akan menjamin kestabilan pemakaian energi di masa depan. Untuk itu, kesadaran akan pentingnya energi terbarukan harus lebih gencar dipromosikan dan didukung oleh kita semua yang peduli dengan kelestarian lingkungan dan kondisi pemakain energi di masa depan.    

VIDEO PILIHAN