Mohon tunggu...
Ikhvani Wulandari
Ikhvani Wulandari Mohon Tunggu... Wiraswasta - a M o M

Master of Multitasking - wife, best friend & soulmate of M. Afifudin

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Alam & Tekno Pilihan

Negeri Surga yang Terabaikan

10 Agustus 2022   13:45 Diperbarui: 10 Agustus 2022   14:06 107 4 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilmu Alam dan Teknologi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Anthony

Negeri surga memang benar kiranya untuk menggambarkan Negara kita Indonesia. Bagaimana tidak? Indonesia adalah Negara algaris yang subur. Kita memiliki banyak lahan subur pertanian yang mencapai 26.300.000 hektar. Lahan subur agrikulkur yang sangat luas yaitu 68.300.000 hektar atau sekitar 33% dari luas daratan Indonesia.

Tanah kita ini kaya potensi yang bisa ditanami apa saja seperti padi, jagung, kopi, ubi-ubian, tebu, aneka rempah-rempah dan masih banyak lagi. Bahkan saking kayanya, membuat bangsa Eropa seperti Belanda, Protugis, Perancis, Inggris dan Sepanyol menjajah kita selama ratusan tahun. Karena secara geografis, Negara kita terletak pada daerah tropis yang memiliki curah hujan tinggi. Kondisi ini membuat beberapa jenis tanaman tumbuh subur di lahan kita.

Bagaimana tak kaya? kita contohkan saja salah satunya kakao. Kakao yang biasa digunakan bangsa Eropa untuk bahan pembuat coklat ini memiliki permintaan yang sangat besar di dunia. Nilai pangsar dunianya 30 milliar dollar. Dan Negara kita ini sangat ideal untuk ditanami kakao. Bayangkan jika kita mampu memaksimalkan produksi kakao. Ini baru satu jenis, sedangkan lahan kita tidak hanya dapat ditanami kakao saja. Bahkan banyak sekali jenis tanaman lainnya. Karena kondisi alam di Negara kita ini beriklim tropis yang membuat sinar matahari menyinari lahan pertanian sepanjang tahun. Tentu ini sangat mendukung tanah kita untuk dapat ditanami oleh berbagai jenis tanaman.

Sungguh sangat ironis jika sebuah Negara pemilik lahan pertanian yang sangat luas serta potensial dengan kondisi alamnya mendukung ini, bahkan untuk memenuhi kebutuhan komuditas bangsanya sendiri harus import dari Negara lain. Tahukah kamu jika beras yang kita makan, kedelai yang kita olah menjadi tempe tahu makanan favorit kita, bawang yang kita buat untuk masak setiap hari, bahkan sambel. Itu semua sumbernya bukan dari petani Indonesia.

Data dari kementrian menyebutkan bahwa Indonesia sejak tahun 2020 melakukan import seperti beras, kedelai, bawang, kentang, cabe, dsb.

Pasti dalam benak kita berpikir, dengan segala potensi yang ada lantas kenapa harus import?

Jawabannya karena produksi Indonesia ternyata tidak mencukupi kebutuhan bangsanya yang mencapai 270juta tersebut. Kita contohkan saja kedelai. Menurut menteri Pertanian bapak Syahrul Yasin Limpo, kebutuhan kedelai Indonesia mencapai 2-3 juta ton setiap tahun, sedangkan kemampuan kita hanya 300.000 ton setahun. Tentu jumlah yang sangat jauh sekali.

Data dari kementerian pertanian tahun 2010 luas lahan untuk pertanian kedelai mencapai 660 ribu hektar, sedangkan tahun 2019 data menyebutkan lahan pertanian kedelai menyusut menjadi 285 rb hektar. Setelah ditelusuri ternyata lahan yang digunakan tidak terlalu cocok, sebenarnya tidak terlalu jadi masalah karena bisa diantisipasi dengan perlakuan khusus terhadap lahan tersebut. Tapi karenanya petani justru membutuhkan biaya lebih untuk menghasilkan kedelai. Sehingga banyak dari mereka yang pindah komuditas atau justru menjual lahannya tersebut.

Contoh lain beras. Menurut data, gabah kita belum standart karena mengandung kadar air yang terlalu tinggi. Tapi tentu semua bisa dipelajari, kita bisa berkaca pada Vietnam. Salah satu negara pengeksport beras terbesar di dunia. Bahkan di tahun 2020/2021 Vietnam mampu mengalahkan Thailand.

Suksesnya Negara tersebut salah satu kuncinya karena Negara Vietnam selalu mau berinvestasi di bidang pertanian. Selain itu Vietnam juga bekerjasama dengan Negara lain untuk mengenjot riset, menciptakan teknologi perbenihan yang unggul, teknologi mesin yang ditingkatkan, dan sebagainya. Investasi dana besar untuk pertanian padi, serta kebijakan pemerintah yang mendukung dan mendorong penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sangat mempengaruhi kemajuan dalam pertanian di Vietnam.

Selain itu 80% penduduk Vietnam mayoritas menjadi petani dan produksi beras. Jumlah yang sangat besar jika dibandingkan dengan Indonesia. Minimnya minat pemuda untuk mau ikut andil dalam pertanian membuat Indonesia makin tertinggal. Kita bisa lihat data pemerintah 71% petani di Indonesia usianya lebih dari 45tahun, dan selalu menurun setiap tahun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Lihat Ilmu Alam & Tekno Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan