Mohon tunggu...
ivan hanafi
ivan hanafi Mohon Tunggu...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Pemahaman Tentang Cinta

23 Mei 2016   20:35 Diperbarui: 23 Mei 2016   21:08 67 0 0 Mohon Tunggu...

Cinta dalam semua pembahasan adalah sesuatu yang wajar. Termasuk dalam sains, filsafat bahkan agama. Cinta akan hadir dalam pembahasan tersebut karena aktor atau manusia yang membahasnya memang membutuhkan cinta. Cinta adalah kebutuhan yang primer dalam hidup manusia. Sebagai contoh menulis, dalam artikel ini saya pun mencintai cinta dan bentuk cinta adalah hubungan saya dengan artikel ini. Seperti halnya hubungan cinta antara Gus Mus dengan syair-syairnya dan lain sebagainya.

Cinta dalam bahasa arab berasal dari kata 'hubb' (حب) yang berarti sebuah kendi yang penuh dengan air. Secara filosofis, orang yang memiliki cinta tidak akan memiliki benci, karena antara cinta dan benci adalah hal yang berlawanan dan tidak bisa menempati tempat yang sama. Sebagai mana diceritakan oleh seorang wali wanita bernama Rabi'ah al-adawiyah bahwa dirinya sudah mabuk cinta kepada Allah dan tidak ada rasa benci sedikitpun kepada apapun termasuk setan yang menggoda melunturkan cintanya. Pemahaman ini dikiaskan pada kendi tadi, bahwa dalam kendi tersebut yang ada hanyalah air tanpa udara sedikitpun, dan sama bila hati itu penuh dengan cinta maka seharusnya tidak akan ada lagi rasa lain selain cinta itu tadi.

Dalam diri seseorang ada banyak sifat dan alat yang dapat digunakan untuk mencapai tujuannya. Salah satunya adalah nafsu (نفس), dalam al-Qur'an, nafsu memiliki tafsiran yang banyak, dapat ditafsirkan hati. Dapat ditafsirkan sebagai diri, jiwa, hati dan hawa nafsu. Tetapi dalam konteks ini nafs berarti hasrat atau hawa nafsu. Kata imam qhozali nafsu dianalogikan sebagai kuda liar, yang apabila dia dibunuh maka tidak ada kendaraan untuk mencapai tujuan, sedang bila tidak dijinakkan akan mempersulit pemiliknya. Dalam hal ini nafsu adalah alat untuk mencapai tujuan, dan lebih menjurus dalam agama nafsu diperlukan untuk mencapai Tuhan.

Cinta tidak dapat diartikan sebagai keadaan ketidak-adaan nafsu atau nafsu adalah kondisi ketidak-adaan sebagaimana penjelasan cahaya dan kegelapan. Cinta dan nafsu adalah hasil karya agung Allah untuk makhluknya bernama manusia. Sebagai entitas yang berbeda bahkan berlawanan satu sama lainnya. Cinta adalah suci suci putih dan nafsu identik dengan merah. Karena cinta selalu memancarkan ketenangan, kesucian, dan kedamaian. Sedangkan nafsu selalu menggelora dan menggoda pemiliknya untuk berbuat sedemikian rupa untuk mencapai targetnya.

Kerancauan dalam masa kini adalah tidak ada pembedaan dan kesadaran diantara cinta dan nafsu. Nafsu sering sekali disamarkan dengan cinta. Dan dengan penyamaran itu sendiri adalah sesuatu yang keji dan buruk, sebab mengatasnamakan sesuatu yang baik dan suci dengan sesuatu yang kotor dan buruk. Nafsu dalam hal ini adalah nafsu yang mengajak ke keburukan atau nafsu lawamah.

Cinta dalam tataran kehidupan duniawi adalah kosong atau tidak ada. Sebab sudah disamarkan oleh nafsu untuk mencapai tujuan-tujuan duniawi. Cinta yang sesungguhnya hanya cinta kepada Tuhan. Jika tidak memilikinya maka yang ada hanyalah nafsu. Cinta kepada dunia hakikatnya tidak ada, yang ada adalah nafsu kepada dunia. Jika cinta kepada Tuhan dimiliki setiap individu dan nafsu dapat dikekang dunia akan aman sentosa karena tebaran cinta kepada Tuhan termanifestasikan kepada seluruh alam. Dan bila nafsu kepada dunia terjadi setiap individu sebagaimana saat ini, yang terjadi adalah pukul memukul sesama manusianya.

Sejatinya cinta adalah yang dimiliki oleh para sufi. Meminjam apa yang ditulis oleh Alwi Syihab bahwa sebaik-baik pendamping adalaj yang tidak mengharapkan balasan. Oleh para sufi cinta hal demikian telah disadari bahwa Allah menciptakan semua alam dan isinya teruntuk hambaNya dan Allah tidak mengharap sedikitpun balasan kepadaNya dalam bentuk apapun. Cinta sufi ini ibarat ikan dilaut yang meskipun air laut asin namun ikan tidak ikut asin karenanya. Sufi yang hidup didunia tidak ikut menyimpan dunia dalam hatinya, tetapi dunia hanya sebagai instrumen untuk menggapai cinyaNya sebagaimana ikan yang menggunakan air laut untuk dihidupnya.

Seorang sufi boleh dan sah memiliki harta dan kekayaan yang berlimpah tetapi harta dan kekayaanya hanya tidak sampai dihati. Harta dan kekayaan hanya sebagai sarana menggapai cintaNya yang Maha Agung. Sebagai mana Abu Hasan Asy Syadily yang pernah ditanya oleh seorang sufi,

"wahai Abu Hasan, engkau ini seorang Mursyid, orang sufi terpandang dan pengikutmu banyak tetapi mengapa engkau tidak memberi contoh yang baik, lihatlah kuda mu bagus, rumahmu bagai istana, baju yang engkau kenakan dari kain yang paling mahal. Engkau ini bagaimana syech ?"

Tanpa banyak menjawab Abu Hasan Asy Syadily menjawab dengan jawaban yang singkat dan jelas "wahai sufi, meskipun bajuku mewah, sawahku terbentang, rumah dan kuda putihku mewah pula, itu semua tidak sedikitpun masuk didalam hatiku. Srmua kekayaan ini adalah milik Allah. Sufi itu adalah hati bukan hidup zuhud".

Dan dengan penjelasan contoh kisah tersebut nampak jelas bahwa nafsu mendorong manusia untuk memiliki apapun. Bahkan yang belum dipunyaipun dimasukkannya ke dalam hatinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x